SEJARAH
PERADABAN ISLAM
TENTANG
SEJARAH
PERJUANGAN ISLAM
Oleh :
Adhar
“Makalah
ini Diajukan Kepada Dosen Pengampu
Sebagai
Salah Satu Syarat Memperoleh Nilai Tugas
Mata
Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen
Pengampu:
Jainuddin,
M.Hum
JURUSAN
AHWAL AL-SYAKHSHIYAH
FAKULTAS
SYARIAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH
BIMA
2018
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan
kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul ” sejarah
perjuangan islam”. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup
menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah
ini kami susun agar pembaca terutama teman-teman Hukum Keluarga dapat
menciptakan suatu pemahaman tentang Perkembangan pemikiran. Walaupun makalah
ini kurang sempurna dan memerlukan perbaikan tapi juga memiliki detail yang
cukup jelas bagi pembaca.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen
pembimbing yang telah memberikan kesempatan sehingga dapat menyelesaikan
makalah dengan sebaik mungkin meskipun banyak kekurangan didalamnya, untuk itu
penyusun mohon adanya kritik dan saran agar dapat memperbaiki makalah yang akan
datang. ,
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Banyak
diantara umat manusia yang mengaku agama Islam tapi tidak pernah tahu akan
Islam, tidak pernah tahu bagaimana Islam, bahkan seperti apa Islam itu
berkembang. Bahkan dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat di
mulainya sejarah Islam. Sehingga sungguh naif bila belum sama sekali mampu
untuk menguraikan secara terperinci bagaimana Islam itu sebenarnya mulai dari
awal terbentuknya hingga pada masa peradabannya dimana Islam mendapat kejayaan
dan kebanggaannya sebagai agama bawaan Nabi Muhammad saw.Pada pembahahsan
pemaparan dan penulisan ini akan mengarah kepada yang lebih mendasar,
yakni tentang identitas paradaban Islam itu sendiri dan sejarah peradaban
Islam. Sehingga pada akhirnya memiliki bekal mendasar tentang pradaban Islam
itu sendiri dan bagaimanakah pandangan mereka (bangsa Barat) tentang kebudayaan
dan peradaban Islam.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian Studi Sejarah Perjuangan Islam?
2.
Bagaimana Periodesasi Sejarah perjuangan Islam?
3.
Seperti Apa perjuangan Islam Masa Rasulullah Saw Dan Sahabat?
4.
Seperti Apa perjuangan Islam Masa Umayyah Dan Abbasiyah?
5.
Bagaimana perjuangan Islam Masa Tiga Kerajaan Besar?
6.
Bagaimana Perjuangan islam di indonesia?
7.
Bagaimana Perjuangan islam di andalusia?
8.
Bagaimana perjuangan Islam Masa Modern ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Studi Sejarah Peradaban Islam
Sejarah berasal dari bahasa arab “syajaratun” , artinya pohon.
Secara sistematik, sejarah sama seperti pohon yang mempunyai cabang dan
ranting, bermula dari bibit, kemudian tumbuh dan berkembang, lalu layu dan
tumbang. Sejarah dalam dunia barat disebut “histoire” (Perancis), historie (
Belanda ), dan history ( Inggris ), berasal dari Yunani, istoria yang berarti
ilmu.
Menurut definisi umum, kata history berarti “masa lampau umat
manusia”. Dalam pengertian lain, sejarah adalah catatam berbagai peristiwa yang
terjadi pada masa lampau. Dengan demikian sejarah peradaban islam adalah
keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan peradaban islam dari satu
waktu ke waktu lain, sejak zaman lahirnya islam sampai sekarang.
Sedangkan Periodisasi peradaban Islam merupakan ciri bagi ilmu
sejarah yang mengkaji peristiwa dalam konteks waktu dan tempat dengan tolak
ukur yang bermacam-macam. Menurut Prof. Dr. H.N. Shiddiqi, ada beberapa
pendapat lain yaitu tolak ukurnya adalah sistem politik, hal ini biasanya
digunakan pada sejarah konvensional. Tolak ukurnya pada persoalan ekonomi (maju
mundurnya ekonomi) dalam sebuh negara. Peradaban dan kebudayaan suatu bangsa
adalah pada masuk dan berkembangnya suatu agama.
Jadi, periodisasi peradaban islam adalah ilmu sejarah atau
pembabakan sejarah yang mengkaji perkembangan peradaban Islam dalam konteks dan
tempat dengan tolak ukur tertentu.
B.
Periodesasi
sejarah peradaban islam
Dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat dimulainya
sejarah islam. Secara umum perbedaan tersebut dapat di bedakan menjadi dua :
1.
Sebagian
sejarawan berpendapat bahwa sejarah islam dimulai sejak Nabi Mukhamad
SAW diangkat menjadi rasul, oleh karena itu pendapat ini , selama
13 tahun nabi tinggal di Mekkah telah lahir masyarakat muslim
meskipun belum berdaulat.
2.
Sebagian
sejarawan berpendapat bahwa sejarah umat islam dimulai sejak nabi
Mukhamad SAW hijrah ke madinah karena masyarakat muslim baru berdaulat
ketika nabi tinggal dimadinah , tidak hanya sebagai rasul , tetapi
merangkak sebagai pemimpin atau kepala negara berdasarkan konstitusi yang
disebut piagam Madinah.
Disamping perbedaan mengenai awal sejarah umat islam, sejarawan
juga berbeda dalam menentukan fase- fase atau periodesasi sejarah
islam. Menurut A. Hasymy ( 1978 : 58 ), periodesasi sejarah islam
adalah sebagai berikut :
1.
Permulaan
Islam ( 610 -661 M )
2.
Daulah
Ammawiyah ( 661 – 750 M )
3.
Daulah
Abbasiyah I ( 750 – 847 M )
4.
Daulah
Abbasiyah II ( 847 – 946 M )
5.
Daulah
Abbasiyah III ( 946 – 1075 M )
6.
Daulah
Mughal ( 1261 – 1520 M )
7.
Daulah
Utsmaniyah ( 1520 – 1801 M )
8.
Kebangkitan
( 1801 – sekarang )
C.
Peradaban
Islam Masa Rasulullah SAW Dan Sahabat
Kondisi bangsa
arab sebelum kedatangan islam, terutama di sekitar Mekah masih diwarnai dengan
penyembahan berhala sebagai Tuhan. Yang dikenal dengan istilah paganisme.
Selain menyembah berhala, di kalangan bangsa Arab ada pula yang menyembah agama
Masehi(Nasrani), agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Di
samping itu juga agama Yahudi yang dipeluk oleh penduduk Yahudi imigran di
Yaman dan Madinah, serta agama Majusi, yaitu agama orang-orang persia.
Nabi Muhammad
SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau 20 April 571 M. Ketika itu Raja
Yaman Abrahah dengan gajahnya menyerbu Mekah untuk menghancurkan Ka’bah.
Sehingga tahun itu dinamakan Tahun Gajah. Beliau telah menjadi yatim piatu
ketika berumur delapan tahun, dan beliau diasuh oleh kakek dan pamannya, Abdul
Muthalib dan Abu Thalib. Pada umur 12 tahun Nabi Muhammad sudah mengenal
perdagangan, sebeb pada saat itu beliau telah diajak berdagang oleh paman
beliau, Abu Thalib ke Negeri Syam. Dari pengalamannya berdagang, maka setelah
beranjak dewasa, beliau ingin berusaha berdagang dengan membawa barang dagangan
Khadijah, seorang saudagar wanita yang pada akhirnya menjadi istri beliau.
Fase kenabian
Nabi Muhammad dimulai ketika beliau bertahannus atau menyepi di Gua Hira,
sebagai imbas keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa Arab yang menyembah
berhala. Di tempat inilah beliau menerima wahyu yang pertama, yang berupa surat
Al-‘Alaq 1-5.
Artinya:Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha pemurah, yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
Dengan wahyu
yang pertama ini, maka beliau telah diangkat menjadi Nabi, utusan Allah. Pada
saat itu, Nabi Muhammad belum diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya, namun
setelah turun wahyu kedua, yaitu surat Al-Mudatsir ayat 1-7, Nabi Muhammad saw
diangkat menjadi Rasul yang harus berdakwah. Dalam hal ini dakwah Nabi Muhammad
dibagi menjadi dua periode, yaitu :
1.
Periode
Mekah, ciri pokok dari periode ini adalah pembinaan dan pendidikan tauhid(dalam
arti luas)
2.
Periode
Madinah, ciri pokok dari periode ini adalah pendidikan sosial dan politik(dalam
arti luas)
3.
Periode
Mekah
Pada periode
ini, tiga tahun pertama dakwah islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi
Muhammad mulai melaksanakan dakwah islam di lingkungan keluarga, mula-mula
istri beliau sendiri, yaitu Khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali
bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bekas budak beliau.
Di samping itu, juga banyak orang yang masuk islam dengan perantaraan Abu Bakar
yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun(orang-orang yang lebih dahulu
masuk islam), mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi
Waqqash, Abdur Rahmanbin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarhah,
dan Al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya dijadikan markas untuk
berdakwah(rumah Arqam). Kemudian setelah turun ayat 94 Surah Al-Hijr, nabi
Muhammad saw memulai dakwah secara-terang-terangan.
Dalam menyebarkan
agama islam, Nabi Muhammad melakukannya dengan tiga cara, yaitu:
1.
Rahasia.
Pada tahapan ini Nabi menyempaikannya hanya pada kalangan keluarganya sendiri
dan teman dekatnya.
2.
Semi
Rahasia. Beliau menyebarkan Agama Islam dalam ryang lingkup yang lebih luas,
termasuk Bani Muthalib dan Bani Hasyim.
3.
Terang-Terangan(Demonstratif).
Nabi dalam berdakwah secara terang-terangan ke segenap lapisan masyarakat, baik
kaum bangsawan maupun hamba sahaya.
D.
Peradaban
Islam Masa Umayyah Dan Abbasiyah
1.
Pada Masa Bani
Umayyah
Setelah Ali
terbunuh, kepemimpinan dilanjutkan oleh bani Umayyah, didirikan
oleh Muawiyah
berumur kurang lebih 90 tahun dan pada zaman ini , ekspansi yang terhenti pada
zaman kedua khalifah terakhir dilanjutkan kembali.khalifah besar bani
umayyah adalah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan ( 661 – 680 M ), Abd Al- Malik Ibn
Marwan ( 685 – 705 M ), Al- Walid Ibn Abd Al- Malik ( 705– 715 M ), Umar Ibn
Al- Aziz ( 717 – 720 M ), Dan Hisyam Ibn Abd Al- Malik ( 724 – 743 M ).
