• Beranda

Ahyadin rite ambalawi

  • Blogger
    • Download Template
    • Panduan Blog
    • Trik Mudah SEO
    • Widget
  • Edukasi
    • Buku BSE
    • Info PPDB
    • Makalah
    • Pantun
    • Puisi
  • Game
    • Arcade
    • Batle
    • Racing
    • Sport
  • Cheat
  • TOOL
    • Compress CSS
    • Kode Warna
  • Error
Home » Unlabelled » Sejarah perjuangan Islam
Jumat, 06 Maret 2020

Sejarah perjuangan Islam

Ahyadin rite ambalawi
Jumat, 06 Maret 2020
add comment
               MAKALAH
 
SEJARAH PERADABAN ISLAM
TENTANG
SEJARAH PERJUANGAN ISLAM
 









Oleh :
Adhar
“Makalah ini Diajukan Kepada Dosen Pengampu
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Nilai Tugas
Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu:
Jainuddin, M.Hum

JURUSAN AHWAL AL-SYAKHSHIYAH
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH
BIMA
2018





KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul ” sejarah perjuangan islam”. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini kami susun agar pembaca terutama teman-teman Hukum Keluarga dapat menciptakan suatu pemahaman tentang Perkembangan pemikiran. Walaupun makalah ini kurang sempurna dan memerlukan perbaikan tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing yang telah memberikan kesempatan sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan sebaik mungkin meskipun banyak kekurangan didalamnya, untuk itu penyusun mohon adanya kritik dan saran agar dapat memperbaiki makalah yang akan datang. ,



















BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Banyak diantara umat manusia yang mengaku agama Islam tapi tidak pernah tahu akan Islam, tidak pernah tahu bagaimana Islam, bahkan seperti apa Islam itu berkembang. Bahkan dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat di mulainya sejarah Islam. Sehingga sungguh naif bila belum sama sekali mampu untuk menguraikan secara terperinci bagaimana Islam itu sebenarnya mulai dari awal terbentuknya hingga pada masa peradabannya dimana Islam mendapat kejayaan dan kebanggaannya sebagai agama bawaan Nabi Muhammad saw.Pada pembahahsan pemaparan dan penulisan ini akan mengarah kepada yang lebih mendasar,  yakni tentang identitas paradaban Islam itu sendiri dan sejarah peradaban Islam. Sehingga pada akhirnya memiliki bekal mendasar tentang pradaban Islam itu sendiri dan bagaimanakah pandangan mereka (bangsa Barat) tentang kebudayaan dan peradaban Islam.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Studi Sejarah Perjuangan Islam?
2.      Bagaimana Periodesasi Sejarah perjuangan Islam?
3.      Seperti Apa perjuangan Islam Masa Rasulullah Saw Dan Sahabat?
4.      Seperti Apa perjuangan Islam Masa Umayyah Dan Abbasiyah?
5.      Bagaimana perjuangan Islam Masa Tiga Kerajaan Besar?
6.      Bagaimana Perjuangan islam di indonesia?
7.      Bagaimana Perjuangan islam di andalusia?
8.      Bagaimana perjuangan Islam Masa Modern ?








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Studi Sejarah Peradaban Islam
Sejarah berasal dari bahasa arab “syajaratun” , artinya pohon. Secara sistematik, sejarah sama seperti pohon yang mempunyai cabang dan ranting, bermula dari bibit, kemudian tumbuh dan berkembang, lalu layu dan tumbang. Sejarah dalam dunia barat disebut “histoire” (Perancis), historie ( Belanda ), dan history ( Inggris ), berasal dari Yunani, istoria yang berarti ilmu.
Menurut definisi umum, kata history berarti “masa lampau umat manusia”. Dalam pengertian lain, sejarah adalah catatam berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan demikian sejarah peradaban islam adalah keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan peradaban islam dari satu waktu ke waktu lain, sejak zaman lahirnya islam sampai sekarang.
Sedangkan Periodisasi peradaban Islam merupakan ciri bagi ilmu sejarah yang mengkaji peristiwa dalam konteks waktu dan tempat dengan tolak ukur yang bermacam-macam. Menurut Prof. Dr. H.N. Shiddiqi, ada beberapa pendapat lain yaitu tolak ukurnya adalah sistem politik, hal ini biasanya digunakan pada sejarah konvensional. Tolak ukurnya pada persoalan ekonomi (maju mundurnya ekonomi) dalam sebuh negara. Peradaban dan kebudayaan suatu bangsa adalah  pada masuk dan berkembangnya suatu agama.
Jadi, periodisasi peradaban islam adalah ilmu sejarah atau pembabakan sejarah yang mengkaji perkembangan peradaban Islam dalam konteks dan tempat dengan tolak ukur tertentu.

B.     Periodesasi sejarah peradaban islam
Dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat dimulainya sejarah islam. Secara umum perbedaan tersebut dapat di bedakan menjadi dua :
1.      Sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah islam dimulai  sejak Nabi Mukhamad SAW  diangkat menjadi rasul, oleh karena itu  pendapat ini , selama 13 tahun nabi tinggal di Mekkah telah  lahir masyarakat muslim  meskipun belum berdaulat.
2.      Sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah  umat islam dimulai sejak nabi Mukhamad SAW hijrah ke madinah karena masyarakat muslim baru  berdaulat  ketika  nabi tinggal dimadinah , tidak hanya sebagai rasul , tetapi merangkak sebagai pemimpin atau kepala negara berdasarkan konstitusi yang disebut piagam Madinah.
Disamping perbedaan mengenai awal sejarah umat islam, sejarawan juga berbeda dalam menentukan  fase- fase atau periodesasi  sejarah islam. Menurut A. Hasymy ( 1978 : 58 ),  periodesasi sejarah islam adalah sebagai berikut :
1.      Permulaan Islam ( 610 -661 M )
2.      Daulah Ammawiyah ( 661 – 750 M )
3.      Daulah Abbasiyah  I ( 750 – 847 M )
4.      Daulah Abbasiyah II (  847 – 946 M )
5.      Daulah Abbasiyah III ( 946 – 1075 M )
6.      Daulah Mughal ( 1261 – 1520 M )
7.      Daulah Utsmaniyah ( 1520 – 1801 M )
8.      Kebangkitan ( 1801 – sekarang )

C.     Peradaban Islam Masa Rasulullah SAW Dan Sahabat
Kondisi bangsa arab sebelum kedatangan islam, terutama di sekitar Mekah masih diwarnai dengan penyembahan berhala sebagai Tuhan. Yang dikenal dengan istilah paganisme. Selain menyembah berhala, di kalangan bangsa Arab ada pula yang menyembah agama Masehi(Nasrani), agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Di samping itu juga agama Yahudi yang dipeluk oleh penduduk Yahudi imigran di Yaman dan Madinah, serta agama Majusi, yaitu agama orang-orang persia.
Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau 20 April 571 M. Ketika itu Raja Yaman Abrahah dengan gajahnya menyerbu Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Sehingga tahun itu dinamakan Tahun Gajah. Beliau telah menjadi yatim piatu ketika berumur delapan tahun, dan beliau diasuh oleh kakek dan pamannya, Abdul Muthalib dan Abu Thalib. Pada umur 12 tahun Nabi Muhammad sudah mengenal perdagangan, sebeb pada saat itu beliau telah diajak berdagang oleh paman beliau, Abu Thalib ke Negeri Syam. Dari pengalamannya berdagang, maka setelah beranjak dewasa, beliau ingin berusaha berdagang dengan membawa barang dagangan Khadijah, seorang saudagar wanita yang pada akhirnya menjadi istri beliau.
Fase kenabian Nabi Muhammad dimulai ketika beliau bertahannus atau menyepi di Gua Hira, sebagai imbas keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa Arab yang menyembah berhala. Di tempat inilah beliau menerima wahyu yang pertama, yang berupa surat Al-‘Alaq 1-5.
Artinya:Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dengan wahyu yang pertama ini, maka beliau telah diangkat menjadi Nabi, utusan Allah. Pada saat itu, Nabi Muhammad belum diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya, namun setelah turun wahyu kedua, yaitu surat Al-Mudatsir ayat 1-7, Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul yang harus berdakwah. Dalam hal ini dakwah Nabi Muhammad dibagi menjadi dua periode, yaitu :
1.      Periode Mekah, ciri pokok dari periode ini adalah pembinaan dan pendidikan tauhid(dalam arti luas)
2.      Periode Madinah, ciri pokok dari periode ini adalah pendidikan sosial dan politik(dalam arti luas)
3.      Periode Mekah
Pada periode ini, tiga tahun pertama dakwah islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri, yaitu Khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bekas budak beliau.  Di samping itu, juga banyak orang yang masuk islam dengan perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun(orang-orang yang lebih dahulu masuk islam), mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahmanbin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarhah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah(rumah Arqam). Kemudian setelah turun ayat 94 Surah Al-Hijr, nabi Muhammad saw memulai dakwah secara-terang-terangan.
Dalam menyebarkan agama islam, Nabi Muhammad melakukannya dengan tiga cara, yaitu:
1.      Rahasia. Pada tahapan ini Nabi menyempaikannya hanya pada kalangan keluarganya sendiri dan teman dekatnya.
2.      Semi Rahasia. Beliau menyebarkan Agama Islam dalam ryang lingkup yang lebih luas, termasuk Bani Muthalib dan Bani Hasyim.
3.      Terang-Terangan(Demonstratif). Nabi dalam berdakwah secara terang-terangan ke segenap lapisan masyarakat, baik kaum bangsawan maupun hamba sahaya.

D.    Peradaban Islam Masa Umayyah Dan Abbasiyah
1.      Pada Masa Bani Umayyah



Setelah Ali terbunuh, kepemimpinan dilanjutkan oleh bani Umayyah, didirikan








oleh Muawiyah berumur kurang lebih 90 tahun dan pada zaman ini , ekspansi yang terhenti pada zaman  kedua khalifah terakhir dilanjutkan kembali.khalifah besar bani umayyah adalah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan ( 661 – 680 M ), Abd Al- Malik Ibn Marwan ( 685 – 705 M ), Al- Walid Ibn Abd Al- Malik ( 705– 715 M ), Umar Ibn Al- Aziz ( 717 – 720 M ), Dan Hisyam Ibn Abd Al- Malik ( 724 – 743 M ).
Pada zaman Muawiyah , Uqbah Ibn Nafi’ menguasai Tunisia tahun 670 M. Ia didirikan kota Qairawan yang kemudian menjadi salah satu  pusat kebudayaan islam. Di sebelah timur muawiyah memperoleh daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afghanistan sampai ke kabul.  Ekspansi ke timur diteruskan pada zaman Abd Al- Malik dibawah pimpinan Al- Hajjaj Ibn Yusuf. Tentara yang dikirimnya menyembrangi sungai Oxus dan dapat menundukan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, dan Samarkand. Tentaranya juga samapi ke india dapat menguasai Balukhistan, Sind, daerah Punjab sampai ke Multan. E kpansi ke barat terjadi di zaman Al walid. Musa bin Nusyair menyerang jazair dan Maroko dan dapat menundukanya. Tentara Spanyol dibawah pimpinan raja Roderick di kalahkan, ibukota Toledo jatuh, demikian kota lainya seperi Sevile, Malaga, Elvire, dan Cordova  kemudian menjadi ibu kota Spanyol Islam ( Al- Andalus ).
Perluasan selanjutnya adalah prancis, melalui pengunungan Piranee, dilakukan oleh Abd Ar- Rahman Ibn Abdullah Al- Ghafiqi, pada zaman umar bin abd aziz.  Daerah – daerah yang dikuasai islam pada zaman dinasti ini adalah spanyol, Afrika Utara, Suria, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian dari Asia kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut  Pakistan, Rurkmenia, Uzbek, Dan Kirgis ( diasia tengah ). Ekspansi yang dilakukan bani umayah inilah yang membuat islam menjadi Negara besar dizaman itu.
Dari persatuan bangsa dibawah naungan islam, timbulah benih- benih kebudayaan dan peradaban islam baru, Bani umayyah lebih banyak memusatkan perhatian kepda kebudayaan Arab.  Diantaranya perubahan bahasa administrasi dari bahasa yunani dan bahasa Pahlawi kebahasa arab dimulai oleh Abd Malik. Inilah yang mendorong sibaweh untuk menyusun kitab, yang selanjutnya menjadi pegangan dalam soal tata bahasa arab, syair- syair baru pun bermunculan seperti, Umar Ibn  Abi Rabi’ah ( w. 719 ), Jamil Al- Udhari ( w. 701 M), perhatian pada ilmu kalam, hadits, tafsir,fiqih, semakin besar pada zaman ini.
Abd Al –Malik juga mengubah mata uang yang dipakai di daerah – daerah yang dikuasai islam. Sebelumnya yang dipakai adalah mata uang Bizantium dan Persia seperti Dinar dan Dirham . Sebagai ganti dalam mata uang asing ini , beliau mencetak uang sendiri tahun 659 M, dengan memakai kata- kata dan tulisan arab, Dinar dibuat dari emas dan dirham dibuat dari perak.
Bentuk peradaban lain adalah dalam bentuk masjid-masjid. Masjid pertama di luar semenanjung arabia juga dibangun pada zaman dinasti umayyah . Katedral St. John di damaskus diubah menjadi masjid. Di Al- Quds ( yerusalem ), Abd Malik membangun masjid Aqsa.
Pada zaman dinasti bani  umayyah inilah masjid Cordova juga dibangun, masjid mekkah dan madinah diperbaiki dan diperbesar oleh Abd Al- Malik dan Al – WalidDinasti umyyah juga mendirikan istana – istana untuk tempat beristirahat di padang pasir, seperti Qusayr Amrah dan Al- Mushatta. Demikianlah fase sejarah peradaban islam yang dibuat oleh dinasti bani umayah . Kekuasaan dan kejayaan mencapai puncaknya pada zaman al- Walid I. Sesudah itu, kekuasaan mereka menurun dan akhirnya dipatahkan oleh bani Abbasiyah pada tahun  750 M .
2.      Pada Masa Bani Abbasiyah