Pada zaman
Muawiyah , Uqbah Ibn Nafi’ menguasai Tunisia tahun 670 M. Ia didirikan kota
Qairawan yang kemudian menjadi salah satu pusat kebudayaan islam. Di
sebelah timur muawiyah memperoleh daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan
Afghanistan sampai ke kabul. Ekspansi ke timur diteruskan pada zaman Abd
Al- Malik dibawah pimpinan Al- Hajjaj Ibn Yusuf. Tentara yang dikirimnya
menyembrangi sungai Oxus dan dapat menundukan Balkh, Bukhara, Khawarizm,
Ferghana, dan Samarkand. Tentaranya juga samapi ke india dapat menguasai
Balukhistan, Sind, daerah Punjab sampai ke Multan. E kpansi ke barat terjadi di
zaman Al walid. Musa bin Nusyair menyerang jazair dan Maroko dan dapat
menundukanya. Tentara Spanyol dibawah pimpinan raja Roderick di kalahkan,
ibukota Toledo jatuh, demikian kota lainya seperi Sevile, Malaga, Elvire, dan
Cordova kemudian menjadi ibu kota Spanyol Islam ( Al- Andalus ).
Perluasan
selanjutnya adalah prancis, melalui pengunungan Piranee, dilakukan oleh Abd Ar-
Rahman Ibn Abdullah Al- Ghafiqi, pada zaman umar bin abd aziz. Daerah –
daerah yang dikuasai islam pada zaman dinasti ini adalah spanyol, Afrika Utara,
Suria, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian dari Asia kecil, Persia,
Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Rurkmenia, Uzbek, Dan
Kirgis ( diasia tengah ). Ekspansi yang dilakukan bani umayah inilah yang
membuat islam menjadi Negara besar dizaman itu.
Dari persatuan
bangsa dibawah naungan islam, timbulah benih- benih kebudayaan dan peradaban
islam baru, Bani umayyah lebih banyak memusatkan perhatian kepda kebudayaan
Arab. Diantaranya perubahan bahasa administrasi dari bahasa yunani dan
bahasa Pahlawi kebahasa arab dimulai oleh Abd Malik. Inilah yang mendorong
sibaweh untuk menyusun kitab, yang selanjutnya menjadi pegangan dalam soal tata
bahasa arab, syair- syair baru pun bermunculan seperti, Umar Ibn Abi
Rabi’ah ( w. 719 ), Jamil Al- Udhari ( w. 701 M), perhatian pada ilmu kalam,
hadits, tafsir,fiqih, semakin besar pada zaman ini.
Abd Al –Malik
juga mengubah mata uang yang dipakai di daerah – daerah yang dikuasai islam.
Sebelumnya yang dipakai adalah mata uang Bizantium dan Persia seperti Dinar dan
Dirham . Sebagai ganti dalam mata uang asing ini , beliau mencetak uang sendiri
tahun 659 M, dengan memakai kata- kata dan tulisan arab, Dinar dibuat dari emas
dan dirham dibuat dari perak.
Bentuk
peradaban lain adalah dalam bentuk masjid-masjid. Masjid pertama di luar
semenanjung arabia juga dibangun pada zaman dinasti umayyah . Katedral St. John
di damaskus diubah menjadi masjid. Di Al- Quds ( yerusalem ), Abd Malik
membangun masjid Aqsa.
Pada zaman
dinasti bani umayyah inilah masjid Cordova juga dibangun, masjid mekkah
dan madinah diperbaiki dan diperbesar oleh Abd Al- Malik dan Al – WalidDinasti
umyyah juga mendirikan istana – istana untuk tempat beristirahat di padang
pasir, seperti Qusayr Amrah dan Al- Mushatta. Demikianlah fase sejarah
peradaban islam yang dibuat oleh dinasti bani umayah . Kekuasaan dan kejayaan
mencapai puncaknya pada zaman al- Walid I. Sesudah itu, kekuasaan mereka
menurun dan akhirnya dipatahkan oleh bani Abbasiyah pada tahun 750 M .
2.
Pada Masa Bani
Abbasiyah
Meskipun Abu
Al- Abbasiyah ( 750 – 754 M ), yang mendirikan dinasti ini, orang
dibelakang yang berperan penting ialah Al- Mansur
( 754 – 775 M ). Sebagai khalifah yang baru , ia banyak berhadapan dengan musuh
– musuh menjatuhkanya terutama golongan Bani Umayah, golongan khawarij, bahkan
kaum syi’ah. Al- Mansur merasa kurang aman ditengah – tengah arab maka ia
mmendirikan ibu kota baru sebagai ganti damaskus, yaitu Baghdad.Dalam bidang
pemerintahan Al- Mansur mengadakan tradisi baru dengan mengangkat wazir yang
membawahi kepala- kepala departemen
Al- Mahdi ( 775
– 785 M ), menggantikan khalifah Al- Mansur sebagai khalifah, dan dimasa
pemerintahanya perekonomian mulai meningkat .Demikian pula dagang transit
antara timur dan Barat juga membawa kekayaaan. Basrah menjadi pelabuhan yang
penting.
Pada zaman
Harun Al- Rasyid ( 785- 809 M ), Kekayaan yang banyak , dipergunakan al
–rasyid untuk keperluan social. Rumah sakit didirikan, pendidikan
dokter di pentingkan, dan farmasi dibangun. Di ceritakan dibaghdad mempunyai
800 dokter. Harun Al- Rasyid adalah raja besar pada zaman itu . Pada masa
dinasti abasiyah inilah, perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat yunani
memuncak, terutama pada zaman Harun Ar- Rasyid dan Al- Ma’mun. Buku- buku ilmu
pengetahuan dan filsafat didatangkan dari Bizantium, kemudian diterjemahkan
kedalam bahasa arab. Bait Al hikmah bukan hanya pusat penerjemahan tetapi juga
akademi yang mempunyai perpustakaan. Cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan
bait al hikmah ialah ilmu kedokteran, matematika, optika, fisika, astronomi,
dan sejarah disamping filsafat.
Ringkasnya ,
periode ini adalah periode yang tertinggi dan mempunyai pengaruh, sungguh pun
tidak secara langsung.
E.
Peradaban
Islam Masa Tiga Kerajaan Besar
1. Kerajaan Turki Utsmani
Pendiri kerajaan
ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan
daerah utara Negeri Cina. Sebuah kelompok muslim dibawah pimpinan Ertoghrul yang
mengabdikan diri kepada Sultan Dinasti Saljuk Rum di dataran tinggi Asia Kecil,
yakni Sultan Alauddin II yang saat itu sedang berperang melawan Bizantium. Atas
jasa baik Ertoghrul yang akhirnya membuat kemenangan perang bagi Sultan
Alauddin II, maka Sultan Alauddin II menghadiahi sebidang tanah kecil kepada
Ertoghrul. Yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah ibu kota yang diberi
nama Syukud.
Ertoghrul
meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, yaitu
Utsman bin Ertoghrul bin Sulaiman Syah bin Kia Alp,[1] di bawah Sultan Alauddin
II hingga 1300 M. Kemudian Bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan
Alauddin II terbunuh, mengakibatkan terpecahnya kerajaan Saljuk menjadi
beberapa kerajaan kecil. Utsman pun menyatakan kemerdekaan penuh atas daerah
yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Turki Utsmani dinyatakan berdiri.
Pemimpin pertamanya adalah Utsman yang sering juga disebut Utsman I bergelar
Padisyah al-Utsman.
Ekspansi besar-besaran dilakukan
Utsman I ketika masa pemerintahannya antara tahun 1290 M hingga 1326 M.
Ketika Utsman I meninggal dunia, maka misi ekspansi wilayah dilanjutkan oleh
pemimpin-pemimpin selanjutnya. Namun, ketika masa pemerintahan Sultan Bayazid I
ekspansi kerajaan Turki Utsmani sempat terhenti beberapa lama ketika ekspansi
diarahkan ke Konstantinopel. Serangan tak terduga kepada kerajaan Turki Utsmani
dilakukan oleh tentara Mongol yang kala itu dipimpin oleh Timur Lenk,
pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M dan menewaskan Sultan Bayazid
I bersama putranya dalam tawanan pada tahun 1403 M.
Kerajaan
Turki Utsamani mencapai kegemilangannya pada saat kerajaan ini dapat
menaklukkan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di Bizantium, yaitu
Konstantinopel. Sultan Muhammad II yang bergelar al-Fatih (1415-1484 M) dapat
mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada 28 Mei tahun 1453 M
dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, kemudian menjadikannya
sebagai ibukota. Sultan Muhammad II mengubah gereja Aya Sophia menjadi sebuah
masjid yang megah tempat ibadah penduduk muslim.
Kerajaan
Turki Utsmani yang memerintah hampir tujuh abad lamanya (1299-1924 M), dan
diperintah oleh 38 Sultan. Mereka itu adalah :
1.
Utsman I (1299-1326 M)
2.
Orkhan (Putra Utsman I) (1326-1359 M)
3.
Murad (Putra Orkhan) (1359-1389 M)
4.
Bayazid I (Putra Murad I) (1389-1402 M)
5.
Muhammad I (Putra Bayazid I) (1403-1421 M)
6.
Murad II (Putra Muhammad I) (1421-1451 M)
7.
Muhammad II al Fatih (Putra Murad II) (1451-1481 M)
8.
Bayazid II (Putra Muhammad II) (1481-1512 M)
9.
Salim I (Putra Bayazid II) (1512-1520 M)
10. Sulaiman I al
Qanuni (Putra Salim I) (1520-1566 M)
11. Salim II (Putra
Sulaiman I) (1566-1573 M)
12. Murad II (Putra
Salim II) (1573-1596 M)
13. Muhammad II
(Putra Murad III) (1596-1603 M)
14. Ahmad I (Putra
Muhammad III) (1603-1617 M)
15. Mustafa I
(Putra Muhammad III) (1617-1618 M)
16. Suman I (Putra
Ahmad III) (1618-1622 M)
17. Murad I (Yang
kedua kalinya) (1622-1623 M)
18. Murad IV (Putra
Ahmad I) (1623-1640 M)
19. Ibrahim I
(Putra Ahmad I) (1640-1648 M)
20. Muhammad II
(Putra Ibrahim I) (1648-1687 M)
21. Sulaiman I
(Putra Ibrahim I) (1687-1691 M)
22. Ahmad II (Putra
Ibrahim I) (1691-1695 M)
23. Mustafa II
(Putra Muhammad IV) (1695-1703 M)
24. Ahmad II (Putra
Muhammad IV) (1703-1730 M)
25. Mahmud I (Putra
Mustafa II) (1730-1754 M)
26. Utsman III
(Putra Mustafa II) (1754-1757 M)
27. Mustafa III
(Putra Ahmad III) (1757-1774 M)
28. Abdul Hamid I
(Putra Ahmad III) (1774-1788 M)
29. Salim III
(Putra Mustafa III) (1789-1807 M)
30. Mustafa IV
(Putra Abdul Hamid I) (1807-1808 M)
31. Mahmud II
(Putra Abdul Hamid I) (1808-1839 M )
32. Abdul Majid
(Putra Mahmud II) (--)
33. Abdul Aziz
(Putra Mahmud II) ( -1861 M)
34. Murad V (Putra
Abdul Majid I) (1861-1876 M)
35. Abdul Hamid II
(Putra Abdul Majid I) (1876-1909 M)
36. Muhammad VI
(Putra Abdul Majid I) (1909-1918 M)
37. Muhammad VI
(Putra Abdul Majid I) (1918-1922 M)
38.
Abdul Majid II (1922-1924 M)
Kejayaan Turki Utsmani terjadi pada
abad ke-16, ketika wilayah yang dimiliki Dinasti Turki Utsmani membentang dari
Selat Persia di Asia sampai ke pintu gerbang Kota Wina di Eropa dan dari laut
Gaspienne di Asia sampai ke Aljazair di Afrika Barat.
2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan Turki Utsmani
a. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Kekuatan
militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur pada masa
pemerintahan Sultan Orkhan (1336-1359 M) mengadakan perombakan dalam tubuh
organisasi militer dalam bentuk mutasi personel pimpinan dan perombakan dalam
keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan
anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana
Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan
terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau
Inkisyariyah.
Keberhasilan
ekspansi wilayah oleh militer kerajaan Turki Utsmani tersebut dibarengi pula
dengan terciptanya susunan pemerintahan yang teratur. Sultan sebagai penguasa
tertinggi, dibantu oleh Shadr al-A’zham (perdana menteri) yang membawahi
Pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Dibantu oleh beberapa
orang Az-Zanaziq atau Al-Alawiyah (bupati). Dan pengadilan tertinggi dipegang
oleh seorang Mufti.
Untuk
mengatur urusan pemerintahan pada masa Sultan Sulaiman I disusunlah sebuah
kitab Undang-Undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang
menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani. Karena jasa besar Sultan
Sulaiman I ini, maka dia digelari al-Qanun.
b. Bidang Ilmu Pengetahuan
Sebagai
bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak memfokuskan kegiatan
mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan mereka
tampak tidak begitu menonjol.
c. Bidang Kebudayaan
Dalam
bidang kebudayaan, Kerajaan Turki Utsmani telah melahirkan tokoh-tokoh terkenal
pada abad ke-16, 17, dan 18. Antara lain penyair yang bernama Nafi’ (1528-1636
M) dan Muhammad Esat Efendi atau Galip Dede (1757-1799 M), penulis yang membawa
pengaruh Persia yakni Yusuf Nabi (1642-1712 M). Kemudian dalam bidang sastra
Turki Utsmani memunculkan dua tokoh terkemuka, yaitu Katip Celebi dan Evliya
Celebi.
Adapun
dalam bidang arsitektur bangunan. Turki Utsmani begitu berpengaruh di Turki
seperti arsitek dalam bangunan-bangunan masjid yang indah Masjid Sultan
Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sultan Sulaiman, dan Masjid Aya Sophia.
3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Turki
Utsmani
Pada
akhir kekuasaan Sulaiman al-Qanuni I kerajaan Turki Utsmani berada di
tengah-tengah dua kekuatan monarki Austria di Eropa dan kerajaan Safawiyah di
Asia. Melemahnya kerajaan Turki Utsmani setelah wafatnya Sultan Sulaiman I dan
digantikan oleh Sultan Salim II membuat kerajaan Turki Utsmani pada abad ke-19
mengalami kemunduran yang sangat tajam.
Munculnya
berbagai macam pemberontakan, banyaknya daerah yang mulai memisahkan diri dan
mendirikan pemerintahan otonom yang merdeka, serta bangkitnya Mesir dibawah
pimpinan Ali Bey. Membuat kerajaan Turki Utsmani benar-benar mengalami masa
kemunduran.
Berikut
dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemunduran kerajaan Turki
Utsmani :
a. Faktor Internal
a.
Luasnya wilayah kekuasaan dan buruknya sistem pemerintahan,
kurangnya keadilan serta korupsi yang merajalela.
b.
Heterogenitas penduduk dan agama, yang tidak sesuai dengan landasan
kerajaan Turki Utsmani sebagai negara militer.
c.
Kehidupan para penguasa yang suka bermewah-mewahan.
d.
Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang berlangsung
berabad-abad lamanya.
b. Faktor Eksternal
a.
Timbulnya gerakan nasionalisme di kalangan bangsa-bangsa yang
tunduk pada kerajaan Turki Utsmani.
b.
Melemahnya militer kerajaan Turki Utsmani dikarenakan ketidak
tersediaannya persenjataan yang lengkap.
2. Kerajaan Safawi di Persia
1. Kerajaan Safawi
Ketika kerajaan
Utsmani sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia baru
berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya, kerajaan
Safawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.
Berbeda
dari dua kerajaan besar Islam lainnya (Utsmani dan Mughal), kerajaan Safawi
menyatakan Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah
gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini
diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan
dengan berdirinya kerajaan Utsmani. Nama Safawi diambil dari nama pendirinya,
Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai
tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan nama tersebut terus dilestarikan
setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan.
Dalam
kecenderungan memasuki dunia politik dan perluasan politik keagamaan, kerajaan
Safawi mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M).
Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara
Koyunlu (domba hitam), dalam konflik tersebut Juneid kalah dan diasingkan
kesuatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapatkan perlindungan dari Diyar Bakr,
Al-Koyunlu (domba putih) yang dinggal di istana Uzun Hasan. Kemudian ia
beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan, ia juga mempersunting saudara
perempuan Uzun Hasan. Pada saat ia mencoba merebut Sircassia (1460 M), ia
sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Ketika
itu anak Juneid, Haidar, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan
secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat
setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini
lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri kerajaan safawi di Persia.
Gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival
politik oleh Al Koyunlu. Padahal, Safawi adalah sekutu dari Koyunlu. Ketika
Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasuka Sirwan, Al Koyunlu mengirim
bantuan militer kepada Sirwan sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri
terbunuh dalam peperangan itu.
Ali,
putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentara untuk menuntut balas atas
kematian ayahnya terutama terhadap Al Koyunlu. Tetapi Ya’kub pemimpin Al
Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan ali bersama saudaranya, Ibrahim,
Ismail, dan Ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka
dibebaskan oleh Rustam, putra makhota Al Koyunlu, dengan syarat mau membantunya
memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat dikalahan. Ali
bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik
memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan ini
(1494 M).
Kepemimpinan
gerakan safawi, selanjutnya berada ditangan Ismail. Pada tahun 1501 M, pasukan
Qizilbash (pasukan baret merah) menyerang dan mengalahkan Al Koyunlu di Sharur
dan memasuki serta menaklukkan Tabriz, ibukota Al Koyunlu, di Kota ini Ismail
memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi. Ia juga disebut Ismail
I.
Ismail I berkuasa selama 23 tahun,
sepuluh tahun pertama ia dapat meluaskan wilayah kekuasaan ke berbagai daerah.
Pada tahun 1503 M. Ia berhasil menghancurkan sisa-sisa kekuatan Al-Koyunlu di
Hamadan. Tahun 1504 M ia menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan
Yazd. Tahun 1505-1507 M. Ia menguasai Diyar Bakr. Tahun 1508 M, menguasai
Baghdad dan daerah barat daya Persia. Tahun 1509 M, menguasai Sirwan. Tahun
1510 M, mengalahkan Syaibak Khan, keturunan Jenghis Khan, dan menguasai
Khurasan, Heart dan Merv. Dalam tempo sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya
meliputi seluruh Persia dan bagian Timur Bulan Sabit Subur ( Fertile Crescent)
yaitu wilayah di Asia membentang dari laut Tengah melalui daerah antara sungai
Tigris dan sungai Eufrat hingga teluk Persia.
Peperangan
dengan Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz.
Ismail menjumpai saingan saingan kepala batu yaitu Sultan Salim I dari Turki.
Peperangan ini, berasal dari kebencian Salim dan pengejaran terhadap seluruh
umat muslim di Syi’ah di daerah kekuasaannya. Fanatisme Sultan Salim memaksanya
untuk membunuh 40.000 orang yang didakwah setelah mengingkari ajaran-ajaran
sunni. Dalam peperangan ini Ismail mengalami kekalahan. Namun, kerajaan Safawi
terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani ke Turki karena trejadi
perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.
Peperangan
antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman
pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad
Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam
keadaan lemah.
Kondisi
memperihatinkan ini baru bisa di atasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I,
naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M.[9] langkah-langkah-langkah
yang di tempuh Abbas I dalam rangka memulihkan politik kerajaan Safawi adalah :
a.
Mengadakan pembenahan administrasi dengan cara pengaturan dan
pengontrolan dari pusat.
b.
Pemindahan ibukota ke Isfahan.
c.
Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qiziblash atas kerajaan
Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang aggotanya terdiri atas
budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan
Sircassia yang telah ada sejak Raja Tamh I.
d.
Mengadakan perjanjian perdamaian dengan Turki Utsmani.
e.
Berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pada khotbah Jum’at.
Usaha-usaha
yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali.
Setelah itu Abbas I muai memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut
kembali wilayah-wilayah kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1602 M, pasukan Abbas
I berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Baghdad, sedangkan kota-kota
Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M.
Selanjutnya pada tahun 1622 pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz
dan merubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.
2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan Safawi
Masa
kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia berhasil
mengatasi gejolak politik yang mengganggu stabilitas negara, dan sekaligus ia
berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang sebelumnya lepas
tersebut oleh kerajaan Utsmani. Berikut kemajuan-kemajuan yang ditorehkan
selama Abbas I memegang kekuasaan kerajaan Safawi :
a. Bidang Ekonomi
Bukti
nyata perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya Kepulauan Hurmusz dan
pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I. Maka salah satu
jalur dagang menghubungkan antara Timur dan Barat sepenuhnya menjadi pemilik
kerajaan safawi. Disamping di sektor perdagangan, kerajaan safawi juga
mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur
(Fortille crescent).
b. Bidang Ilmu Pengentahuan
Bangsa
persia dalam sejarah islam dianggap berjasa besar dalam perkembangan ilmu
pengetahuan. Maka tidak mengherankan apabila kondisi tersebut terus berlanjut,
sehingga muncul ilmuan seperti Baha al-Din Asy-syaerozi, Sadar al-Din
Asy-Syaerozi, Muhammad al-Baqir al-Din ibn Muhammad Damad, masing-masing ilmuan
di bidang filasafat, sejarah, teologi, dan ilmu umum.
c. Bidang seni
Kemajuan
seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang
memperindah ibukota kerajaan ini, sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit,
jembatan yang memanjang di atas Zende Rud dan istana Chihilsutun kota Isfahan
turut diperindah dengan kebun wisata.