Meskipun Abu Al- Abbasiyah  ( 750 – 754 M ), yang mendirikan dinasti ini, orang dibelakang  yang  berperan  penting  ialah  Al- Mansur ( 754 – 775 M ). Sebagai khalifah yang baru , ia banyak berhadapan dengan musuh – musuh menjatuhkanya terutama golongan Bani Umayah, golongan khawarij, bahkan kaum syi’ah.  Al- Mansur merasa kurang aman ditengah – tengah arab maka ia mmendirikan ibu kota baru sebagai ganti damaskus, yaitu Baghdad.Dalam bidang pemerintahan Al- Mansur mengadakan tradisi baru dengan mengangkat wazir yang membawahi kepala- kepala departemen


Al- Mahdi ( 775 – 785 M ), menggantikan khalifah Al- Mansur sebagai khalifah, dan dimasa pemerintahanya perekonomian mulai meningkat .Demikian pula dagang transit antara timur dan Barat juga membawa kekayaaan. Basrah menjadi pelabuhan yang penting.
Pada zaman Harun Al- Rasyid ( 785- 809 M ), Kekayaan yang banyak , dipergunakan al –rasyid   untuk keperluan social. Rumah sakit didirikan, pendidikan dokter di pentingkan, dan farmasi dibangun. Di ceritakan dibaghdad mempunyai 800 dokter. Harun Al- Rasyid adalah raja besar pada zaman itu .  Pada masa dinasti abasiyah inilah, perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat yunani memuncak, terutama pada zaman Harun Ar- Rasyid dan Al- Ma’mun. Buku- buku ilmu pengetahuan dan filsafat didatangkan dari Bizantium, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab. Bait Al hikmah bukan hanya pusat penerjemahan tetapi juga akademi yang mempunyai perpustakaan. Cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan bait al hikmah ialah ilmu kedokteran, matematika, optika, fisika, astronomi, dan sejarah disamping filsafat.
Ringkasnya , periode ini adalah periode yang tertinggi dan mempunyai pengaruh, sungguh pun tidak secara langsung.
E.     Peradaban Islam Masa Tiga Kerajaan Besar
1. Kerajaan Turki Utsmani
            Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara Negeri Cina. Sebuah kelompok muslim dibawah pimpinan Ertoghrul yang mengabdikan diri kepada Sultan Dinasti Saljuk Rum di dataran tinggi Asia Kecil, yakni Sultan Alauddin II yang saat itu sedang berperang melawan Bizantium. Atas jasa baik Ertoghrul yang akhirnya membuat kemenangan perang bagi Sultan Alauddin II, maka Sultan Alauddin II menghadiahi sebidang tanah kecil kepada Ertoghrul. Yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah ibu kota yang diberi nama Syukud.
            Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, yaitu Utsman bin Ertoghrul bin Sulaiman Syah bin Kia Alp,[1] di bawah Sultan Alauddin II hingga 1300 M. Kemudian Bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alauddin II terbunuh, mengakibatkan terpecahnya kerajaan Saljuk menjadi beberapa kerajaan kecil. Utsman pun menyatakan kemerdekaan penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Turki Utsmani dinyatakan berdiri. Pemimpin pertamanya adalah Utsman yang sering juga disebut Utsman I bergelar Padisyah al-Utsman.
            Ekspansi besar-besaran dilakukan Utsman I ketika masa pemerintahannya antara tahun 1290 M  hingga 1326 M. Ketika Utsman I meninggal dunia, maka misi ekspansi wilayah dilanjutkan oleh pemimpin-pemimpin selanjutnya. Namun, ketika masa pemerintahan Sultan Bayazid I ekspansi kerajaan Turki Utsmani sempat terhenti beberapa lama ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel. Serangan tak terduga kepada kerajaan Turki Utsmani dilakukan oleh tentara Mongol yang kala itu dipimpin oleh Timur Lenk, pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M dan menewaskan Sultan Bayazid I bersama putranya dalam tawanan pada tahun 1403 M.
            Kerajaan Turki Utsamani mencapai kegemilangannya pada saat kerajaan ini dapat menaklukkan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di Bizantium, yaitu Konstantinopel. Sultan Muhammad II yang bergelar al-Fatih (1415-1484 M) dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada 28 Mei tahun 1453 M dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, kemudian menjadikannya sebagai ibukota. Sultan Muhammad II mengubah gereja Aya Sophia menjadi sebuah masjid yang megah tempat ibadah penduduk muslim.
            Kerajaan Turki Utsmani yang memerintah hampir tujuh abad lamanya (1299-1924 M), dan diperintah oleh 38 Sultan. Mereka itu adalah :
1.      Utsman I (1299-1326 M)
2.      Orkhan (Putra Utsman I) (1326-1359 M)
3.      Murad (Putra Orkhan) (1359-1389 M)
4.      Bayazid I (Putra Murad I) (1389-1402 M)
5.      Muhammad I (Putra Bayazid I) (1403-1421 M)
6.      Murad II (Putra Muhammad I) (1421-1451 M)
7.      Muhammad II al Fatih (Putra Murad II) (1451-1481 M)
8.      Bayazid II (Putra Muhammad II) (1481-1512 M)
9.      Salim I (Putra Bayazid II) (1512-1520 M)
10.  Sulaiman I al Qanuni (Putra Salim I) (1520-1566 M)
11.  Salim II (Putra Sulaiman I) (1566-1573 M)
12.  Murad II (Putra Salim II) (1573-1596 M)
13.  Muhammad II (Putra Murad III) (1596-1603 M)
14.  Ahmad I (Putra Muhammad III) (1603-1617 M)
15.  Mustafa I (Putra Muhammad III) (1617-1618 M)
16.  Suman I (Putra Ahmad III) (1618-1622 M)
17.  Murad I (Yang kedua kalinya) (1622-1623 M)
18.  Murad IV (Putra Ahmad I) (1623-1640 M)
19.  Ibrahim I (Putra Ahmad I) (1640-1648 M)
20.  Muhammad II (Putra Ibrahim I) (1648-1687 M)
21.  Sulaiman I (Putra Ibrahim I) (1687-1691 M)
22.  Ahmad II (Putra Ibrahim I) (1691-1695 M)
23.  Mustafa II (Putra Muhammad IV) (1695-1703 M)
24.  Ahmad II (Putra Muhammad IV) (1703-1730 M)
25.  Mahmud I (Putra Mustafa II) (1730-1754 M)
26.  Utsman III (Putra Mustafa II) (1754-1757 M)
27.  Mustafa III (Putra Ahmad III) (1757-1774 M)
28.  Abdul Hamid I (Putra Ahmad III) (1774-1788 M)
29.  Salim III (Putra Mustafa III) (1789-1807 M)
30.  Mustafa IV (Putra Abdul Hamid I) (1807-1808 M)
31.  Mahmud II (Putra Abdul Hamid I) (1808-1839 M )
32.  Abdul Majid (Putra Mahmud II) (--)
33.  Abdul Aziz (Putra Mahmud II) (  -1861 M)
34.  Murad V (Putra Abdul Majid I) (1861-1876 M)
35.  Abdul Hamid II (Putra Abdul Majid I) (1876-1909 M)
36.  Muhammad VI (Putra Abdul Majid I) (1909-1918 M)
37.  Muhammad VI (Putra Abdul Majid I) (1918-1922 M)
38.  Abdul Majid II (1922-1924 M)
            Kejayaan Turki Utsmani terjadi pada abad ke-16, ketika wilayah yang dimiliki Dinasti Turki Utsmani membentang dari Selat Persia di Asia sampai ke pintu gerbang Kota Wina di Eropa dan dari laut Gaspienne di Asia sampai ke Aljazair di Afrika Barat.
2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan Turki Utsmani
a.  Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
            Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur pada masa pemerintahan Sultan Orkhan (1336-1359 M) mengadakan perombakan dalam tubuh organisasi militer dalam bentuk mutasi personel pimpinan dan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariyah.
            Keberhasilan ekspansi wilayah oleh militer kerajaan Turki Utsmani tersebut dibarengi pula dengan terciptanya susunan pemerintahan yang teratur. Sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh  Shadr al-A’zham (perdana menteri) yang membawahi Pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Dibantu oleh beberapa orang Az-Zanaziq atau Al-Alawiyah (bupati). Dan pengadilan tertinggi dipegang oleh seorang Mufti.
            Untuk mengatur urusan pemerintahan pada masa Sultan Sulaiman I disusunlah sebuah kitab Undang-Undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani. Karena jasa besar Sultan Sulaiman I ini, maka dia digelari al-Qanun.
b.  Bidang Ilmu Pengetahuan
            Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tampak tidak begitu menonjol.
c.       Bidang Kebudayaan
            Dalam bidang kebudayaan, Kerajaan Turki Utsmani telah melahirkan tokoh-tokoh terkenal pada abad ke-16, 17, dan 18. Antara lain penyair yang bernama Nafi’ (1528-1636 M) dan Muhammad Esat Efendi atau Galip Dede (1757-1799 M), penulis yang membawa pengaruh Persia yakni Yusuf Nabi (1642-1712 M). Kemudian dalam bidang sastra Turki Utsmani memunculkan dua tokoh terkemuka, yaitu Katip Celebi dan Evliya Celebi.
            Adapun dalam bidang arsitektur bangunan. Turki Utsmani begitu berpengaruh di Turki seperti arsitek dalam bangunan-bangunan masjid yang indah Masjid Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sultan Sulaiman, dan Masjid Aya Sophia.
3.   Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Turki Utsmani
            Pada akhir kekuasaan Sulaiman al-Qanuni I kerajaan Turki Utsmani berada di tengah-tengah dua kekuatan monarki Austria di Eropa dan kerajaan Safawiyah di Asia. Melemahnya kerajaan Turki Utsmani setelah wafatnya Sultan Sulaiman I dan digantikan oleh Sultan Salim II membuat kerajaan Turki Utsmani pada abad ke-19 mengalami kemunduran yang sangat tajam.
            Munculnya berbagai macam pemberontakan, banyaknya daerah yang mulai memisahkan diri dan mendirikan pemerintahan otonom yang merdeka, serta bangkitnya Mesir dibawah pimpinan Ali Bey. Membuat kerajaan Turki Utsmani benar-benar mengalami masa kemunduran.
            Berikut dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemunduran kerajaan Turki Utsmani :
a.      Faktor Internal
a.       Luasnya wilayah kekuasaan dan buruknya sistem pemerintahan, kurangnya keadilan serta korupsi yang merajalela.
b.      Heterogenitas penduduk dan agama, yang tidak sesuai dengan landasan kerajaan Turki Utsmani sebagai negara militer.
c.       Kehidupan para penguasa yang suka bermewah-mewahan.
d.      Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang berlangsung berabad-abad lamanya.
b.   Faktor Eksternal
a.    Timbulnya gerakan nasionalisme di kalangan bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan Turki Utsmani.
b.    Melemahnya militer kerajaan Turki Utsmani dikarenakan ketidak tersediaannya persenjataan yang lengkap.
2.  Kerajaan Safawi di Persia
1.  Kerajaan Safawi
            Ketika kerajaan Utsmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.
            Berbeda dari dua kerajaan besar Islam lainnya (Utsmani dan Mughal), kerajaan Safawi menyatakan Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawi diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama tersebut terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.
            Dalam kecenderungan memasuki dunia politik dan perluasan politik keagamaan, kerajaan Safawi mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), dalam konflik tersebut Juneid kalah dan diasingkan kesuatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapatkan perlindungan dari Diyar Bakr, Al-Koyunlu (domba putih) yang dinggal di istana Uzun Hasan. Kemudian ia beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan, ia juga mempersunting saudara perempuan Uzun Hasan. Pada saat ia mencoba merebut Sircassia (1460 M), ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
            Ketika itu anak Juneid, Haidar, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri kerajaan safawi di Persia. Gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh Al Koyunlu. Padahal, Safawi adalah sekutu dari Koyunlu. Ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasuka Sirwan, Al Koyunlu mengirim bantuan militer kepada Sirwan sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
            Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentara untuk menuntut balas atas kematian ayahnya terutama terhadap Al Koyunlu. Tetapi Ya’kub pemimpin  Al Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan ali bersama saudaranya, Ibrahim, Ismail, dan Ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra makhota Al Koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat dikalahan. Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan ini (1494 M).
            Kepemimpinan gerakan safawi, selanjutnya berada ditangan Ismail. Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash (pasukan baret merah) menyerang dan mengalahkan Al Koyunlu di Sharur dan memasuki serta menaklukkan Tabriz, ibukota Al Koyunlu, di Kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi. Ia juga disebut Ismail I.
       Ismail I berkuasa selama 23 tahun, sepuluh tahun pertama ia dapat meluaskan wilayah kekuasaan ke berbagai daerah. Pada tahun 1503 M. Ia berhasil menghancurkan sisa-sisa kekuatan Al-Koyunlu di Hamadan. Tahun 1504 M ia menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd. Tahun 1505-1507 M. Ia menguasai Diyar Bakr. Tahun 1508 M, menguasai Baghdad dan daerah barat daya Persia. Tahun 1509 M, menguasai Sirwan. Tahun 1510 M, mengalahkan Syaibak Khan, keturunan Jenghis Khan, dan menguasai Khurasan, Heart dan Merv. Dalam tempo sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Persia dan bagian Timur Bulan Sabit Subur ( Fertile Crescent) yaitu wilayah di Asia membentang dari laut Tengah melalui daerah antara sungai Tigris dan sungai Eufrat hingga teluk Persia.
            Peperangan  dengan Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz. Ismail menjumpai saingan saingan kepala batu yaitu Sultan Salim I dari Turki. Peperangan ini, berasal dari kebencian Salim dan pengejaran terhadap seluruh umat muslim di Syi’ah di daerah kekuasaannya. Fanatisme Sultan Salim memaksanya untuk membunuh 40.000 orang yang didakwah setelah mengingkari ajaran-ajaran sunni. Dalam peperangan ini Ismail mengalami kekalahan. Namun, kerajaan Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani ke Turki karena trejadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.
            Peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam keadaan lemah.
            Kondisi memperihatinkan ini baru bisa di atasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M.[9] langkah-langkah-langkah yang di tempuh Abbas I dalam rangka memulihkan politik kerajaan Safawi adalah :
a.       Mengadakan pembenahan administrasi dengan cara pengaturan dan pengontrolan dari pusat.
b.      Pemindahan ibukota ke Isfahan.
c.       Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qiziblash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang aggotanya terdiri atas budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak Raja Tamh I.
d.      Mengadakan perjanjian perdamaian dengan Turki Utsmani.
e.       Berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pada khotbah Jum’at.
            Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali. Setelah itu Abbas I muai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1602 M, pasukan Abbas I berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Baghdad, sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai  tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan merubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.