3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan
Safawi
Sepeninggal
Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut di perintah oleh enam raja, yaitu Safi
Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman ( 1667-1694 M), Husain
(1694-1722 M), Tahmaps II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). Pada
masa-masa raja tersebut, kondisi kerajaan safawi tidak menunjukkan grafik naik
dan berkembang tetapi malah memperlihatkan kemunduranyang akhirnya membawa
kepada kehancuran.
Pada
saat kedudukan Sulaiman digantikan oleh Shah Husain. Para ulama Syi’ah
mendapatkan kekuasaan dan sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut
aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afganistan
sehingga mereka memberontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.
Selain itu diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah
konflik berkepanjangan dengan kerajaan Turki Utsmani. ketika mencapai kedamaian
pada masa Abbas I, tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut dan
tidak ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar islam itu.
Sebab lainnya yaitu dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin
kerajaan Safawi. Seperti Sulaiman yang pecandu berat narkotika serta kehidupan
malamnya. Begitu pula degan Sultan Husein.
Penyebab penting lainnya yaitu karena pasukan Gulham tidak memiliki semangat
perang yang tinggi seperti Qizilbash.
3. Kerajaan
Mughal di India
1. Kerajaan Mughal
Kerajaan
Mughal didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur yang lahir pada tanggal 24
Februari 1483 M. Ayahnya beranama Umar Syaikh Mirza keturunan kelima Timur
Lenk, seorang Amir Fargana. Sedangkan Ibunya adalah seorang putri keturunan langsung
Jakutai putra Jengkis Khan. Pada tahun 1494 M, ayahnya wafat dan usianya ketika
itu baru 12 tahun. Babur kemudian diangkat menjadi penguasa farghana
menggantikan ayahnya yang telah wafat. Meskipun masih relatif muda, Babur telah
dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang tangguh. Ambisi dan cita-citanya untuk
menjadi penguasa Delhi tampaknya diilhami oleh kebesaran kakeknya yaitu Timur
Lenk.
India
menjadi wilayah Islam pada masa Umayyah, yakni pada masa khalifah al-Walid.
Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh pasukan Umayyahyang dipimpin oleh
panglima Muhammad ibn Qasim. Kemudian pasukan Ghaznawiyah di bawah pimpinan
Sultan Mahmud mengembangan Islam di wilayah wilayah ini dengan berhasil
menaklukan seluruh kekuasaan Hindu dan mengadakan pengislaman sebagian
masyarakat India pada tahun 1020 M. Setelah Ghaznawi hancur, munculah beberapa
dinasti kecil yang menguasai negeri India, seperti dinasti Khalji
(1296-1316M.), dinasti Tuglag (1320-1412M.) dinasti Sayyid (1414-1451M.),
dinasti Lodi (1451-1526.).
Kerajaan
Mongol dan Mughal di India memiliki kerterkaitan, karena sama-sama didirikan
oleh bangsa mongol dan keturunannya. Sedangkan pengambilan nama Mughal adalah
dari nama kebesaran bangsa Mongol.
2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan
Mughal
Kemenangan
yang dicapai oleh Babur merupakan ancaman bagi para Raja Hindu di anak benua
India. Oleh karena itu, Babur dimana kepemimpinannya lebih banyak melakukan
konsolidasi ke dalam untuk memperkuat pasukannya dalam menghadapi berbagai
emungkinan serangan dari mereka dan disamping itu juga berusaha memperluas
wilayah kekuasaannya.
Babur
tidak lama untuk menikmati hasil-hasil kemenangannya. Dia meninggal dunia pada
tanggal 26 Desember.
Sepeninggal
Babur, pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Humayun. Selama roda
kepemimpinannya, kondisi pemerintahan tidak pernah stabil. Selain banyak
menghadapi pepperangan, ia harus menghadapi gerakan pemberontak Bahadur Syah
penguasa gujarat dan pertempuran besar dengan Sher Khan di Kanuj pada tahun
1540 M. Kemudian pada tahun 1556 M., Humayun meninggal.
Pemerintahan
selanjutnya dipegang oleh Akbar (1556-1603 M.). kalau kita melihat kondisi
sosio-historis menjelang pemerintahan Akbar ini ternyata hindu-astrologi, kasta
dan sihir sudah mendarah daging. Dalam pemerintahan militeristik, Akbar adalah
penguasa diktator. Akbar juga menerapkan politik Sulakhul (toleransi
universal). Dengan demikian, tida ada perbedaan antar etnis dan agama.
Di
dalam masalah agama, Akbar mempunyai pandangan liberal dan ingin mempersatuan
semua agama dalam satu agama yang diberi nama Din Illahi. Sebagaimana
namanya Akbar yang berarti agung atau besar, Akbar telah membuktikan
usahanya yang luar biasa besarnya. Selain memakmurkan rakyat dengan
menghilangkan segala bentuk pajak, dia juga meluaskan perekonomian dalam segala
cabangnya, dan memperbesar perdagangan dengan luar negeri.
Kemajuan
yang dicapai Akbar masih dapat dipertahankan oleh 3 Sultan berikutnya, yaitu
Jehangir (1605-1628 M.), Syah Jehan (1628-1658 M.), dan Aurangzeb (1658-1707
M.).
Diantara kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai pada masa mughal
adalah:
a. Bidang Politik
Sekalipun
dalam pemerintahan kerajaan Mughal banyak diwarnai perebutan kekuasaan, namun
secara keseluruhan dari pemerintahannya masih dapat terkendali, terutama pada
masa Akbar. Hal itu disebabkan, para penguasa Mugha; menerapkan sistem
militeristik dalam rangka mempertahankan wilayahnya.
b. Bidang Ekonomi
Di
bidang ekonomi, sektor pertanian menjadi bagian terpenting selain perdagangan,
pajak dan prindustrian. Dalam mengatur sektor pertanian, pemerintahan
menerappkan sistem hubungan petani berdasarkan lahan pertanian.
c. Bidang Seni dan Arsitektur
Pada
masa sultan akbar telah digunakan tiga macam bahasa yaitu bahasa Arab sebagai
bahasa agama, bahasa Turki sebagai bahasa bangsawan, dan bahasa Persia sebagai
bahasa istana dan kesusastraan. Akbar juga menciptakan suatu bahasa baru yang
merupakan gabungan ketika bahasa tersebut di tambah dengan bahasa Hindu yaitu
bahasa Urdu.
Karya
seni lainnya yaitu karya-karya arsitektur yang sangat Indah. Pada masa Akbar
dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri, vila-vila dan masjid-masjid megah. Pada
masa Syah Jehan dibangun Masjid berlapis mutiara yang diberi nama masjid Moti
di Agra, Taj Mahal, Masjid Raya Delhi, dan Istana Indah di Lahore.
Sedangkan karya seni yang paling menonjoladalah karya sastra
gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun Bahasa India.
3. Kemunduran dan Kehancuran
Kerajaan Mughal
Setelah
satu setengah abad dinasti Mughal berada dipuncak kejayaannya, para pelanjut
Aurangzeb tidak sanggup memmpertahankan kebesaran yang telah dibina oleh
sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke- 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa
kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat
pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu di India Tengah, Sikh di
belahan utara dan Islam dibagian timur semakin lama semakin mengancam.
Sementara itu, para pedagang inggris untuk pertama kalinya di izinkan oleh
Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata
semakin kuat menguasai wilayah pantai.
Pada
masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintah pusat memang sudah muncul,
tetapi dapat diatasi. Pemberontakanitu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb
yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat,
penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang
ditinggalkannya.
Konflik-konflik berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah.
Pemerintahan daerah satu-persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat,
bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya masing-masing. Disintregasi
wilayah kekuasaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang
disamping melepaskan loyalitas terhadap pemerintah pusat, juga mereka
senantiasa menjadi ancaman serius bagi eksitensi dinasti Mughal itu sendiri.
Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ini, pada tahun itu
juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata
melawan pemerintah kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut.
Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Oudh, bengal,
dan orisa kepada Inggris.
F.
Peradaban islam di andalusia
Di awal abad
ke-7 masehi, ketika Nabi Muhammad SAW memuliai misinya di negeri Arab, seluruh
pantai laut tengah merupakan bagian dari dunia masyarakat Kristen sepanjang
Eropa, Asia, dan pantai Afrika Utara ditinggali penduduk yang beragama Kristen
dari berbagai sekte. Hanya dua agama lain di dunia Romawi – Yunani, yakni
Yahudi dan Manichaesime, yang bertahan dan dianut oleh sebagian kecil penduduk
di sana.
Setelah
berakhirnya periode klasik, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa
bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam
bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kemajuan-kemajuan Islam
dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan – kemajuan
Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari
Spanyol Islam-lah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam
mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat
penting menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu orang-orang Eropa Kristen banyak
belajar di beberapa perguruan tinggi di sana. Islam menjadi “Guru” bagi orang
Eropa. Oleh karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian
para sejarawan.
Kemajuan Islam
sebelah timur menginjak zaman emasnya, bagian baratnya di Spanyol pun memasuki
masa yang sama gemilangnya. Ini adalah masa yang lebih penting artinya, karena
terutama melalui keislaman di Spanyol inilah kebudayaan Kristen pada awal abad
pertengahan, yang kemudian melahirkan suatu peradaban yang diwarisi oleh orang
Barat dewasa ini.
Sejarah telah
mencatat bahwa peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaannya, berkat
adanya ketekunan pemeluk Islam dalam mencari dan menyebarkan ilmu pengetahuan.
Hal tersebut dikarenakan adanya dorongan yang kuat dari ajaran Islam itu
sendir, yang dapat membuat pemeluknya lebih giat dalam menggali dan menemukan
sesuatu yang baru dan berguna bagi umat manusia.
Sementara itu,
keadaan sebaliknya terjadi di dunia Barat. Orang akan heran jika melihat Eropa
sebelum abad X karena pada waktu itu Eropa masih merupakan dunia dengan
tanahnya yang gersang dan tandus dari ilmu pengetahuan. Dengan adanya kegiatan
penerjemahan buku-buku berbahasa Arab hasil karya para pemikir Islam ke dalam
bahasa-bahasa Eropa, maka terbukalah pintu ilmu pengetahuan di Eropa.
MASUKNYA ISLAM DI SPANYOL
Semenanjung
Iberia di Eropa, yang meliputi wilayah spanyol dan wilayah Portugal sekarang
ini, menjorok ke selatan ujungnya hanya dipisahkan oleh sebuah selat sempit dengan
ujung benua Afrika. Bangsa Grik Tua menyebut selat sempit itu dengan
tiang-tiang Hercules dan di seberang selat sempit itu terletak benua Eropa.
Selat sempit itu sepanjang kenyataan memisahkan lautan Tengah dengan lautan
Atlantik.
Semenanjung
Iberia, sebelum ditaklukkan bangsa Visigoths pada tahun 507 M , didiami oleh
bangsa Vandals. Justru wilayah kediaman mereka itu disebut dengan Vandalusia.
Dengan mengubah ejaannya dan cara membunyikannya, bangsa Arab pada masa
belakangangan menyebut semenanjung Iberia itu dengan Andalusia.
Sejarah bangsa
Vandal tidak banyak diketahui karena sebelum mereka sempat berbuat banyak, pada
permulaan abad keenam datanglah bangsa Gothia Barat merebut negeri itu dan
mengusir bangsa Vandalusia ke Afrika. Pada permulaan berdirinya kerajaan Gothia
di Spanyol merupan kerajaan yang sangat kuat, tetapi pada akhir pemerintahannya
menjadi lemah dengan berdirinya wilayah-wilayah kecil sebagai akibat adanya
perpecahan dalam pemerintahan.
Disamping
itu, pejabat wilayah kerajaan banyak yang hidup dalam kemewahan,
sementara rakyat hidup dalam kemelaratan kerena banyak dan beratnya pajak yang
harus mereka bayar. Hal tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat,
banyak di antara mereka yang mengeluh dengan keadaan itu. Suasana yang demikian
bertambah panas, ketika pejabat Gothia Barat memaksa penduduk yang beragama
Yahudi agar masuk Nasrani. Orang-orang Yahudi dikejar-kejar, dan untuk mencari
keselamatan dirinya, banyak yang masuk agama Nasrani walaupun dengan terpaksa.
Dikarenakan tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, maka mereka hanya berdiam
diri walaupun merasa menderita dengan perlakuan tersebut. Namun dalam hati,
mereka selalu mengharapkan suatu waktu dapat melepaskan diri dari penguasa-penguasa
zalim itu. Mangkatnya Witiza sebagai Raja Gothia Barat yang terakhir merupakan
pembuka jalan bagi rakyat Spanyol untuk keluar dari kungkungan penderitaan yang
telah lama mereka rasakan.
Sepeninggal
Witiza terjadi perebutan kekuasaan antara putra Witiza dengan Roderick,
panglima perang Spanyol, yang ingi menjadi raja. Putra Witiza merasa lebih
berhak menggantikan ayahnya. Namun, ia tidak mampu menghadapi Roderick. Oleh
karena itu, Putra Witiza bersekutu dengan Graff Yulian yang sudah lama bermusuhan
dengan Roderick. Bersekutunya dua kekuatan itu tarnyata belum dapat mematahkan
pertahanan Roderick. Oleh karena itu, untuk menambah kekuatan, Graff Yulian
meminta bantuan Musa bin Nushair yang menjabat sebagai gubernur Afrika Utara di
bawah Pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus.
Sesungguhnya
Musa telah lama mencari kesempatan untuk menyebrang ke Spanyol, maka dengan
permohonan Graff itu berarti telah datang kesempatan yang telah lama
ditunggunya sekian lama.
Ada beberapa hal yang mendorong Musa bin Nushair mengabulkan
permohonan Graff Yulian, di antaranya adalah:
a.
karena antara penduduk Spanyol dengan Afrika Utara terlibat dalam
suasana perang. Sebab penduduk Spanyol terutama yang beragama Kristen pernah
melakukan beberapa kali penyeranganterhadap daerah pantai Afrika yang sudah
dikuasai oleh kaum muslimin;
b.
penduduk Spanyol pernah memberikan bantuan kepada tentara Romawi
dan berusaha menduduki beberapa daerah muslim di pantai Afrika. Dasar
pertimbangan itu dikemukakan Musa pada Khalifah Walid bin Abdul Malik, sewaktu
Musa minta izin untuk mengirimkan bantuan tentara ke Spanyol. Khalifah
menyetujui rencana Musa.
Spanyol
diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715M), salah seorang
khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol,
umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu
provinsi dari Dinasti Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu
terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik
mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada
masa Khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin
Nushair. Di zaman Al-Walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah
kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga
menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di
pegunungan pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan
membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Sebelum dikalahkan
dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang
menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu Gothik. Kerajaan ini sering
menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam.
Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan
perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi
batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.
Dalam proses
penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling
berjasa memimpin satuan pasukan ke wilayah tersebut. Mereka adalah Tharif bin
Malik, Thariq bin ziyad, dan Musa bin Nushair.
Tharif dapat
disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di
antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, 500 orang
diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang
disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan ituTharif tidak mendapat perlawanan
yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang
tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang
terjadi dalam tubuh kerajaan Visigoths yang berkuasa di Spanyol pada saat itu,
serta dorongan yang besar unruk memperoleh harta rampasan perang, Musa bin
Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7.000 orang di
bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.
Sejarah
mencatat bahwa panglima Thariq setelah seluruh pasukan selesai mendarat di
wilayah tersebut, membakar seluruh alat penyebrangan. Ia pun mengucapkan pidato
singkat yang bersejarah: Al-Aduwwu amamakum wal bahru wara’akum fakhtar ayyuma
syi’tum. (Musuh di depan kamu, lautan di belakang kamu, silahkan pilih mana
yang kamu kehendaki).
Sorak sorai
pasukan yang berkekuatan 12.000 pada tahun 93 H/711 M, yang memilih maju
kedepan, telah meninggalkan jejak besar di dalam sejarah Islam. King Roderick
maju dengan pasukan berkekuatan 100.000 orang. Jumlah pasukannya besar, tetapi
semangat tempurnya telah dikalahkan oleh kemewahan hidup selama ini.
Pertempuran di Guadalete pada tahun 711 M, di pinggir sungai Guadalquivir,
telah menentukan nasib kerajaan Visigoths. King Roderick tewas di tempat itu.
Sikap penduduk yang apatis, karena dihisap dan diperas dengan beban-beban
pajak yang berat, dan bantuan aktif dari pihak Yahudi, yang menderita siksaan
dan penindasan selama ini, sekaligus telah menyebabkan pasukan panglima Thariq
bin Ziyad bagaikan berlari-lari layaknya ke berbagai penjuru semenanjung
Iberia. Sebuah factor lainnya sangat menentukan bagi mempercepat kemenangan itu
ialah disiplin yang ketat dari pasukan besar tersebut, memperlakukan penduduk
dengan baik pada setiap wilayah yang dikuasai, memperlihatkan ketaatan dan
kepatuhan menjalankan kebaktian-kebaktian keagamaan setiap harinya.
Dalam
penyerbuan ke Spanyol, Thariq bin Ziyad lebih dikenal sebagai penakluk kerena
pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata, pasukannya terdiri dri
sebagian besar suku Barbar yang di dukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian
lagi orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian
menyebrangi selat di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad tempat di mana Thariq dan
pasukannya mendarat untuk pertama kali, kemudian dikenal dengan nama Gibraltar
–Jabal Thariq , Bukit Thariq, diambil dari namanya sendiri Thariq.
Dengan
dikuasainya daerah ini maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki
Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick
dapat dikalahkan. Dari sini Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota
penting seperti Cordova, Granada, dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik ketika
itu). Daerah Visigoth di Spanyol termasuk juga provinsi Narbonne (sekarang
Prancis selatan) dan ini juga diduduki Islam dalam tahun 715 atau sesudahnya.
Sebelum Thariq
menaklukan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa bin Nushair di
Afrika Utara. Musa mengirimkn tambahan pasukan sebanyak 5.000 personel,
sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang, jumlah ini belum
sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, yaitu 100.000
orang.
Dikarenakan
cemburu terhadap kemenangan-kemenangan yang diraih letnannya yang tidak
disangka sangat luar biasa itu, Musa pun dengan tergesa-gesa berangkat ke
Spanyol pada bulan Juni 712, sambil memimpin pasukan tentara yang berjumlah
10.000 orang, semuanya terdiri dari orang-orang Arab dan Arab-Syiria. Sebagai
sasaran dipilihlah kota-kota dan kubu-kubu yang tidak diganggu oleh Thariq,
seperti Medina, Sedonia, dan Carmona. Sevilla yang merupakan kota terbesar dan
pusat kecerdasan Spanyol dan yang pernah menjadi ibu kota pada zaman Romawi,
mempertahankan diri hingga akhir Juni 713. Akan tetapi dekat kota Merida, Musa
menemui perlawanan yang sengit. Namun demikian, setelah terkepung selama
setahun, setapak demi setapak kota itu dapat diduduki dalam bulan Juli 713 M.
Musa kemudian bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya keduanya berhasil
menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari
Saragosa sampai Navarre.
Gelombang
perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin
Abd Al-Aziz tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah
sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan
kepada As-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun
102 H.
Selanjutnya,
pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi. Dengan
pasukannya, ia menyerang kota Bordesu, Poiter, dan dari sini ia mencoba
menyerang kota Tours. Akan tetapi, di antara kota Poiter dan Tours itu ia
ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Prancis gagal dan tentara
yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu
masih juga terdapat berbagai penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke
Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah Mallorca,
Corsia, Sardinia, Certa, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke
tangan Islam di zaman Bani Umayyah.
Gelombang kedua
terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan
abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau
Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Sejak pertama kali
menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di
sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih
dari 7,5 abad.
Menurut Prof.
Dr. Hamka, kekuasaan Islam di Spanyol itu dibagi kepada tiga masa berikut.
1)
suatu provinsi dari kerajaan Bani Umayyah di Damaskus (Damsik)
diperintah oleh wakil khalifah yang dikirim kesana, mulai tahun 93 H sampai 138
H.
2)
diperintah oleh para amir yang berdiri sendiri, terpisah dari
khalifah Bani Abbas di Baghdad, dimulai oleh Amir Abdurrahman Ad-Dakhlil pada
tahun 138 H sampai 315 H.
3)
Abdurrahman An-Nashir memaklumkan dirinya menjadi khalifah di
Andalusia, yaitu mulai tahun 315 H sampai 422 H.
Dalam kurun
waktu 7,5 abad, Islam Spanyol telah berkembang dengan pesatnya yang pada
gilirannya mampu membawa dampak yang sangat besar bagi dunia keilmuan dan
pengetahuan yang terjadi di Eropa pada umunya.
Selama Islam
berkuasa di Spanyol, banyak terdapat penguasa negeri yang memerintah,
diantaranya adalah
1.
Amar-Amir Bani Umayyah,
2.
Khalifah-Khalifah Bani Umayyah,
3.
Daulah Ziriyah di Granada,
4.
Daulah Bani Hamud di Malaga,
5.
Daulah Bani Daniyah,
6.
Daulah Bani Najib dan Bani Hud di Saragosa,
7.
Daulah Aniriyah di Valensia,
8.
Daulah Bani Ubbad di Sevilla,
9.
Daulah Jahuriyah di Cordova,
10.
Daulah Bani Zin-Nun di Toledo, dan
11.
Daulah Bani Ahmar di Spanyol.