2.      Kemajuan-kemajuan Kerajaan Safawi
            Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia berhasil mengatasi gejolak politik yang mengganggu stabilitas negara, dan sekaligus ia berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang sebelumnya lepas tersebut oleh kerajaan Utsmani. Berikut kemajuan-kemajuan yang ditorehkan selama Abbas I memegang kekuasaan kerajaan Safawi :
a.      Bidang Ekonomi
            Bukti nyata perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya Kepulauan Hurmusz dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I. Maka salah satu jalur dagang menghubungkan antara Timur dan Barat sepenuhnya menjadi pemilik kerajaan safawi. Disamping di sektor perdagangan, kerajaan safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortille crescent).
b.      Bidang Ilmu Pengentahuan
            Bangsa persia dalam sejarah islam dianggap berjasa besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Maka tidak mengherankan apabila kondisi tersebut terus berlanjut, sehingga muncul ilmuan seperti Baha al-Din Asy-syaerozi, Sadar al-Din  Asy-Syaerozi, Muhammad al-Baqir al-Din ibn Muhammad Damad, masing-masing ilmuan di bidang filasafat, sejarah, teologi, dan ilmu umum.
c.       Bidang seni
            Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah ibukota kerajaan ini, sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang di atas Zende Rud dan istana Chihilsutun kota Isfahan turut diperindah dengan kebun wisata.
3.      Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
            Sepeninggal  Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut di perintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman ( 1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmaps II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). Pada masa-masa raja tersebut, kondisi kerajaan safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang tetapi malah memperlihatkan kemunduranyang akhirnya membawa kepada kehancuran.
            Pada saat kedudukan Sulaiman digantikan oleh Shah Husain. Para ulama  Syi’ah mendapatkan kekuasaan dan sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afganistan sehingga mereka memberontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.
            Selain itu diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik berkepanjangan dengan kerajaan Turki Utsmani. ketika mencapai kedamaian pada masa Abbas I, tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut dan tidak ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar islam itu.
            Sebab lainnya yaitu dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi. Seperti Sulaiman yang pecandu berat narkotika serta kehidupan malamnya. Begitu pula degan Sultan Husein.
            Penyebab penting lainnya yaitu karena pasukan Gulham tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.
3.     Kerajaan Mughal di India
1. Kerajaan Mughal
            Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur yang lahir pada tanggal 24 Februari 1483 M. Ayahnya beranama Umar Syaikh Mirza keturunan kelima Timur Lenk, seorang Amir Fargana. Sedangkan Ibunya adalah seorang putri keturunan langsung Jakutai putra Jengkis Khan. Pada tahun 1494 M, ayahnya wafat dan usianya ketika itu baru 12 tahun. Babur kemudian diangkat menjadi penguasa farghana menggantikan ayahnya yang telah wafat. Meskipun masih relatif muda, Babur telah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang tangguh. Ambisi dan cita-citanya untuk menjadi penguasa Delhi tampaknya diilhami oleh kebesaran kakeknya yaitu Timur Lenk.
            India menjadi wilayah Islam pada masa Umayyah, yakni pada masa khalifah al-Walid. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh pasukan Umayyahyang dipimpin oleh panglima Muhammad ibn Qasim. Kemudian pasukan Ghaznawiyah di bawah pimpinan Sultan Mahmud mengembangan Islam di wilayah wilayah ini dengan berhasil menaklukan seluruh kekuasaan Hindu dan mengadakan pengislaman sebagian masyarakat India pada tahun 1020 M. Setelah Ghaznawi hancur, munculah beberapa dinasti kecil yang menguasai negeri India, seperti dinasti Khalji (1296-1316M.),  dinasti Tuglag (1320-1412M.) dinasti Sayyid (1414-1451M.), dinasti Lodi (1451-1526.).
            Kerajaan Mongol dan Mughal di India memiliki kerterkaitan, karena sama-sama didirikan oleh bangsa mongol dan keturunannya. Sedangkan pengambilan nama Mughal adalah dari nama kebesaran bangsa Mongol.
2.       Kemajuan-kemajuan Kerajaan Mughal
            Kemenangan yang dicapai oleh Babur merupakan ancaman bagi para Raja Hindu di anak benua India. Oleh karena itu, Babur dimana kepemimpinannya lebih banyak melakukan konsolidasi ke dalam untuk memperkuat pasukannya dalam menghadapi berbagai emungkinan serangan dari mereka dan disamping itu juga berusaha memperluas wilayah kekuasaannya.
            Babur tidak lama untuk menikmati hasil-hasil kemenangannya. Dia meninggal dunia pada tanggal 26 Desember.
            Sepeninggal Babur, pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Humayun. Selama roda kepemimpinannya, kondisi pemerintahan tidak pernah stabil. Selain banyak menghadapi pepperangan, ia harus menghadapi gerakan pemberontak Bahadur Syah penguasa gujarat dan pertempuran besar dengan Sher Khan di Kanuj pada tahun 1540 M. Kemudian pada tahun 1556 M., Humayun meninggal.
            Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Akbar (1556-1603 M.). kalau kita melihat kondisi sosio-historis menjelang pemerintahan Akbar ini ternyata hindu-astrologi, kasta dan sihir sudah mendarah daging. Dalam pemerintahan militeristik, Akbar adalah penguasa diktator. Akbar juga menerapkan politik Sulakhul (toleransi universal). Dengan demikian, tida ada perbedaan antar etnis dan agama.
            Di dalam masalah agama, Akbar mempunyai pandangan liberal dan ingin mempersatuan semua agama dalam satu agama yang diberi nama Din Illahi. Sebagaimana namanya  Akbar yang berarti agung atau besar, Akbar telah membuktikan usahanya yang luar biasa besarnya. Selain memakmurkan rakyat dengan menghilangkan segala bentuk pajak, dia juga meluaskan perekonomian dalam segala cabangnya, dan memperbesar perdagangan dengan luar negeri.
            Kemajuan yang dicapai Akbar masih dapat dipertahankan oleh 3 Sultan berikutnya, yaitu Jehangir (1605-1628 M.), Syah Jehan (1628-1658 M.), dan Aurangzeb (1658-1707 M.).
Diantara kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai pada masa mughal adalah:
a.      Bidang Politik
            Sekalipun dalam pemerintahan kerajaan Mughal banyak diwarnai perebutan kekuasaan, namun secara keseluruhan dari pemerintahannya masih dapat terkendali, terutama pada masa Akbar. Hal itu disebabkan, para penguasa Mugha; menerapkan sistem militeristik dalam rangka mempertahankan wilayahnya.
b.      Bidang Ekonomi
            Di bidang ekonomi, sektor pertanian menjadi bagian terpenting selain perdagangan, pajak dan prindustrian. Dalam mengatur sektor pertanian, pemerintahan menerappkan sistem hubungan petani berdasarkan lahan pertanian.
c.       Bidang Seni dan Arsitektur
            Pada masa sultan akbar telah digunakan tiga macam bahasa yaitu bahasa Arab sebagai bahasa agama, bahasa Turki sebagai bahasa bangsawan, dan bahasa Persia sebagai bahasa istana dan kesusastraan. Akbar juga menciptakan suatu bahasa baru yang merupakan gabungan ketika bahasa tersebut di tambah dengan bahasa Hindu yaitu bahasa Urdu.
            Karya seni lainnya yaitu karya-karya arsitektur yang sangat Indah. Pada masa Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, vila-vila dan masjid-masjid megah. Pada masa Syah Jehan dibangun Masjid berlapis mutiara yang diberi nama masjid Moti di Agra, Taj Mahal, Masjid Raya Delhi, dan Istana Indah di Lahore.
Sedangkan karya seni yang paling menonjoladalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun Bahasa India.
3.       Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal
            Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada dipuncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup memmpertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke- 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam dibagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang inggris untuk pertama kalinya di izinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.
            Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintah pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakanitu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya.
            Konflik-konflik berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintahan daerah satu-persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat, bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya masing-masing. Disintregasi wilayah kekuasaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang disamping melepaskan loyalitas terhadap pemerintah pusat, juga mereka senantiasa menjadi ancaman serius bagi eksitensi dinasti Mughal itu sendiri.
            Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ini, pada tahun itu juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut. Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Oudh, bengal, dan orisa kepada Inggris.
F.      Peradaban islam di andalusia
              Di awal abad ke-7 masehi, ketika Nabi Muhammad SAW memuliai misinya di negeri Arab, seluruh pantai laut tengah merupakan bagian dari dunia masyarakat Kristen sepanjang Eropa, Asia, dan pantai Afrika Utara ditinggali penduduk yang beragama Kristen dari berbagai sekte. Hanya dua agama lain di dunia Romawi – Yunani, yakni Yahudi dan Manichaesime, yang bertahan dan dianut oleh sebagian kecil penduduk di sana.
              Setelah berakhirnya periode klasik, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kemajuan-kemajuan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan – kemajuan Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Spanyol Islam-lah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di beberapa perguruan tinggi di sana. Islam menjadi “Guru” bagi orang Eropa. Oleh karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.
              Kemajuan Islam sebelah timur menginjak zaman emasnya, bagian baratnya di Spanyol pun memasuki masa yang sama gemilangnya. Ini adalah masa yang lebih penting artinya, karena terutama melalui keislaman di Spanyol inilah kebudayaan Kristen pada awal abad pertengahan, yang kemudian melahirkan suatu peradaban yang diwarisi oleh orang Barat dewasa ini.
Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaannya, berkat adanya ketekunan pemeluk Islam dalam mencari dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Hal tersebut dikarenakan adanya dorongan yang kuat dari ajaran Islam itu sendir, yang dapat membuat pemeluknya lebih giat dalam menggali dan menemukan sesuatu yang baru dan berguna bagi umat manusia.
Sementara itu, keadaan sebaliknya terjadi di dunia Barat. Orang akan heran jika melihat Eropa sebelum abad X karena pada waktu itu Eropa masih merupakan dunia dengan tanahnya yang gersang dan tandus dari ilmu pengetahuan. Dengan adanya kegiatan penerjemahan buku-buku berbahasa Arab hasil karya para pemikir Islam ke dalam bahasa-bahasa Eropa, maka terbukalah pintu ilmu pengetahuan di Eropa.
MASUKNYA ISLAM DI SPANYOL
Semenanjung Iberia di Eropa, yang meliputi wilayah spanyol dan wilayah Portugal sekarang ini, menjorok ke selatan ujungnya hanya dipisahkan oleh sebuah selat sempit dengan ujung benua Afrika. Bangsa Grik Tua menyebut selat sempit itu dengan tiang-tiang Hercules dan di seberang selat sempit itu terletak benua Eropa. Selat sempit itu sepanjang kenyataan memisahkan lautan Tengah dengan lautan Atlantik.
Semenanjung Iberia, sebelum ditaklukkan bangsa Visigoths pada tahun 507 M , didiami oleh bangsa Vandals. Justru wilayah kediaman mereka itu disebut dengan Vandalusia. Dengan mengubah ejaannya dan cara membunyikannya, bangsa Arab pada masa belakangangan menyebut semenanjung Iberia itu dengan Andalusia.
Sejarah bangsa Vandal tidak banyak diketahui karena sebelum mereka sempat berbuat banyak, pada permulaan abad keenam datanglah bangsa Gothia Barat merebut negeri itu dan mengusir bangsa Vandalusia ke Afrika. Pada permulaan berdirinya kerajaan Gothia di Spanyol merupan kerajaan yang sangat kuat, tetapi pada akhir pemerintahannya menjadi lemah dengan berdirinya wilayah-wilayah kecil sebagai akibat adanya perpecahan dalam pemerintahan.
Disamping itu,  pejabat wilayah kerajaan banyak yang hidup dalam kemewahan, sementara rakyat hidup dalam kemelaratan kerena banyak dan beratnya pajak yang harus mereka bayar. Hal tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat, banyak di antara mereka yang mengeluh dengan keadaan itu. Suasana yang demikian bertambah panas, ketika pejabat Gothia Barat memaksa penduduk yang beragama Yahudi agar masuk Nasrani. Orang-orang Yahudi dikejar-kejar, dan untuk mencari keselamatan dirinya, banyak yang masuk agama Nasrani walaupun dengan terpaksa. Dikarenakan tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka mereka hanya berdiam diri walaupun merasa menderita dengan perlakuan tersebut. Namun dalam hati, mereka selalu mengharapkan suatu waktu dapat melepaskan diri dari penguasa-penguasa zalim itu. Mangkatnya Witiza sebagai Raja Gothia Barat yang terakhir merupakan pembuka jalan bagi rakyat Spanyol untuk keluar dari kungkungan penderitaan yang telah lama mereka rasakan.
Sepeninggal Witiza terjadi perebutan kekuasaan antara putra Witiza dengan Roderick, panglima perang Spanyol, yang ingi menjadi raja. Putra Witiza merasa lebih berhak menggantikan ayahnya. Namun, ia tidak mampu menghadapi Roderick. Oleh karena itu, Putra Witiza bersekutu dengan Graff Yulian yang sudah lama bermusuhan dengan Roderick. Bersekutunya dua kekuatan itu tarnyata belum dapat mematahkan pertahanan Roderick. Oleh karena itu, untuk menambah kekuatan, Graff Yulian meminta bantuan Musa bin Nushair yang menjabat sebagai gubernur Afrika Utara di bawah Pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus.
Sesungguhnya Musa telah lama mencari kesempatan untuk menyebrang ke Spanyol, maka dengan permohonan Graff itu berarti telah datang kesempatan yang telah lama ditunggunya sekian lama.
Ada beberapa hal yang mendorong Musa bin Nushair mengabulkan permohonan Graff Yulian, di antaranya adalah:
a.       karena antara penduduk Spanyol dengan Afrika Utara terlibat dalam suasana perang. Sebab penduduk Spanyol terutama yang beragama Kristen pernah melakukan beberapa kali penyeranganterhadap daerah pantai Afrika yang sudah dikuasai oleh kaum muslimin;
b.      penduduk Spanyol pernah memberikan bantuan kepada tentara Romawi dan berusaha menduduki beberapa daerah muslim di pantai Afrika. Dasar pertimbangan itu dikemukakan Musa pada Khalifah Walid bin Abdul Malik, sewaktu Musa minta izin untuk mengirimkan bantuan tentara ke Spanyol. Khalifah menyetujui rencana Musa.
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715M), salah seorang khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin Nushair. Di zaman Al-Walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk  agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan pasukan ke wilayah tersebut. Mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin ziyad, dan Musa bin Nushair.
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, 500 orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan ituTharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigoths yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar unruk memperoleh harta rampasan perang, Musa bin Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7.000 orang di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.
Sejarah mencatat bahwa panglima Thariq setelah seluruh pasukan selesai mendarat di wilayah tersebut, membakar seluruh alat penyebrangan. Ia pun mengucapkan pidato singkat yang bersejarah: Al-Aduwwu amamakum wal bahru wara’akum fakhtar ayyuma syi’tum. (Musuh di depan kamu, lautan di belakang kamu, silahkan pilih mana yang kamu kehendaki).
Sorak sorai pasukan yang berkekuatan 12.000 pada tahun 93 H/711 M, yang memilih maju kedepan, telah meninggalkan jejak besar di dalam sejarah Islam. King Roderick maju dengan pasukan berkekuatan 100.000 orang. Jumlah pasukannya besar, tetapi semangat tempurnya telah dikalahkan oleh kemewahan hidup selama ini. Pertempuran di Guadalete pada tahun 711 M, di pinggir sungai Guadalquivir, telah menentukan nasib kerajaan Visigoths. King Roderick tewas di tempat itu. Sikap penduduk yang apatis, karena dihisap dan diperas dengan beban-beban  pajak yang berat, dan bantuan aktif dari pihak Yahudi, yang menderita siksaan dan penindasan selama ini, sekaligus telah menyebabkan pasukan panglima Thariq bin Ziyad bagaikan berlari-lari layaknya ke berbagai penjuru semenanjung Iberia. Sebuah factor lainnya sangat menentukan bagi mempercepat kemenangan itu ialah disiplin yang ketat dari pasukan besar tersebut, memperlakukan penduduk dengan baik pada setiap wilayah yang dikuasai, memperlihatkan ketaatan dan kepatuhan menjalankan kebaktian-kebaktian keagamaan setiap harinya.
Dalam penyerbuan ke Spanyol, Thariq bin Ziyad lebih dikenal sebagai penakluk kerena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata, pasukannya terdiri dri sebagian besar suku Barbar yang di dukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian menyebrangi selat di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad tempat di mana Thariq dan pasukannya mendarat untuk pertama kali, kemudian dikenal dengan nama Gibraltar –Jabal Thariq , Bukit Thariq, diambil dari namanya sendiri Thariq.
Dengan dikuasainya daerah ini maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari sini Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting seperti Cordova, Granada, dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik ketika itu). Daerah Visigoth di Spanyol termasuk juga provinsi Narbonne (sekarang Prancis selatan) dan ini juga diduduki Islam dalam tahun 715 atau sesudahnya.
Sebelum Thariq menaklukan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa bin Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkn tambahan pasukan sebanyak 5.000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang, jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, yaitu  100.000 orang.
Dikarenakan cemburu terhadap kemenangan-kemenangan yang diraih letnannya yang tidak disangka sangat luar biasa itu, Musa pun dengan tergesa-gesa berangkat ke Spanyol pada bulan Juni 712, sambil memimpin pasukan tentara yang berjumlah 10.000 orang, semuanya terdiri dari orang-orang Arab dan Arab-Syiria. Sebagai sasaran dipilihlah kota-kota dan kubu-kubu yang tidak diganggu oleh Thariq, seperti Medina, Sedonia, dan Carmona. Sevilla yang merupakan kota terbesar dan pusat kecerdasan Spanyol dan yang pernah menjadi ibu kota pada zaman Romawi, mempertahankan diri hingga akhir Juni 713. Akan tetapi dekat kota Merida, Musa menemui perlawanan yang sengit. Namun demikian, setelah terkepung selama setahun, setapak demi setapak kota itu dapat diduduki dalam bulan Juli 713 M. Musa kemudian bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abd Al-Aziz tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada As-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H.
Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordesu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, di antara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Prancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu masih juga terdapat berbagai penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah Mallorca, Corsia, Sardinia, Certa, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayyah.
Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari 7,5 abad.
Menurut Prof. Dr. Hamka, kekuasaan Islam di Spanyol itu dibagi kepada tiga masa berikut.
1)      suatu provinsi dari kerajaan Bani Umayyah di Damaskus (Damsik) diperintah oleh wakil khalifah yang dikirim kesana, mulai tahun 93 H sampai 138 H.
2)      diperintah oleh para amir yang berdiri sendiri, terpisah dari khalifah Bani Abbas di Baghdad, dimulai oleh Amir Abdurrahman Ad-Dakhlil pada tahun 138 H sampai 315 H.
3)      Abdurrahman An-Nashir memaklumkan dirinya menjadi khalifah di Andalusia, yaitu mulai tahun 315 H sampai 422 H.
              Dalam kurun waktu 7,5 abad, Islam Spanyol telah berkembang dengan pesatnya yang pada gilirannya mampu membawa dampak yang sangat besar bagi dunia keilmuan dan pengetahuan yang terjadi di Eropa pada umunya.
              Selama Islam berkuasa di Spanyol, banyak terdapat penguasa negeri yang memerintah, diantaranya adalah
1.            Amar-Amir Bani Umayyah,
2.            Khalifah-Khalifah Bani Umayyah,
3.            Daulah Ziriyah di Granada,
4.            Daulah Bani Hamud di Malaga,
5.            Daulah Bani Daniyah,
6.            Daulah Bani Najib dan Bani Hud di Saragosa,
7.            Daulah Aniriyah di Valensia,
8.            Daulah Bani Ubbad di Sevilla,
9.            Daulah Jahuriyah di Cordova,
10.        Daulah Bani Zin-Nun di Toledo, dan
11.        Daulah Bani Ahmar di Spanyol.
DunIa Islam di Spanyol mengalami kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan, semenjak dierintah oleh para Amir keturunan Bani Umayyah yang berdiri sendiri terpisah dari pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad, dimulai dari Abdurrahman Ad-Dakhil. Pada tahun 756 M, kekayaan pengetahuan dan intelektual di Islam Spanyol sangatlah besar pengaruhnya di Eropa, baik filsafat, sains, fiqh, music, kesenian, bahasa, sastra maupun pembangunan fisik.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ISLAM MUDAH MASUK SPANYOL
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam tampak begitu mudah. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari adanya factor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud factor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi social, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan yang menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi kedalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agam lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Sedangkan yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh secara brutal.
Perpecahan politik memerburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal waktu Spanyol berada di bawah kekuasaan Romawi, berkat kesuburan tanahnya, pertanian dan perdagangan, serta industry maju pesat. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun.
Buruknya kondis social, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam.
Awal kehancuran kerajaan Goth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Sevilla ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula koflik antara Roderick dengan ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang digunakan oleh Tharif, Thariq, dan Musa.
Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi memiliki semangat perang. Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum muslimin.
Sedangkan yang dimaksud dengan factor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, beberapa tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Merekapun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tidak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong-menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di wilayah tersebut.
PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL
Sejak pertama kali Islam menginjakkan kaki di Spanyol hingga masa jatuhnya, Islam memainkan peran yang sangat besar. Islam di Spanyol telah berkuasa selama tujuh setengah abad. Menurut Dr. Badri Yatim, sejarah panjang Islam di Spanyol dapat dibagi dalam enam periode.
1. Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, berbagai gangguan masih terjadi baik yang datang dari luar maupun dari dalam.
Gangguan yang datang dari dalam yaitu berupa perselisihan di antara elite penguasa. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Adapun gangguan yang datang dari luar yaitu datangnya dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang tinggal di daerah pegunungan.
2. Periode Kedua (755-912 M )
Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol, tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdurrahman Ad-Dakhil adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbasiyah ketika Bani Abbasiyah berhasil menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya Ad-Dakhil berhasil mendirikan Dinasti Umayyah di Spanyol.
Saat periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan baik dalam bidang politik maupun peradaban. Abdurrahman Ad-Dakhil mendirikan Masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Pada periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok”. Pada periode ini Spanyol di perintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Pada periode ini umat Islam di Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman An-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki ratusan ribu buku. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi.
4. Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada masa ini Spanyol sudah terpecah-pecah menjadi beberapa Negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. Bahkan pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Sevilla, Cordova, Toledo dan sebagainya. Pada periode ini umat Islam di Spanyol kembali memasuki pertikaian intern. Ironisnya jika terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Namun, walaupun demikian, kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana Dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana yang lain.
5. Periode Kelima (1086-1248)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan yakni kekuasaan Dinasti Murabhitun (1086-1143) dan Dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf bin Tasyfin fi Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Dan akghirnya dapat memasuki Spanyol dan menguasainya. Dalam perkembangan selanjutnya, pada periode ini kekuasaan Islam Spanyol dipimpin oleh penguasa-penguasa yang lemah  sehingga mengakibatkan beberapa wilayah Islam dapat dikuasai oleh kaum Kristen. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan kekuasaan Kristen dan Sevilla jatuh pada thun 1248 M. Hampir seluruh wilayah Spanyol Islam lepas dari tangan penguasa Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492)
Pada periode ini Islam hanya berkuasa di Granada di bawah dinasti Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Akan tetatp, secara politik dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang  merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berkahir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Ia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad bin Sa’ad, abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah, dan Abdu Abdullah naik tahta.
Ferdinand dan Isabella akhirnya mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan, dan akhirnya mereka menyerang balik terhadap kekuatan Abu Abdullah. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan kekuatan Kristen tersebut sehingga pada akhirnya kalah. Abu Abdullah akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella, sedangkan Abu Abdullah hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian, berakhirlah keuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di wilayah ini. Walaupun Islam telah berjaya dan dapat berkuasa di sana selama hampir tujuh setengah abad lamanya.
KEMAJUAN PERADABAN ISLAM DI SPANYOL
Kemajuan Islam di Spanyol sangat menonjol dalam berbagai bidang, baik dalam bidang intelektual yang mnyebabkan kebangkitan Eropa saat ini, bidang kebudayaan dalam hal ini bangunan fisik atau arsitektur, maupun bidang-bidang lainnya. Puncak kemajuan paradaban Islam di Spanyol berdampak bagi kemajuan peradaban Eropa.
1. Kemajuan Intelektual
a. Filsafat
Perkembangan fildsafat di Andalusia di mulai sejak pada abad ke-8 hingga abad ke-10. Manuskrip-manuskrip Yunani telah diteliti dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada masa khalifah Abbasiyah, Al-Mansyur (754-755 M) telah dimulai aktivitas penerjemahan hingga masa khalifah Al-Makmun (813-833 M). Ada masanya banyak karya Aristoteles yang diterjemahkan.
Tokoh utama dan pertama dalam sejarah filsafat Arab Spanyoladalah Abu Bakar Muhammad bin As-Sayigh yang dikenal dengan Ibnu Bajjah. Masalah yang bin qzhan. Tokoh Yadikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir Al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr bin Thufail, karyanya adalah Hayy bin Yaqzhan. Tookoh filsafat Islam lainnya adalah Ibnu Rusyd yang di Eropa terkenal dengan Averros  dari Cordova (1126-1198 M), pengikut aliran  Aristoteles. Di samping sebagai  tokoh filsafat, ia juga dikenal sebagai ulama fiqh penulis Bidayat Al-Mujtahid. Averros juga menulis buku kedokteran Al-Kulliyah fi Ath –Thib.