DunIa Islam di
Spanyol mengalami kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan, semenjak
dierintah oleh para Amir keturunan Bani Umayyah yang berdiri sendiri terpisah
dari pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad, dimulai dari Abdurrahman
Ad-Dakhil. Pada tahun 756 M, kekayaan pengetahuan dan intelektual di Islam
Spanyol sangatlah besar pengaruhnya di Eropa, baik filsafat, sains, fiqh,
music, kesenian, bahasa, sastra maupun pembangunan fisik.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ISLAM MUDAH MASUK SPANYOL
Kemenangan-kemenangan
yang dicapai umat Islam tampak begitu mudah. Hal tersebut tidak dapat
dipisahkan dari adanya factor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud
factor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol
sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi social,
politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan yang menyedihkan. Secara
politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi kedalam beberapa negeri
kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap
aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi
terhadap penganut agam lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan
bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen.
Sedangkan yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh secara brutal.
Perpecahan
politik memerburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol,
ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal waktu Spanyol berada di bawah
kekuasaan Romawi, berkat kesuburan tanahnya, pertanian dan perdagangan, serta
industry maju pesat. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan
kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun.
Buruknya kondis
social, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan
politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja
Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam.
Awal kehancuran
kerajaan Goth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari
Sevilla ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa wilayah
Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah Oppas dan
Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan
untuk untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan
kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula koflik antara Roderick dengan ratu
Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum
muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai
Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang digunakan oleh
Tharif, Thariq, dan Musa.
Hal
menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri
dari para budak yang tertindas tidak lagi memiliki semangat perang. Selain itu,
orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan
memberikan bantuan bagi perjuangan kaum muslimin.
Sedangkan yang
dimaksud dengan factor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh
penguasa, beberapa tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam
penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh yang
kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Merekapun cakap,
berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tidak kalah
pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu
toleransi, persaudaraan, dan tolong-menolong. Sikap toleransi agama dan
persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin menyebabkan penduduk
Spanyol menyambut kehadiran Islam di wilayah tersebut.
PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL
Sejak pertama
kali Islam menginjakkan kaki di Spanyol hingga masa jatuhnya, Islam memainkan
peran yang sangat besar. Islam di Spanyol telah berkuasa selama tujuh setengah
abad. Menurut Dr. Badri Yatim, sejarah panjang Islam di Spanyol dapat dibagi
dalam enam periode.
1. Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode
ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah
Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik
negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, berbagai gangguan masih terjadi
baik yang datang dari luar maupun dari dalam.
Gangguan yang
datang dari dalam yaitu berupa perselisihan di antara elite penguasa. Disamping
itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur
Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Adapun gangguan yang datang dari luar
yaitu datangnya dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang tinggal di daerah
pegunungan.
2. Periode Kedua (755-912 M )
Pada periode
ini Spanyol berada di bawah pemerintahan khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir
pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol, tahun 138 H/755 M dan
diberi gelar Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdurrahman Ad-Dakhil adalah keturunan Bani
Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbasiyah ketika Bani Abbasiyah
berhasil menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya Ad-Dakhil berhasil
mendirikan Dinasti Umayyah di Spanyol.
Saat periode
ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan baik dalam bidang politik
maupun peradaban. Abdurrahman Ad-Dakhil mendirikan Masjid Cordova dan
sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Pada periode
ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar
“An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok”. Pada periode ini Spanyol di
perintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Pada periode ini umat Islam di
Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi daulah Abbasiyah di
Baghdad. Abdurrahman An-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya
memiliki ratusan ribu buku. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati
kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi.
4. Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada masa ini
Spanyol sudah terpecah-pecah menjadi beberapa Negara kecil yang berpusat di
kota-kota tertentu. Bahkan pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari
30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth
Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Sevilla, Cordova, Toledo dan
sebagainya. Pada periode ini umat Islam di Spanyol kembali memasuki pertikaian
intern. Ironisnya jika terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang
bertikai itu meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Namun, walaupun
demikian, kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana
mendorong para sarjana Dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu
istana ke istana yang lain.
5. Periode Kelima (1086-1248)
Pada periode
ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi
terdapat satu kekuatan yang dominan yakni kekuasaan Dinasti Murabhitun
(1086-1143) dan Dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada
mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf bin Tasyfin fi
Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang
berpusat di Marakesy. Dan akghirnya dapat memasuki Spanyol dan menguasainya.
Dalam perkembangan selanjutnya, pada periode ini kekuasaan Islam Spanyol
dipimpin oleh penguasa-penguasa yang lemah sehingga mengakibatkan
beberapa wilayah Islam dapat dikuasai oleh kaum Kristen. Tahun 1238 M Cordova
jatuh ke tangan kekuasaan Kristen dan Sevilla jatuh pada thun 1248 M. Hampir
seluruh wilayah Spanyol Islam lepas dari tangan penguasa Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492)
Pada periode
ini Islam hanya berkuasa di Granada di bawah dinasti Ahmar (1232-1492).
Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir.
Akan tetatp, secara politik dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil.
Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini
berkahir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan.
Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk
anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Ia memberontak dan berusaha
merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan
oleh Muhammad bin Sa’ad, abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand
dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan
penguasa yang sah, dan Abdu Abdullah naik tahta.
Ferdinand dan
Isabella akhirnya mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan,
dan akhirnya mereka menyerang balik terhadap kekuatan Abu Abdullah. Abu
Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan kekuatan Kristen tersebut
sehingga pada akhirnya kalah. Abu Abdullah akhirnya menyerahkan kekuasaan
kepada Ferdinand dan Isabella, sedangkan Abu Abdullah hijrah ke Afrika Utara.
Dengan demikian, berakhirlah keuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M. Pada
tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di wilayah ini.
Walaupun Islam telah berjaya dan dapat berkuasa di sana selama hampir tujuh
setengah abad lamanya.
KEMAJUAN PERADABAN ISLAM DI SPANYOL
Kemajuan Islam di Spanyol sangat menonjol dalam berbagai bidang,
baik dalam bidang intelektual yang mnyebabkan kebangkitan Eropa saat ini,
bidang kebudayaan dalam hal ini bangunan fisik atau arsitektur, maupun
bidang-bidang lainnya. Puncak kemajuan paradaban Islam di Spanyol berdampak
bagi kemajuan peradaban Eropa.
1. Kemajuan Intelektual
a. Filsafat
Perkembangan
fildsafat di Andalusia di mulai sejak pada abad ke-8 hingga abad ke-10.
Manuskrip-manuskrip Yunani telah diteliti dan diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab. Pada masa khalifah Abbasiyah, Al-Mansyur (754-755 M) telah dimulai
aktivitas penerjemahan hingga masa khalifah Al-Makmun (813-833 M). Ada masanya
banyak karya Aristoteles yang diterjemahkan.
Tokoh utama dan
pertama dalam sejarah filsafat Arab Spanyoladalah Abu Bakar Muhammad bin
As-Sayigh yang dikenal dengan Ibnu Bajjah. Masalah yang bin qzhan. Tokoh
Yadikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir
Al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr bin Thufail, karyanya adalah
Hayy bin Yaqzhan. Tookoh filsafat Islam lainnya adalah Ibnu Rusyd yang di Eropa
terkenal dengan Averros dari Cordova (1126-1198 M), pengikut aliran
Aristoteles. Di samping sebagai tokoh filsafat, ia juga dikenal sebagai
ulama fiqh penulis Bidayat Al-Mujtahid. Averros juga menulis buku kedokteran
Al-Kulliyah fi Ath –Thib.
b. Sains
Sains yang terdiri dari ilmu-ilmu kedokteran, fisika, matematika,
astronomi,kimia,botani, zoologi, geologi,ilmu obat-obatan , juga berkembang
dengan baik. Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian
barat juga melahirkan pemikir terkenal.
Beberapa tokoh sains dalam bidang Astrnomi, yaitu Abbas bin Farnas
, Ibrahim bin Yahya An-Naqqash, Ibnu Safar, Al-Bitruji. Dalam bidang
obat-obatan antara lain Ahmad bin Iyas dari Cordova, Ibnu Juljul, Ibnu Hazm,
Ibnu Abdurrahman bin Syuhaid. Adapun di bidang kedokteran, yaitu Ummul Hasan
binti Abi Ja’far seorang tokoh dokter wanita. Dalam bidang Geografi, yaiutu
Ibnu Jubar dari Velencia (1145-1228M), Ibnu Batuthah dari Tangier (1304-1377 M)
pengeliling dunia sampai Samudra Pasai (Sumatra) dan Cina. Sedangkan Ibnu
Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah, penulis buku Muqadimah.
a. Bahasa dan Sastra pada masa
Islam di Spanyol banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, di antaranya:
Ibnu Sayyidah, Muhammad bin malik, pengarang Alfiyah (tata bahasa arab), Ibnu
Khuruf, Ibnu Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan bin Usfur dan Abu Hayyan
Al-Gharnati.
Dalam bidang sastra banyak bermunculan, seperti Al-Aqd Al-Farid
karya Ibnu Abd Rabbih, Adz-Dzakirah fi Mahasin Ahl Al-Jazirah karya Ibnu
Bassam, Kitab Al-Qalaid karya Al-Fath bin Khaqan, dan lain-lain.
b. Musik dan Kesenian
Musik dan kesnian pada masa Islam di Spanyol sangat masyur. Musik
dan seni banayk memperoleh apresiasi dari para tokoh penguasa istana.
Tokoh seni dan musik antara lain: Al-Hasan bin Nafi yang mendapat gelar Zaryab.
Zaryab juga terkenal sebagai pencipta lagi-lagu.
2. Bidang Keilmuan Keagamaan
a. Tafsir
Salah satu mufasir yang terkenal dari Andalusia adalah Al-Qurtubi.
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Sahmad bin Abu Bakr bin Farh
Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi (wafat 1237 M). Adapun karyanya dalam
bindang tafsir adalah Al-Jami’u li Ahkam Alquran, kitab tafsir yang terdiri
dari 20 jilid ini dikenal dengan nama Tafsir Al-Qurtubi.
b. Fiqh
Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai pusat penganut
mazhab Maliki. Adapun yang memperkenalkan mahzab ini di Spanyol adalah Ziyad
bin Abd Ar-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentiukan oleh Ibnu Yahya yang
menjadi qadhi pada masa Hisam bin Abdurrahman. Para ahli fiqh lainnya
adalah Abu Bar bin Al-Qutiyah, Muniz bin Sa’id Al-Baluthi, Ibnu Rusyd, penulis
kitab Bidayah Al-Mujthahid wa Nihayah Al-Muqtasid, AsySyatibi, penulis buku
Al-Muwafaqat fi Ushul Asy-Syari’ah (ushul fiqh) dan Ibnu Hazm.