b. Sains
Sains yang terdiri dari ilmu-ilmu kedokteran, fisika, matematika, astronomi,kimia,botani, zoologi, geologi,ilmu obat-obatan , juga berkembang dengan baik. Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat  juga melahirkan pemikir terkenal.
Beberapa tokoh sains dalam bidang Astrnomi, yaitu Abbas bin Farnas , Ibrahim bin Yahya An-Naqqash, Ibnu Safar, Al-Bitruji. Dalam bidang obat-obatan antara lain Ahmad bin Iyas dari Cordova, Ibnu Juljul, Ibnu Hazm, Ibnu Abdurrahman bin Syuhaid. Adapun di bidang kedokteran, yaitu Ummul Hasan binti Abi Ja’far seorang tokoh dokter wanita. Dalam bidang Geografi, yaiutu Ibnu Jubar dari Velencia (1145-1228M), Ibnu Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) pengeliling dunia sampai Samudra Pasai (Sumatra) dan Cina. Sedangkan Ibnu Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah, penulis buku Muqadimah.
a.       Bahasa dan Sastra pada masa Islam di Spanyol banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, di antaranya: Ibnu Sayyidah, Muhammad bin malik, pengarang Alfiyah (tata bahasa arab), Ibnu Khuruf, Ibnu Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan bin Usfur dan Abu Hayyan Al-Gharnati.
Dalam bidang sastra banyak bermunculan, seperti Al-Aqd Al-Farid karya Ibnu Abd Rabbih, Adz-Dzakirah fi Mahasin Ahl Al-Jazirah karya Ibnu Bassam, Kitab Al-Qalaid karya Al-Fath bin Khaqan, dan lain-lain.
b.      Musik dan Kesenian
Musik dan kesnian pada masa Islam di Spanyol sangat masyur. Musik dan seni banayk memperoleh  apresiasi dari para tokoh penguasa istana. Tokoh seni dan musik antara lain: Al-Hasan bin Nafi yang mendapat gelar Zaryab. Zaryab juga terkenal sebagai pencipta lagi-lagu.
2. Bidang Keilmuan Keagamaan
a. Tafsir
Salah satu mufasir yang terkenal dari Andalusia adalah Al-Qurtubi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Sahmad bin Abu Bakr bin Farh Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi (wafat 1237 M). Adapun karyanya dalam bindang tafsir adalah Al-Jami’u li Ahkam Alquran, kitab tafsir yang terdiri dari 20 jilid ini dikenal dengan nama Tafsir Al-Qurtubi.
b.  Fiqh
Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai pusat penganut mazhab Maliki. Adapun yang memperkenalkan mahzab ini di Spanyol adalah Ziyad bin Abd Ar-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentiukan oleh Ibnu Yahya yang menjadi  qadhi pada masa Hisam bin Abdurrahman. Para ahli fiqh lainnya adalah Abu Bar bin Al-Qutiyah, Muniz bin Sa’id Al-Baluthi, Ibnu Rusyd, penulis kitab Bidayah Al-Mujthahid wa Nihayah Al-Muqtasid, AsySyatibi, penulis buku Al-Muwafaqat fi Ushul Asy-Syari’ah (ushul fiqh) dan Ibnu Hazm.
3. Kemajuan di bidang arsitektur bangunan.
Kemegahan bangunan fisik Islam Spanyol sangat maju, dan mendapat perhatian umat dan penguasa. Umumnya bangunan-bangunan di Andalusia memiliki nilai arsitektur yang tinggi. Jalan-jalan sebagai alat transportasi dibangun, pasar-pasar dibangun untuk membangun ekonomi. Demikian pula, damdam, kanal-kanal, sakuran air, dan jembatan-jembatan.
a.       Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam yang kemudian diambil alih oleh Dinasti Umayyah. Kota Kordova oleh penguasa muslim dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-taman dibangun untuk menghiasi ibukota Islam Spanyol itu. pohon-pohon yang megah diimpor dari timur. Di seputar ibukota berdiri istana-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan . setiap istana dan taman diberi nama tersendiridan di puncaknya terpancang istana Damsik. Di antara kebanggaan kota Cordova lainnya adalah mesjid Cordova. Kota Cordova memiliki 491 mesjid.
b.      Granada
Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Di sini berkumpul sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur-arsitektur  bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana Al-Gambra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bisa bisa diperpanjang dengan kota dan istana Al-Zahra, istana Al-Gazar, dan menara Girilda.
c.       Sevilla
Kota Sevilla dibangun pada masa pemerintahan Al-Muwahidin. Sevilla pernah menjadi ibukota yang indah bersejarah. Semula kota ini adalah rawa-rawa. Pada masa Romawi kota ini bernama Romula Agusta, kemudian diuba menjadi Asyibiliyah (Sevilla). Sevilla telah berada di bawah kekuasaan Islam selaaama kurang lebih 500 tahun. Salah satu bangunan masjid yang didirikan pada tahun 1171 pada masa pemerintahan Sultan Yusuf Abu Ya’kub,kini telah beruba dari mesjid menjadi gereja dengan nama Santa Maria dela Sede. Kota Sevilla jatuh ke tangan Ferdinand pada tahun 1248 M.
d.      Toledo
Toledo merupakan kota penting di Andalusia sebelum di kuasai Islam. Ketika Romawi menguasai kota Toledo, kota ini dijadikan ibu kota kerajaan. Dan ketika Thariq bin Ziyad menguasai Toledo tahun 712 M, kota ini dijadikan pusat kegiatan umat Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan penerjemahan. Toledo jatuh dari tangan umat Islam setelah direbut oleh Raja Alfenso VI dari Castilia. Beberapa peninggalan bengunan masjid di Toledo kini dijadikan gereja oleh umat kristen.           
Banyak faktorpendukung kemajuan Islam di Spanyol, antara lain didukung oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan beribawa, yang mampu mempersatukan kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman Ad-Dakhil, Abdurrahman Al-Wasith, dan Abdurrahman An-Nashir
Keberhasilan politik para pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan para penguasa lainnya yang mempelopori kegiatan ilmiah. Di antra mereka penguasa DInasti Umayyah di Spanyol yang berjasa adalah Muhammad bin Abdurrahman ( 852-886 M, dan Al-Hakam II Al-Munthasir (961-976 M).
Di samping itu, toleransi ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-11 M, dan seterusnya, banyak kalangan cendekiaean mengadakan perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung Timur, sambil membawa buku-buku dan gagasan-gagasan, hal ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik terdapat apa yang disebut kesatuan budaya dalam Islam.
Adapun menurut Badri Yatim, sebab-sebab yang menjadikan kemunduran dan kehancuran Islam Spanyol antara lain disebabkan:
a.       Konflik penguasa Islam dengan penguasa Kristen,
b.      Tidak adanya ideologi pemersatu,
c.       Akrena kesulitan ekonomi,
d.      Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan, dan
e.      Karena letaknya yang terpencil dari pusat wilayah dunia Islam yang lain.
F. PENGARUH PERADABAN SPANYOL ISLAM DI EROPA
Spanyol merupakan tempat paling utama bagi Eropa untuk menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial maupun perekonomian dan peradaban antarnegara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh menunggalkan negara-negara tetangganya di Eropa, terutama dalam pemikiran dan sains di samping bangunan fisik.
Tokoh Spanyol Islam yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran di Eropa adalah Ibnu Rusyd, yang dikenal di Eropa dengan Averros (1120-1198 M). Averros dikenal sebagai orang yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berpkir. Ia menguras pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunatullah menurut pengertian Islam terhadap ajaran pantheismedan anthropomorphisme Kristen. Pengaruh Averros demikian besar di Eropa, sehingga muncul gerakan Averroeisme (Ibnu Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini.
Dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa  kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. Beberapa buku karya Ibnu Rusyd dicetak di Venesia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M. Karya-karya Ibnu Rusyd juga diterbitkan pada abad ke-16 di Napoli, Bologna, Lyons, dan Strasbourg, dan di awal abad ke-17 de Jenewa.
Pengaruh-pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibnu Rusyd ke Eropa  berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang berawal dari belajar di berbagai universitas Islam di Spanyol, seperti Universitas Cordova, Sevilla, Malaga< Granada, dan Samalanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemah-kan buku-buku karya ilmuwan muslim, Pusat penerjemahan buku adalah di Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Uneversitas pertama di Eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibnu Rusyd. Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam universitas-universitas tersebut, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, sperti ilmu kedokteran, ilmu pasti dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12  M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Latin.
Akan tetapi walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, namun ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaissance)pada abad ke -14 M, yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16, rasionalisme pada abad ke-17, dan pencerahan (Aufklarung) pada abad ke-18 M.
Demikian juga bahasa Arab telah berpengaruh besar di Eropa. Selama Islam berada di Andalusia, telah banyak nama-nama benda yang dikenal di Barat berasal dari bahasa Arab. Karena lamanya Islam di sana, tidak kurang dari 7.000 kata-kata Spanyol yang berasal dari bahasa Arab.
Di antara kata-kata bahasa Arab banyak yang masuk ke dalam suku kata bahasa Eropa seperti ke dalam bahasa Spanyol, Inggris, Prancis, dan Jerman. Misalnya kata-kata: as-sukkar (gula) menjadi azukar (Spanyol), sugar (Inggris), al-kuhul (alcohol) menjadi alkohol, al-fil (gajah) menjadi marfil, syarab (minuman cair) menjadi syrup, dan lain-lain.
Demikian besar pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa, sehingga jika sayja masyarakat Eropa tidak mempelajari peradaban-peradaban Islam, bukan tidak mustahil bahwa Eropa masih tertinggal di belakang dalam hal peradaban dunia. Bangsa Eropa maju dalam ilmu pengetahuan dan peradaban dikarenakan mereka belajar kepada kaum muslimin terutama melalui berbagai literatur dari hasil karya kaum muslimin di Andalusia Spanyol.
G. TRANSMISI ILMU-ILMU KEISLAMAN KE EROPA
Semenjak abad ke-11 M, umat Islam mendapat serangan dari berbagai jurusan. Di Andalusia, umat Kristen semenjak Raja Ferdinand I (1035-1065 M) mempersatukan kekuatan membentuk Kerajaan Leon yang kuat, mulai menyerang kekuasaan Islam guna merebut kembali daerah-daerah mereka sehinga penyatuan kekuatan mereka itu merupakan awal dari pengusiran umat Islam dari Andalusia. Di pantai timur Laut Tengah, umat Islam mendapat serbuan tentara Salib selama dua abad. Di Timur sejak abad ke-10 M, khalifah Abbasiyah sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Kekuasannya telah diambil oleh sultan-sultan Buwaihi, kemudian oleh Bani Saljuk. Hilangnya kekuasaan khalifah itu menjadi sempurna setelah datangnya Hulagu menyapu bersih kota Baghdad dari permukaan bumi.
Umat Islam kehilangan segala sesuatu yang pernah dimiliki. Namun, terjadi sesuatu yang diluar dugaan manusia, ternyata bangsa yang menghancurkan daulah Islamiyah yang berpusat di Baghdad itu, keturunannya justru menjadi pembangun dan pembela agama Islam dan kebudayaannya yang gigih sehingga agama Islam menjadi tumbuh dan mekar kembali.
Demikian juga di luar daerah bekas kekuasaan Dinasti Abbasiyah yaitu daerah Andalusia dan Afrika Utara, kebudayaan Islam tidak musnah bahkan mengalir dan berpindah ke Eropa membangun zaman renaissance Eropa.
Sebenarnya transmisi ilmu pengetahuan Islam mengalir ke Eropa melalui berbagai jalur. Jalur-jalur tersebut adalah melalui perang Salib, Negeri Sicilia, dan Spanyol (Andalusia).
1. Melalui Perang Salib
Perang Salib yang terjadi dari tahun 1096-1273 M (489-666 H) adalah perang antara umat Kristen Eropa Barat ke tanah Timur khususnya Palestina yang dikuasai daulah Islam. Perang ini dinamakan Perang Salib karena tentara Kristen memakai tanda Salib dalam Peperangan tersebut.
Dengan adanya Perang Salib ini banyak membawa keuntungan bagi benua Eropa. Perhubungan orang Kristen dengan orang Timur Tengah memberikan kemajuan dalam berbagai bidang. Ketika kembali ke Eropa kapal-kapal mereka membawa barang-barang berharga seperti kain tenun sutera, bejana dari porselin, dan lain-lain. Sedang dari jenis tumbuh-tumbuhan yang dibawa ke Eropa antara lain: sejenis biji-bijian, tanaman padi, pepohonan jeruk, semangka, bawang putih, tumbuhan obat-obatan, tumbuhan yang mengandung zat pewarna dan rempah-rempah.
Ketika Frederick  II, kaisar Jerman membawa angkatan perangnya ke Palestina dalam rangka Perang Salib (1128-1129 M), sepulangnya dari sana ia telah meletakkan dasar pendirian perguruan tinggi, Universitas Napels.
Menurut Philip . Hitti, dalam The Arabs A Short History, bahwa sumbangan Frederick yang terbesar adalah pendirian Universitas di Napels pada tahun 1224, salah satu universitas pertama di Eropa yang ditegakkan dengan sebuah piagam yang jelas dan terang. Di sini ia menghimpun sebuah kumpulan besar naskah-naskah Arab, buku-buku Aristoteles dan Averros yan diminta untuk diterjemahkan digunakan dalam daftar pelajaran, salinan terjemahan tersebut dikirimkan ke Universitas di Paris dan Bologna. Selama abad ke-14 dan abad-abad berikutnya, kitab-kitab pengetahuan Arab merupakan bagian yang penting pada perbagai universitas di Eropa, termasuk Oxford dan Paris, walaupun sesungguhnya dengan tujuan-tujuan lain, yaknimuntuk mendidik pendeta-pendeta Katolik ke negara-negara Islam.
2. Melaui Negeri Sicilia
Satu lagi transmisi mengalirnya ilmu pengetahuan Islam ke Eropa yaitu melalui pulau Sicilia (Siqiliyah).
Pada awalnya abad kedelapan Masehi, banyak orang-orang Arab yang mencoba untuk singgah di Sicilia, tetapi gagal. Ini dimulai bersamaan dengan usaha masuk ke Andalusia. Pada tahun 727 M, kekuatan tentara di bawah pimpinan Bisyr bin Safwan telah mencapai Sicilia, semula ia pengusaha di Maroko. Penyerangan ke Sicilia kembali diusahakan pada tahun itu juga di bawah pimpinan Usman bin Abu Ubaida dan di bawah pimpinan Mustari bin Haris, meskipun keduanya gagal.
Eksbisi Arab dari Syiria telah sampai di Sicilia pada tahun 730 M. Di bawah pimpinan Abdul Malik bin Qatan telah melakukan hal serupa pada tahun 732 M.
Bisa dikatakan pada abad ke-8 hingga awal abad ke-10, suasana pulau Sicilia tidak pernah tenang dari guncangan dari dalam dan luar negeri. Pada tahun 827 M (212 H), Emir Ziyadatullah bin Ibrahim (817-838 M) dari Dinasti Aghlabiah di Afrika Utara, pasukan Islam berhasil mendarat di Pulau Sicilia, atas undangan Ephemius dan bantuan penduduknya.
Sebagai titik persentuhan dari dua lapangan kebudayaan, maka pulau Sicilia teristimewa merupakan alat penghubung untuk meneruskan pengetahuan kuno dan pengetahuan abad pertengahan. Sebagian rakyatnya terdiri dari elemen Yunani yang berbahasa Yunani, sebagian dari elemen muslim yang berbahasa Arab, dan suatu golongan serjana yang paham akan bahasa latin.
Sejak raja-raja Norman dan para penggganti kerajaan Sicilia menguasai bukan hanya pulau tersebut, melainkan juga Italia Selatan, maka merekalah yang merupakan jembatan untuk menyeberangkan berbagai kebudayaan Islam ke semenanjung Italia dan Eropa Tengah.
Ada dua jembatan penyeberangan filsafat Islam ke Eropa, pertama melalui orang-orang Islam Andalusia (Spanyol), kedua melalui orang-orang Sicilia. Sebenarnya tidak hanya filsafat, tetapi juga matematika, astronomi, maupun obat-obatan.
Sumbangan Sicilia dan Itali sebagai tempat penyeberangan ilmu-ilmu keislaman ke Eropa memang tidak sehebat Andalusia, nama seperti Gerard of Cremona (1114-1187 M) berasal dari Itali, banyak melakukan penerjemahan dari buku-buku yang asalnya berbahasa Arab.
Ketika orang-orang Norman menguasai Sicilia sejak tahun 1060 M, mulailah tumbuh kebudayaan Kristen-Islam. Hal etrsebut dikarenakan Roger I adalah orang Kristen, meskipun kurang terpelajar, banyak ilmuwan Arab yang dilindungi, dari ahli-ahli filsafat, astrologi sampai ke tabib. Islam di Palermo lebih cenderung ke gaya Timur daripada ke  Barat. Meskipun kerajaannya beragama Kristen, tetapi jabatan tinggi di kerajaan dipercayakan kepada orang-orang Islam. Ektika Roger II (1130-1154 M) berkuasa, ia senang berpakain ala orang Islam, pakaian yang dihiasi dengan huruf-huruf Arab. Pada masanya, Al-Idrisi adalah ilmuwan muslim yang berjasa di kerajaannya, ia telah menyumbangkan karyanya sebuah globe (bola dunia) dari perak kepada Roger II. Bermula dari peta dunia karya Al-Idrisi inilah yang akhirnya menuntun para penjelajah Eropa mengelilingi dunia.
Beberapa disiplin ilmu telah diperkenalkan dan dikembangkan di Sicilia. Di antara tokoh-tokoh yang mengembangkan ilmu di Sicilia adalah
1) Hamzah Al-Basri, ahli filologi dan perawi dari penyair-penyair besar Arab Al-Mutanabbi. Ia hijrah ke Sicilia, hingga meninggal dunia di sana pada tahun 985 M.
2) Muhammad bin Khurasan, ahli stutus Alquran (sejarah hermeneetik dan sejaran perkembangan huruf-huruf Alquran), ia berasal dari Mesir lalu ke Irak, dan terakhir ke Sicilia, hingga meninggal di sana tahun 996 M. Tokoh ilmu Alquran  yang lain seperti Ismail bin Khalaf (w.1063 M) yang belajar di Mesir dan pernah menjadi imigran ke Andalusia. Karyanya terbesar yang masih berupa manuskrip adalah Kitab Al-Unwan fi Al-Qira’at, terdapat di museum perpustakaan Berlin, Istambul dan Bankipor.
3) Para dokter Sicilia antara lain Abu Sa’id bin Ibrahim; Abu Bakr As-Siqili salah seorang guru besar dari para dokter; Ibnu Abi Usaibia. Abu Abbas Ahmad bin Abdussalam menulis tentang salah satu komentar terhadap karya Ibnu Sina.
4) Masih banyak lagi yang bergerak dalam berbagai bidang, antara lain dalam bidang bahasa dan sastra. Termasuk yang menarik adalah karya Dante, dante memang banyak tahu tentang Islam. Menurut Muguel Asin Lapacious ia menduga bahwa karya Dante, Divine Comedy, banyak terpengaruh karya Abul A’la Al-Ma’ari, Risalat Al-Ghufran, dan Ibnu Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah, serta karya-karya yang lain.

3.  Melalui Andalusia (Spanyol)
Peran Andalusia (Spanyol) sebagai wahana penyeberangan ilmu pengetahuan ke Eropa tidak diragukan lagi.
Semasa Islam di Andalusia, ada sejumlah perguruan tinggi terkenal di sana. Perguruan-perguruan tinggi itu antara lain Universitas Cordova, Sevilla, Malaga, dan Granada. Di kota Cordova di samping memiliki universitas, juga memiliki gedung perpustakaan terbesar dan terindah pada masanya dengan lebih kurang 400.000 jilid dengan katalognya 44 jilid. Banyak peminat yang belajar ke universitas itu dari berbagai penjuru.
Pelajaran yang diberikan di Universitas Granada antara lain ilmu ketuhanan, yurisprudensi, kedokteran, kimia, filsafat, dan astronomi. Terdapat pula gedung-gedung perpustakaan, ruang untuk diskusi dan rumah sakit. Setelah Granada ajtuh pada tanggal 2 Januari 1492 ke tangan Ferdinadn dan istrinya Isabella, buku-buku yang berbahasa Arab dibakar atas perintahnya.
Para penulis ilmu dikalangan luar Islam yang pernah di Andalusia dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, obat-obatan, kedokteran, filsafat, kimia, dan lain-lain. Di antara mereka tercatatlah nama-nama seperti dari Prancis Gerbert d’Aurilac yang kelak menjadi populer di Prancis dengan gelar Sylvester II. Ia belajar selama 3 tahun di Toledo.
Adapun nama-nama lain seperti Adelard dari Bath, Robert dari Chester, Hernan dari Cathiria, dan Gerard dari Cremona. Adapun orang-orang Nasrani setempat yang menaruh perhatian terhadap perpindahan keilmuwan antara lain: Dominicus Gondisalvi, Hugh dari Santalla, Petrus Alphose, John Seville, Savasonda dan Abraham Ezra. Mereka banyak menerjemahkan karya-karya para sarjana Islam di Barcelona, Tarazona, Segovia, Leon, Pamlona, dan daerah selatan Prancis seperti Toulouse, Beziers, dan Marseille.
Peran Gerard dari Cremona cukup besar dalam transfer ilmu pengetahuan dari Andalusia ke Eropa, ini dikarenkaan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Ketika pertama kali tiba di Toledo, ia amat menyesal akan kekkurangan dan kemiskinan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, ia mempelajari bahasa Arab sehingga ia dapat entransfer ilmu-ilmu dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Gerard meninggal pada tahun 1187 M dalam usia 87 tahun setelah menerjemahkan 71 buku berbahasa Arab. Aneka bidang ilmu telah diterjemahkan, seperti ilmu matematika, astronomi, geografi, aljabar, dan ilmu kedokteran. Dapatlah dikatakan bahwa Gerard mempunyai andil besar dalam mentransfer ilmu dari Andalusia ke Eropa.
Selain Gerard masih ada yang lain, seperti Roger Bacon (1214-1219 M), Michael Scott, dan lain-lain. Mereka semua ketika mula pertama sampai di Andalusia, tidak mengerti bahasa Arab. Mereka juga belajar atas jasa orang Yahudi yang telah masuk Islam. Mislanya Gerard memakai jasa Gallipus, Michael Scott telah menggunakan jasa Andrew. Tidak jarang dalam penerjemahan ini mereka mnggunakan sistem dari bahasa Arab ke bahasa Spanyol, lalu dari bahasa Spanyol barulah diterjemahkan ke bahasa Latin. Ada juga diterjemahkan ke bahasa Hebrew. Tidak jarang, karena kesulitan menerjemahkan istilah-istilah dari bahsa Arab, maka bahsa aslinya tetap digunakan. Itulah sebabnya banyak istilah Arab yang menjadi istilah bahasa ilmu pengetahuan. Misalnya aljabar menjadi algebra.
Di Andalusia sedikit demi sedikit umat Islam kehilangan wilayah kekuasaannya. Mula-mula kota Toledo direbut oleh Kristen pada tahun 1085 M, hilangnya pusat sekolah tinggi dan pusat ilmu pengetahuan Islam beserta segala isinya yang terdiri dari perpustakaan beserta ilmuwan-ilmuwannya.
Tahun 1236 M, menyusul Cordova dirampas oleh Raja Alfonso VII dari Castilia, maka hilang pula pusat kebudayaan dunia di sebelah barat beserta masjid raya Cordova yang didirikan oleh amir-amir Umayyah di Andalusia, perpustakaan yang didirikan oleh Hakam II dengan buku-bukunya dari segala cabang ilmu. Kehilangan itu terus berlanjut kota demi kota, menyusul Sevilla, Malaga, dan Granada. Akhirnya umat Islam beserta raja Bani Ahmar terakhir, Abu Abdullah, harus terusir dari Andalusia. Tanah airnya yang telah ditempati lebih dari 75 abad dengan meninggalkan apa yang pernah diciptakan, baik kebudayaan secara fisik berupa peradaban dan ilmu pengetahuan, maupun miliknya secara rohani berupa penganut Islam dari penduduk asli Andalusia yang digelari Muzarabes (Mustaribun) yang dipaksa untuk menjadi Kristen kembali. Golongan Muzarabes inilah yang mengalirkan ilmu pengetahuan Islam ke Eropa.
Penyaluran ilmu pengetahuan ke Eropa dimulai ketika Toledo jatuh ke tangan Kristen. Untuk mempermudah penyerapan ilmu-ilmu Arab, di Toledo didirikan sekolah tinggi terjemah. Pekerjaan ini dipimpin oleh Raymond. Buku-buku yang disalin adalah buku-buku bahasa Arab yang masih tersisa dari pembakaran. Penerjemah Bahgdad banyak yang pindah ke Toledo, terutama yang berasal dari bangsa Yahudi. Sebagian besar dari mereka dapat menguasai bahasa Arab, Yahudi, Spanyol, dan Latin. Di antara penerjemah yang terkenal adalah Avendeath (Ibny Daud, bangsa Yahudi), yang menyalin buku astronomi dan astrologi dalam bahasa Latin. Satu lagi Gerard Cremona, mencoba mengimbangi pekerjaan Hunain bin Ishak menyalin buku-buku filsafat, amtematika, dan ilmu kedokteran.
Demikianlah, kemudian Toledo menjadi pusat perkembangan ilmu-ilmu Islam ke dunia barat. Peranan Toledo bertambah lengkap setelah umat Islam diusir dari Andalusia. Buku-buku yang tersisa dari kota-kota lain di Andalusia seperti Cordova, Sevilla, Malaga, dan Granada, dapat mereka manfaatkan. Bangsa Barat benci terhadap Islam, akan tetapi haus kepada ketinggian ilmu dan peradabannya.
F. Peradaban islam di indonesia
A. Peradaban Islam Sebelum Kemerdekaan
            Islam tersebar di Indonesia melalui pedagang yang berdagang ke Indonesia, di mana masyarakat Indonesia sebelum Islam mayoritas memeluk agama Hindu. Islam tersebar di Indonesia pada abad pertama Hijriyah atau abad ketujuh sampai ke delapan Masehi.Daerah yang pertama pertama di kunjungi oleh penyebar Islam adalahsebagaiberikut:
1.             Pesisir utara pulau Sumatera, yaitu di peureulak Aceh Timur, kemudian meluas sampai bisa mendirikan kerajaan Islam pertama di Samudera Pasai, Aceh Utara.
2.             Pesisir utara pulau Jawa kemudian meluas sampai ke Maluku yang selama beberapa abad menjadi pusat kerajaan Hindu yaitu kerajaan Maja Pahit Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia khususnya di jawa tak lepas dari para wali-wali kita yang di sebut dengan wali sembilan (wali songo) , Islam datang tidak dengan melakukan penjajahan dan peperangan, melainkan dengan damai. Sebaliknya Barat datang ke Nusantara dengan melakukan penjajahan dan politik pecah belah dengan tujuan menguasai perdagangan, ekonomi, dan kekayaan alam yang terkandung di wilayah Nusantara ini.
Ada tahapan “masa” yang di lalui atau pergerakan islam sebelum kemerdekaan, yaitu:
1. Pada Masa Kesultanan
            Daerah yang sedikit sekali disentuh oleh kebudayaan Hindu-Budha adalah daerah Aceh, Minangkabau di Sumatera Barat dan Banten di Jawa. Agama islam secara mendalam mempengaruhi kehidupan agama, social dan politik penganut-penganutnya sehingga di daerah-daerah tersebut agama islam itu telah menunjukkan dalam bentuk yang lebih murni. Dikerajaan tersebut agama islam tertanam kuat sampai Indonesia merdeka. Salah satu buktinya yaiut banyaknya nama-nama islam dan peninggalan-peninggalan yang bernilai keIslaman.
            Pertumbuhan komunitas Islam di Indonesia bermula di berbagai pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra, Jawa, dan Pulau lainnya. Hal ini di karenakan penyebaran Islam di Indonesia pertam-tama dilakukan oleh para pedagang. Kerajaan-kerajaan Islam yang pertama berdiri juga di daerah pesisir seperti: Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten dan Cirebon, Ternate dan Tidore. Dari sana kemudian Islam menyebar kedaerah-daerah sekitar.
            Di samping merupakan pusat-pusat politik dan perdagangan, ibukota kerajaan juga merupakan tempat berkumpul para ulama dam mubaligh Islam. Ibn Bathutah menceritakan, sultan kerajaan samudra pasai, Sultan Malik al-Zahir, dikelilingi oleh ulama dan mubaligh Islam, dan raja sendiri sangat menggemari diskusi mengenai masalah-masalah keagamaan. Di Aceh, raja-raja mengangkat para ulama sebagai penasehat dan pejabat di bidang keagamaan. Kedudukan ulama sebagai penasehat raja tidak hanya di Aceh saja, tetapi juga terdapat di kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Disamping sebagai penasehat raja, para ulama juga duduk dalam jabatan-jabatan keagamaan yang tingkat dan namanya berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, pada umumnya disebut qadhi.
            Ulama sangat berperan di samping sebagai penyebar agama juga berpartisipasi dalam bidang pendidikan. Ada dua cara yang dilakukan oleh para ulama terkait dengan bidang pendidikan. Pertama, membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas sebagai mubaligh ke daerah-daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan pesantren atau langgar di Jawa, Dayah di Aceh dan Surau di Minangkabau. Waktu belajar diatur sesuai dengan kondisi pesantren masing-masing. Mata pelajaran yang terpenting adalah Ushuluddin, Ushul Fiqh, fiqh dan Arabiyah. Kondisi pendidikan semacam itu berlangsung dan terus berkembang terus menerus dari tahun ke tahun sampai sesudah tahun 1900. Para pemimpin pergerakan Nasional sadar bahwa penyelenggaraan pendidikan yang seperti itu harus dirubah dan memasukkan pendidikan yang bersifat Nasional ke dalam perjuangannya. Maka lahirlah sekolah-sekolah partikular atas usaha perintis kemedekaan. Sekolah itu mula-mula bercorak sesuai dengan polotik seperti Taman Siswa, Kesatrian, Institut dan lain-lain yang bercorak Islam.
            Islam di Jawa, pada masa pertumbuhannya diwarnai kebudayaan jawa, ia banyak memberikan kelonggaran pada sistem kepercayaan yang dianut agama Hindu-Budha. Hal ini memberikan kemudahan dalam islamisasi atau paling tidak mengurangi kesulitan-kesulitan. Para wali terutama Wali Songo sangatlah berjasa dalam pengembangan agama islam di pulau Jawa.
            Menurut buku Babad Diponegoro yang dikutip Ruslan Abdulgani dikabarkan bahwa Prabu Kertawijaya penguasa terakhir kerajaan Mojo Pahit, setelah mendengar penjelasan Sunan Ampel dan sunan Giri,ia tidak melarang rakyatnya untuk memeluk agama baru itu (agama islam), asalkan dilakukan dengan kesadaran, keyakinan, dan tanpa paksaan atau pun kekerasan.
2. Pada Masa Penjajahan
            Dengan datangnya pedagang-pedagang barat ke Indonesia yang berbeda watak dengan pedagang-pedagang Arab, Persia, dan India yang beragama islam, kaum pedagang barat yang beragama Kristen melakukan misinya dengan kekerasan terutama dagang teknologi persenjataan mereka yang lebih ungggul daripada persenjataan Indonesia. Tujuan mereka adalah untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan islam di sepanjang pesisir kepulauan nusantara. Pada mulanya mereka datang ke Indonesia untuk menjalin hubungan dagang, karena Indonesia kaya dengan rempah-rempah, kemudian mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut.