3. Kemajuan di bidang arsitektur bangunan.
Kemegahan bangunan fisik Islam Spanyol sangat maju, dan mendapat
perhatian umat dan penguasa. Umumnya bangunan-bangunan di Andalusia memiliki
nilai arsitektur yang tinggi. Jalan-jalan sebagai alat transportasi dibangun,
pasar-pasar dibangun untuk membangun ekonomi. Demikian pula, damdam,
kanal-kanal, sakuran air, dan jembatan-jembatan.
a. Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam yang kemudian diambil
alih oleh Dinasti Umayyah. Kota Kordova oleh penguasa muslim dibangun dan
diperindah. Jembatan besar dibangun di atas sungai yang mengalir di tengah
kota. Taman-taman dibangun untuk menghiasi ibukota Islam Spanyol itu.
pohon-pohon yang megah diimpor dari timur. Di seputar ibukota berdiri
istana-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan . setiap istana
dan taman diberi nama tersendiridan di puncaknya terpancang istana Damsik. Di
antara kebanggaan kota Cordova lainnya adalah mesjid Cordova. Kota Cordova
memiliki 491 mesjid.
b. Granada
Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Di
sini berkumpul sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova
diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol.
Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana
Al-Gambra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur
Spanyol Islam. Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bisa bisa
diperpanjang dengan kota dan istana Al-Zahra, istana Al-Gazar, dan menara Girilda.
c. Sevilla
Kota Sevilla dibangun pada masa pemerintahan Al-Muwahidin. Sevilla
pernah menjadi ibukota yang indah bersejarah. Semula kota ini adalah rawa-rawa.
Pada masa Romawi kota ini bernama Romula Agusta, kemudian diuba menjadi
Asyibiliyah (Sevilla). Sevilla telah berada di bawah kekuasaan Islam selaaama
kurang lebih 500 tahun. Salah satu bangunan masjid yang didirikan pada tahun
1171 pada masa pemerintahan Sultan Yusuf Abu Ya’kub,kini telah beruba dari
mesjid menjadi gereja dengan nama Santa Maria dela Sede. Kota Sevilla jatuh ke
tangan Ferdinand pada tahun 1248 M.
d. Toledo
Toledo merupakan kota penting di Andalusia sebelum di kuasai Islam.
Ketika Romawi menguasai kota Toledo, kota ini dijadikan ibu kota kerajaan. Dan
ketika Thariq bin Ziyad menguasai Toledo tahun 712 M, kota ini dijadikan pusat
kegiatan umat Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan penerjemahan.
Toledo jatuh dari tangan umat Islam setelah direbut oleh Raja Alfenso VI dari
Castilia. Beberapa peninggalan bengunan masjid di Toledo kini dijadikan gereja
oleh umat kristen.
Banyak faktorpendukung kemajuan Islam di Spanyol, antara lain
didukung oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan beribawa, yang mampu
mempersatukan kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman Ad-Dakhil, Abdurrahman
Al-Wasith, dan Abdurrahman An-Nashir
Keberhasilan politik para pemimpin tersebut ditunjang oleh
kebijaksanaan para penguasa lainnya yang mempelopori kegiatan ilmiah. Di antra
mereka penguasa DInasti Umayyah di Spanyol yang berjasa adalah Muhammad bin
Abdurrahman ( 852-886 M, dan Al-Hakam II Al-Munthasir (961-976 M).
Di samping itu, toleransi ditegakkan oleh para penguasa terhadap
penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi
mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah di Baghdad dan
Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa
peperangan. Sejak abad ke-11 M, dan seterusnya, banyak kalangan cendekiaean
mengadakan perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung Timur, sambil
membawa buku-buku dan gagasan-gagasan, hal ini menunjukkan bahwa meskipun umat
Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik terdapat apa yang disebut
kesatuan budaya dalam Islam.
Adapun menurut Badri Yatim, sebab-sebab yang menjadikan kemunduran
dan kehancuran Islam Spanyol antara lain disebabkan:
a. Konflik penguasa Islam
dengan penguasa Kristen,
b. Tidak adanya ideologi pemersatu,
c. Akrena kesulitan ekonomi,
d. Tidak jelasnya sistem peralihan
kekuasaan, dan
e. Karena letaknya yang terpencil
dari pusat wilayah dunia Islam yang lain.
F. PENGARUH PERADABAN SPANYOL ISLAM DI EROPA
Spanyol merupakan tempat paling utama bagi Eropa untuk menyerap
peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial maupun perekonomian
dan peradaban antarnegara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa
Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh menunggalkan negara-negara
tetangganya di Eropa, terutama dalam pemikiran dan sains di samping bangunan
fisik.
Tokoh Spanyol Islam yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran di
Eropa adalah Ibnu Rusyd, yang dikenal di Eropa dengan Averros (1120-1198 M).
Averros dikenal sebagai orang yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan
kebebasan berpkir. Ia menguras pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat
minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunatullah menurut
pengertian Islam terhadap ajaran pantheismedan anthropomorphisme Kristen.
Pengaruh Averros demikian besar di Eropa, sehingga muncul gerakan Averroeisme
(Ibnu Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak
pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini.
Dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir
reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M. Beberapa buku
karya Ibnu Rusyd dicetak di Venesia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M.
Karya-karya Ibnu Rusyd juga diterbitkan pada abad ke-16 di Napoli, Bologna,
Lyons, dan Strasbourg, dan di awal abad ke-17 de Jenewa.
Pengaruh-pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran
Ibnu Rusyd ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa
yang berawal dari belajar di berbagai universitas Islam di Spanyol, seperti
Universitas Cordova, Sevilla, Malaga< Granada, dan Samalanca. Selama belajar
di Spanyol, mereka aktif menerjemah-kan buku-buku karya ilmuwan muslim, Pusat
penerjemahan buku adalah di Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka
mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Uneversitas pertama di Eropa
adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun
setelah wafatnya Ibnu Rusyd. Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18
buah universitas. Di dalam universitas-universitas tersebut, ilmu yang mereka
peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, sperti ilmu kedokteran,
ilmu pasti dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari
adalah pemikiran Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak
abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance)
pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di
Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan
kemudian diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Latin.
Akan tetapi walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol
dengan cara yang sangat kejam, namun ia telah membidani gerakan-gerakan penting
di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani
klasik (renaissance)pada abad ke -14 M, yang bermula di Italia, gerakan
reformasi pada abad ke-16, rasionalisme pada abad ke-17, dan pencerahan
(Aufklarung) pada abad ke-18 M.
Demikian juga bahasa Arab telah berpengaruh besar di Eropa. Selama
Islam berada di Andalusia, telah banyak nama-nama benda yang dikenal di Barat
berasal dari bahasa Arab. Karena lamanya Islam di sana, tidak kurang dari 7.000
kata-kata Spanyol yang berasal dari bahasa Arab.
Di antara kata-kata bahasa Arab banyak yang masuk ke dalam suku
kata bahasa Eropa seperti ke dalam bahasa Spanyol, Inggris, Prancis, dan
Jerman. Misalnya kata-kata: as-sukkar (gula) menjadi azukar (Spanyol), sugar
(Inggris), al-kuhul (alcohol) menjadi alkohol, al-fil (gajah) menjadi marfil,
syarab (minuman cair) menjadi syrup, dan lain-lain.
Demikian besar pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa, sehingga
jika sayja masyarakat Eropa tidak mempelajari peradaban-peradaban Islam, bukan
tidak mustahil bahwa Eropa masih tertinggal di belakang dalam hal peradaban
dunia. Bangsa Eropa maju dalam ilmu pengetahuan dan peradaban dikarenakan
mereka belajar kepada kaum muslimin terutama melalui berbagai literatur dari
hasil karya kaum muslimin di Andalusia Spanyol.
G. TRANSMISI ILMU-ILMU KEISLAMAN KE EROPA
Semenjak abad ke-11 M, umat Islam mendapat serangan dari berbagai
jurusan. Di Andalusia, umat Kristen semenjak Raja Ferdinand I (1035-1065 M)
mempersatukan kekuatan membentuk Kerajaan Leon yang kuat, mulai menyerang
kekuasaan Islam guna merebut kembali daerah-daerah mereka sehinga penyatuan
kekuatan mereka itu merupakan awal dari pengusiran umat Islam dari Andalusia.
Di pantai timur Laut Tengah, umat Islam mendapat serbuan tentara Salib selama
dua abad. Di Timur sejak abad ke-10 M, khalifah Abbasiyah sudah tidak mempunyai
kekuatan lagi. Kekuasannya telah diambil oleh sultan-sultan Buwaihi, kemudian
oleh Bani Saljuk. Hilangnya kekuasaan khalifah itu menjadi sempurna setelah
datangnya Hulagu menyapu bersih kota Baghdad dari permukaan bumi.
Umat Islam kehilangan segala sesuatu yang pernah dimiliki. Namun,
terjadi sesuatu yang diluar dugaan manusia, ternyata bangsa yang menghancurkan
daulah Islamiyah yang berpusat di Baghdad itu, keturunannya justru menjadi
pembangun dan pembela agama Islam dan kebudayaannya yang gigih sehingga agama
Islam menjadi tumbuh dan mekar kembali.
Demikian juga di luar daerah bekas kekuasaan Dinasti Abbasiyah
yaitu daerah Andalusia dan Afrika Utara, kebudayaan Islam tidak musnah bahkan
mengalir dan berpindah ke Eropa membangun zaman renaissance Eropa.
Sebenarnya transmisi ilmu pengetahuan Islam mengalir ke Eropa
melalui berbagai jalur. Jalur-jalur tersebut adalah melalui perang Salib,
Negeri Sicilia, dan Spanyol (Andalusia).
1. Melalui Perang Salib
Perang Salib yang terjadi dari tahun 1096-1273 M (489-666 H) adalah
perang antara umat Kristen Eropa Barat ke tanah Timur khususnya Palestina yang
dikuasai daulah Islam. Perang ini dinamakan Perang Salib karena tentara Kristen
memakai tanda Salib dalam Peperangan tersebut.
Dengan adanya Perang Salib ini banyak membawa keuntungan bagi benua
Eropa. Perhubungan orang Kristen dengan orang Timur Tengah memberikan kemajuan
dalam berbagai bidang. Ketika kembali ke Eropa kapal-kapal mereka membawa
barang-barang berharga seperti kain tenun sutera, bejana dari porselin, dan
lain-lain. Sedang dari jenis tumbuh-tumbuhan yang dibawa ke Eropa antara lain:
sejenis biji-bijian, tanaman padi, pepohonan jeruk, semangka, bawang putih,
tumbuhan obat-obatan, tumbuhan yang mengandung zat pewarna dan rempah-rempah.
Ketika Frederick II, kaisar Jerman membawa angkatan perangnya
ke Palestina dalam rangka Perang Salib (1128-1129 M), sepulangnya dari sana ia
telah meletakkan dasar pendirian perguruan tinggi, Universitas Napels.