            Waktu itu kolonial belum berani mencampuri masalah islam, karena mereka belum mengetahui ajaran islam dan bahasa Arab, juga belum mengetahui sistem social islam. Pada tahun 1808 pemerintah Belanda mengeluarkan instruksi kepada para bupati agar urusan agama tidak diganggu, dan pemuka-pemuka agama dibiarkan untuk memutuskan perkara-perkara dibidang perkawinan dan kewarisan.
            Tahun 1820 dibuatlah Statsblaad untuk mempertegaskan instruksi ini. Dan pada tahun 1867 campur tangan mereka lebih tampak lagi, dengan adanya instruksi kepada bupati dan wedana, untuk mengawasi ulama-ulama agar tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan peraturan Gubernur Jendral. Lalu pada tahun 1882, mereka mengatur lembaga peradilan agama yang dibatasi hanya menangani perkara-perkara perkawinan, kewarisan, perwalian, dan perwakafan.
            Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi menjadi penasehat urusan Pribumi dan Arab, pemerintahan Belanda lebih berani membuat kebijaksanaan mengenai masalah islam di Indonesia, karena Snouck mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di negeri Arab, Jawa, dan Aceh. Lalu ia mengemukakan gagasannya yang dikenal dengan politik islamnya. Dengan politik itu, ia membagi masalah islam dalam tiga kategori :
a. Bidang agama murni atau ibadah
            Pemerintahan kolonial memberikan kemerdekaan kepada umat islam untuk melaksanakan agamanya sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda.
b. Bidang sosial kemasyarakatan
            Hukum islam baru bisa diberlakukan apabila tidak bertentangan dengan adat kebiasaan.
c. Bidang politik
            Orang islam dilarang membahas hukum islam, baik Al-Qur’an maupun Sunnah yang menerangkan tentang politik kenegaraan dan ketata negaraan.
B. Peradaban islam Sesudah Kemerdekaan
1. Pendidikan
            Setelah Indonesia merdeka, terutama setelah berdirinya Departemen Agama, persoalan pendidikan agama Islam mulai mendapat perhatian lebih serius. Badan Pekerja Komite Nasional Pusat dalam bulan desember 1945 menganjurkan agar pendidikan madrasah diteruskan. Badan ini juga mendesak pemerintah agar memberikan bantuan pada madrasah. Departemen agama dengan segera membentuk seksi khusus yang bertugas menyusun pelajaran dan pendidikan agama Islam, mengawasi pengangkatan guru-guru agama, dan mengawasi pendidikan agama. Pada tahun 1948, didirikanlah sekolah guru dan hakim Islam di Solo.
            Perguruan Tinggi Islam yang khusus terdiri dari fakultas-fakultas keagamaan mulai mendapat perhatian kementrian Agama pada tahun 1950. Pada tanggal 12 Agustus 1950, Fakultas Agama di UII dipisahkan dan diambil alih oleh pemerintah dan pada tangal 26 September 1951 secara resmi dbuka perguruan Tinggi baru dengan nama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di bawah pengawasan Kementerian Agama. Pada tahun 1957, di Jakarta didirikan Akademi Dinas Ilmu Agama ADIA). Akademi ini dimaksudkan sebagai sekolah latihan bagi para pejabat yang berdinas dalam pemerintahan dan untuk pengajaran agama di sekolah. Pada tahun 1960, PTAIN dan ADIA disatukan menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), juga dibawah Kementerian Agama.
2. Majelis Ulama Indonesia (MUI)
            Setelah Indonesia merdeka Pertama kali Majelis Ulama Indonesia didirikan pada masa Soekarno. Majelis ini pertama-tama berdiri di daerah-daerah, karena diperlukan untuk menjamin keamanan. Di samping untuk tujuan pembinaan mental, rohani dan agama masyarakat, oleh pemerintah waktu itu Majelis ini dimaksudkan untuk ikut ambil bagian dalam “penyelenggaraan revolusi dan pembangunan semesta berencana” dalam rangka Demokrasi Terpimpin”. Akan tetapi setelah Seokarno jatuh, baru kegiatan-kegiatan Majelis ulama daerah meningkat. Meskipun majelis ini secara nasional tidak mempunyai kendali dan cara kerja yang sama antara satu daerah dengan daerah lain, karena majelis pusat praktis tidak berfungsi lagi.
3. Hukum Islam
              Kemudian setelah kemerdekaan didalamhukum islam diadakanusaha untuk mengundangkan peraturan perkawinan secara Nasional yang sudah dimulai sejak tahun 1950 dengan terbentuknya suatu panitia khusus yang diketuai oleh bekas Gubernur Sumatera, Teuku Muhammad Hasan. Baru pada tahun 1958, hasil kerja panitia ini dibicarakan dalam Dewan Perwakilan Rakyat, bersama-sama dengan suatu usul Rancangan Undang-undang yang dimajukan oleh kalangan nasionalis.Kemudian mengusulkan RUU yang baru pada tanggal 31 Juli 1973. Yang akhir inilah yang diundangkan pada bulan Januari 1974. Kemantapan posisi hukum Islam dalam sistem hukum Nasional semakin meningkat setelah Undang-undang Peradilan Agama diterapkan tahun 1989.
C. Peradaban Islam di Masa Reformasi Hingga Sekarang
            Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.
            Era reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan.Kemudian lahirlah berbagai organisasi islam.Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya masing-masing.
            Peradaban islam Indonesia masa reformasi ini semakin maju. Reformasi dimulai dari kekuasaan orde baru yang melakukan KKN korupsi kolusi dan Nepotisme. Sehingga para pemuda khususnya mahasiswa yang dikomandani oleh cendikiawan muslim Prof. DR. H.M. Amien Rais, MA berhasil menggulingkan pemerintahan orde baru dengan mundurnya presiden Suharto pada 21 Mei 1998. Sejak itu mulailah komunitas Islam bangkit dengan dibentuknya poros tengah dan berhasil mengangkat tokoh – tokoh Islam panggung politik menguasai pemerintahan Indonesia. Amien rais menjadi ketua MPR, Akbar Tanjung menjadi ketua DPR dan K.H. Abdur Rahman Wahid sebagai presiden RI. Dengan hadirnya tokoh – tokoh Islam itu membuka kran politik Indonesia semakin cair, keterbukaan, demokrasi langsung, penegakan ham dan lain – lainnya. Peradaban Islam semakin maju dengan ditandainya ormas – ormas islam semakin banyak dan berkualitas. Ormas – ormas Islam bisa mengembangkan dirinya, kembali ke asas Islam dan tidak terkekang ke salah satu asas saja.
            Pada masa Orde Baru (Orba), perkembangan umat Islam di Indonesia kurang begitu menggembirakan dikarenakan tekanan dari penguasa yang menghalangi laju pergerakan dan kebangkitan umat Islam. Setelah rezim Orba jatuh (Reformasi 1998), umat Islam lebih bebas untuk bergerak dalam berbagai hal,Golongan-golongan tersebut secara jelas tampak pada berbagai organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan.
            Namun sampai sekarang pemasalahan umat Islam tidak berhenti begitu saja. Berbagai isu yang berkembang di kalangan umat Islam tidak jarang membawa perpecahan antar saudara seakidah. Pemerintah memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam.
            Baru-baru ini muncul istilah Islamfobia dalam kehidupan masyarakat, ketakutan terhadap Islam. Yang mengherankan, di beberapa kalangan umat Islam sendiri terjadi ketakutan akan adanya penerapan syariat Islam. Beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang belum lama ini ditetapkan, di antaranya mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat (Prov. Sumbar, Kab. Padang Pariaman), Pendidikan Al-Qur’an bagi Pelajar dan Calon Pengantin (Kab. Solok, Kota Padang, Prov. Sulsel, Kab. Maros,) Pemakaian Busana Muslimah (Kab. Solok, Kota Padang, Pasaman Barat, Kab. Gowa, Kab. Sinjai), Larangan Pelacuran (Kab. Gresik, Jember, Tangerang), Peredaran Minuman Keras (Gresik, Pamekasan); (Republika, 17/06/2006) membuat sebagian pihak menuding adanya upaya Islamisasi undang-undang dan peraturan. Harian Republika (17/5/2006) memberitakan protes yang dilakukan oleh salah satu anggota DPR dari Partai Damai Sejahtera (PDS), Konstan Ponggawa, terhadap pemberlakuan sejumlah perda yang bernuansa Syariat Islam. Ia menilai perda-perda seperti itu inkonstitusional dan bertentangan dengan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal perda-perda tersebut tidak ada yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45 sebagai landasan Ideal dan landasan Konstitusional negara.Semua Ini membutuhkan kesadaran semua masyarakat Indonesia untuk mewujudkan Toleransi terhadap sesama,
G.    Peradaban Islam Masa Modern(1800 M)
Periode ini merupakan zaman kebangkitan Islam.  Ekspedisi Napoleon di mesir yang berakhir pada tahun 1801 M, membuka mata dunia islam terutama Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat islam di samping kemajuan dan kekuatan barat . Raja dan pemuka – pemuka islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk menegembalikan balance of power , yang telah pincang dan membahayakan islam.
Kontak islam dengan barat sekarang berlainan sekali dengan kontak islam barat periodde klasik.  Sekarang islam sedang dalam kegelapan dan barat sedang menaik. Kini islam ingin belajar dari barat.
Dengan demikian timbulah apa yang dimaksud  pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam islam.Pemuka – pemuka islam mulai memikirkan bagaimana caranya membuat islam lebih maju. Ide- ide baru yang diperkenalkan Naopleon dimesir adalah : Pertama, sistem negara republik yang kepala negaranya di pilih untuk jangka waktu tertentu, kedua persamaan dan terakhir kebangsaan.
Sejarah Peradaban Islam yaitu kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang di hasilkan dalam satu periode kekuasaan islam mulai dari periode nabi Muhammad Saw sampai perkembangan kekuasaan islam sekarang. Penemuan Masaru Emoto dari Universitas Yokohama, menemukan bukti bahwa air memiliki kehidupan dan bisa merespon atas rangsangan yang diberikan padanya. Hal ini merupakan bukti dari ayat Al Qur’an, Al Anbiya : 30
Artinya :Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?
“Dan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber sejarah perkembangan islam sebagai ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah sumber kejayaan dan kemuliaan sebuah umat. Tanpa memiliki ilmu pengetahuan, maka sebuah umat akan hidup dalam sebuah masa yang dipenuhi kegelapan tanpa ada perkembangan dalam kehidupannya.Bahkan banyak sejarawan barat yang mengakui tentang sejarah peradaban Islam sebagai ilmu pengetahuan.
Timbulah gerakan pembaharuan yang dilakaukan diberbagai negara, terutama Turki  Utsmani dan Mesir. Para pembaharu di Turki melahirkan berbagai  aliran pembaharuan : Utsmani Muda yang dipelapori oleh Ziya Pasya ( 1825- 1880 M ) Dan Namik Kemal ( 1840 -1888 M ), Turki Muda  yang dimotori oleh Ahmed Reza  ( 1859 -1931 ), Mehmed  ( 1853 -1912 M ), dan Sabahudin ( 1877-1948 M ).
Disamping itu juga ada pembaharu lain, yaitu aliran barat yang dimotori oleh Twfik Fikret ( 1867-1951 M ), Aliran islam  yang  dimotori oleh Mehmed Akif ( 1870- 1936 M ), Dan aliran – aliran nasionalis yang dimotori oleh Zia Gokalp ( 1875-1924 M ). Di Mesir, pembaharuan digagas oleh para pembaharu, diantaranya Rifa’ah Badawi Rafi’ Ath -Thahthawi ( 1801 -1873 ),Jamaludi Afgani ( 1839 -1897 ), Mukhamad  Abduh ( 1849 – 1905 )dan Rasyid Ridha ( 1865-1935  )





























BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Sejarah berasal dari bahasa arab “syajaratun” , artinya pohon. Secara sistematik, sejarah sama seperti pohon yang mempunyai cabang dan ranting, bermula dari bibit, kemudian tumbuh dan berkembang, lalu layu dan tumbang. Sejarah dalam dunia barat disebut “histoire” (Perancis), historie ( Belanda ), dan history ( Inggris ), berasal dari Yunani, istoria yang berarti ilmu.
Sedangkan Periodisasi peradaban Islam merupakan ciri bagi ilmu sejarah yang mengkaji peristiwa dalam konteks waktu dan tempat dengan tolak ukur yang bermacam-macam. Menurut Prof. Dr. H.N. Shiddiqi, ada beberapa pendapat lain yaitu tolak ukurnya adalah sistem politik, hal ini biasanya digunakan pada sejarah konvensional. Tolak ukurnya pada persoalan ekonomi (maju mundurnya ekonomi) dalam sebuh negara. Peradaban dan kebudayaan suatu bangsa adalah  pada masuk dan berkembangnya suatu agama.
Jadi, periodisasi peradaban islam adalah ilmu sejarah atau pembabakan sejarah yang mengkaji perkembangan peradaban Islam dalam konteks dan tempat dengan tolak ukur tertentu.
Fase kenabian Nabi Muhammad dimulai ketika beliau bertahannus atau menyepi di Gua Hira, sebagai imbas keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa Arab yang menyembah berhala. Di tempat inilah beliau menerima wahyu yang pertama, yang berupa surat Al-‘Alaq 1-5. Dengan wahyu yang pertama ini, maka beliau telah diangkat menjadi Nabi, utusan Allah.






DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. (1996). Studi Agama Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ampel, M. I. (2011). Pengantar Studi Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.
Mudzar, A. (1998). Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: pustaka Pelajar.
Nata, A. (2003). Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
S.J, F. (2008). Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: UIN-Malang Press.
Supriyadi, D. (2008,cet X). Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Yatim, B. (2008). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
https://simba-corp.blogspot.com/2018/02/makalah-sejarah-peradaban-islam_25.html
             http://atieqfauziati.blogspot.com/2016/04/makalah-tiga-kerajaan-besar-islam.html














Share this article :
Tweet
✚

Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon Request Out Of Topic

Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Ahyadin rite ambalawi
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Sejarah perjuangan Islam

Download This Template

Artikel Terbaru

Join with us

Temukan Saya Di Facebook

About Us

New Artikel

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Ahyadin rite ambalawi - Template by Mas yadi | Powered by Blogger