Menurut Philip . Hitti, dalam The Arabs A Short History, bahwa
sumbangan Frederick yang terbesar adalah pendirian Universitas di Napels pada
tahun 1224, salah satu universitas pertama di Eropa yang ditegakkan dengan
sebuah piagam yang jelas dan terang. Di sini ia menghimpun sebuah kumpulan
besar naskah-naskah Arab, buku-buku Aristoteles dan Averros yan diminta untuk
diterjemahkan digunakan dalam daftar pelajaran, salinan terjemahan tersebut
dikirimkan ke Universitas di Paris dan Bologna. Selama abad ke-14 dan abad-abad
berikutnya, kitab-kitab pengetahuan Arab merupakan bagian yang penting pada
perbagai universitas di Eropa, termasuk Oxford dan Paris, walaupun sesungguhnya
dengan tujuan-tujuan lain, yaknimuntuk mendidik pendeta-pendeta Katolik ke
negara-negara Islam.
2. Melaui Negeri Sicilia
Satu lagi transmisi mengalirnya ilmu pengetahuan Islam ke Eropa
yaitu melalui pulau Sicilia (Siqiliyah).
Pada awalnya abad kedelapan Masehi, banyak orang-orang Arab yang
mencoba untuk singgah di Sicilia, tetapi gagal. Ini dimulai bersamaan dengan
usaha masuk ke Andalusia. Pada tahun 727 M, kekuatan tentara di bawah pimpinan
Bisyr bin Safwan telah mencapai Sicilia, semula ia pengusaha di Maroko.
Penyerangan ke Sicilia kembali diusahakan pada tahun itu juga di bawah pimpinan
Usman bin Abu Ubaida dan di bawah pimpinan Mustari bin Haris, meskipun keduanya
gagal.
Eksbisi Arab dari Syiria telah sampai di Sicilia pada tahun 730 M.
Di bawah pimpinan Abdul Malik bin Qatan telah melakukan hal serupa pada tahun
732 M.
Bisa dikatakan pada abad ke-8 hingga awal abad ke-10, suasana pulau
Sicilia tidak pernah tenang dari guncangan dari dalam dan luar negeri. Pada
tahun 827 M (212 H), Emir Ziyadatullah bin Ibrahim (817-838 M) dari Dinasti
Aghlabiah di Afrika Utara, pasukan Islam berhasil mendarat di Pulau Sicilia,
atas undangan Ephemius dan bantuan penduduknya.
Sebagai titik persentuhan dari dua lapangan kebudayaan, maka pulau
Sicilia teristimewa merupakan alat penghubung untuk meneruskan pengetahuan kuno
dan pengetahuan abad pertengahan. Sebagian rakyatnya terdiri dari elemen Yunani
yang berbahasa Yunani, sebagian dari elemen muslim yang berbahasa Arab, dan
suatu golongan serjana yang paham akan bahasa latin.
Sejak raja-raja Norman dan para penggganti kerajaan Sicilia
menguasai bukan hanya pulau tersebut, melainkan juga Italia Selatan, maka
merekalah yang merupakan jembatan untuk menyeberangkan berbagai kebudayaan
Islam ke semenanjung Italia dan Eropa Tengah.
Ada dua jembatan penyeberangan filsafat Islam ke Eropa, pertama
melalui orang-orang Islam Andalusia (Spanyol), kedua melalui orang-orang
Sicilia. Sebenarnya tidak hanya filsafat, tetapi juga matematika, astronomi,
maupun obat-obatan.
Sumbangan Sicilia dan Itali sebagai tempat penyeberangan ilmu-ilmu
keislaman ke Eropa memang tidak sehebat Andalusia, nama seperti Gerard of
Cremona (1114-1187 M) berasal dari Itali, banyak melakukan penerjemahan dari
buku-buku yang asalnya berbahasa Arab.
Ketika
orang-orang Norman menguasai Sicilia sejak tahun 1060 M, mulailah tumbuh
kebudayaan Kristen-Islam. Hal etrsebut dikarenakan Roger I adalah orang
Kristen, meskipun kurang terpelajar, banyak ilmuwan Arab yang dilindungi, dari
ahli-ahli filsafat, astrologi sampai ke tabib. Islam di Palermo lebih cenderung
ke gaya Timur daripada ke Barat. Meskipun kerajaannya beragama Kristen,
tetapi jabatan tinggi di kerajaan dipercayakan kepada orang-orang Islam. Ektika
Roger II (1130-1154 M) berkuasa, ia senang berpakain ala orang Islam, pakaian
yang dihiasi dengan huruf-huruf Arab. Pada masanya, Al-Idrisi adalah ilmuwan
muslim yang berjasa di kerajaannya, ia telah menyumbangkan karyanya sebuah
globe (bola dunia) dari perak kepada Roger II. Bermula dari peta dunia karya
Al-Idrisi inilah yang akhirnya menuntun para penjelajah Eropa mengelilingi
dunia.
Beberapa
disiplin ilmu telah diperkenalkan dan dikembangkan di Sicilia. Di antara
tokoh-tokoh yang mengembangkan ilmu di Sicilia adalah
1) Hamzah
Al-Basri, ahli filologi dan perawi dari penyair-penyair besar Arab
Al-Mutanabbi. Ia hijrah ke Sicilia, hingga meninggal dunia di sana pada tahun
985 M.
2) Muhammad bin
Khurasan, ahli stutus Alquran (sejarah hermeneetik dan sejaran perkembangan
huruf-huruf Alquran), ia berasal dari Mesir lalu ke Irak, dan terakhir ke
Sicilia, hingga meninggal di sana tahun 996 M. Tokoh ilmu Alquran yang
lain seperti Ismail bin Khalaf (w.1063 M) yang belajar di Mesir dan pernah
menjadi imigran ke Andalusia. Karyanya terbesar yang masih berupa manuskrip
adalah Kitab Al-Unwan fi Al-Qira’at, terdapat di museum perpustakaan Berlin,
Istambul dan Bankipor.
3) Para dokter
Sicilia antara lain Abu Sa’id bin Ibrahim; Abu Bakr As-Siqili salah seorang
guru besar dari para dokter; Ibnu Abi Usaibia. Abu Abbas Ahmad bin Abdussalam
menulis tentang salah satu komentar terhadap karya Ibnu Sina.
4) Masih banyak
lagi yang bergerak dalam berbagai bidang, antara lain dalam bidang bahasa dan
sastra. Termasuk yang menarik adalah karya Dante, dante memang banyak tahu
tentang Islam. Menurut Muguel Asin Lapacious ia menduga bahwa karya Dante,
Divine Comedy, banyak terpengaruh karya Abul A’la Al-Ma’ari, Risalat
Al-Ghufran, dan Ibnu Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah, serta karya-karya yang
lain.
3. Melalui Andalusia (Spanyol)
Peran Andalusia
(Spanyol) sebagai wahana penyeberangan ilmu pengetahuan ke Eropa tidak
diragukan lagi.
Semasa Islam di
Andalusia, ada sejumlah perguruan tinggi terkenal di sana. Perguruan-perguruan
tinggi itu antara lain Universitas Cordova, Sevilla, Malaga, dan Granada. Di
kota Cordova di samping memiliki universitas, juga memiliki gedung perpustakaan
terbesar dan terindah pada masanya dengan lebih kurang 400.000 jilid dengan katalognya
44 jilid. Banyak peminat yang belajar ke universitas itu dari berbagai penjuru.
Pelajaran yang
diberikan di Universitas Granada antara lain ilmu ketuhanan, yurisprudensi,
kedokteran, kimia, filsafat, dan astronomi. Terdapat pula gedung-gedung perpustakaan,
ruang untuk diskusi dan rumah sakit. Setelah Granada ajtuh pada tanggal 2
Januari 1492 ke tangan Ferdinadn dan istrinya Isabella, buku-buku yang
berbahasa Arab dibakar atas perintahnya.
Para penulis
ilmu dikalangan luar Islam yang pernah di Andalusia dalam bidang matematika,
astronomi, astrologi, obat-obatan, kedokteran, filsafat, kimia, dan lain-lain.
Di antara mereka tercatatlah nama-nama seperti dari Prancis Gerbert d’Aurilac
yang kelak menjadi populer di Prancis dengan gelar Sylvester II. Ia belajar
selama 3 tahun di Toledo.
Adapun
nama-nama lain seperti Adelard dari Bath, Robert dari Chester, Hernan dari
Cathiria, dan Gerard dari Cremona. Adapun orang-orang Nasrani setempat yang
menaruh perhatian terhadap perpindahan keilmuwan antara lain: Dominicus
Gondisalvi, Hugh dari Santalla, Petrus Alphose, John Seville, Savasonda dan
Abraham Ezra. Mereka banyak menerjemahkan karya-karya para sarjana Islam di
Barcelona, Tarazona, Segovia, Leon, Pamlona, dan daerah selatan Prancis seperti
Toulouse, Beziers, dan Marseille.
Peran Gerard
dari Cremona cukup besar dalam transfer ilmu pengetahuan dari Andalusia ke
Eropa, ini dikarenkaan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Ketika pertama kali
tiba di Toledo, ia amat menyesal akan kekkurangan dan kemiskinan dalam bahasa
Arab. Oleh karena itu, ia mempelajari bahasa Arab sehingga ia dapat entransfer
ilmu-ilmu dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Gerard meninggal pada tahun 1187 M
dalam usia 87 tahun setelah menerjemahkan 71 buku berbahasa Arab. Aneka bidang
ilmu telah diterjemahkan, seperti ilmu matematika, astronomi, geografi,
aljabar, dan ilmu kedokteran. Dapatlah dikatakan bahwa Gerard mempunyai andil
besar dalam mentransfer ilmu dari Andalusia ke Eropa.
Selain Gerard
masih ada yang lain, seperti Roger Bacon (1214-1219 M), Michael Scott, dan
lain-lain. Mereka semua ketika mula pertama sampai di Andalusia, tidak mengerti
bahasa Arab. Mereka juga belajar atas jasa orang Yahudi yang telah masuk Islam.
Mislanya Gerard memakai jasa Gallipus, Michael Scott telah menggunakan jasa
Andrew. Tidak jarang dalam penerjemahan ini mereka mnggunakan sistem dari
bahasa Arab ke bahasa Spanyol, lalu dari bahasa Spanyol barulah diterjemahkan
ke bahasa Latin. Ada juga diterjemahkan ke bahasa Hebrew. Tidak jarang, karena
kesulitan menerjemahkan istilah-istilah dari bahsa Arab, maka bahsa aslinya
tetap digunakan. Itulah sebabnya banyak istilah Arab yang menjadi istilah
bahasa ilmu pengetahuan. Misalnya aljabar menjadi algebra.
Di Andalusia
sedikit demi sedikit umat Islam kehilangan wilayah kekuasaannya. Mula-mula kota
Toledo direbut oleh Kristen pada tahun 1085 M, hilangnya pusat sekolah tinggi
dan pusat ilmu pengetahuan Islam beserta segala isinya yang terdiri dari
perpustakaan beserta ilmuwan-ilmuwannya.
Tahun 1236 M,
menyusul Cordova dirampas oleh Raja Alfonso VII dari Castilia, maka hilang pula
pusat kebudayaan dunia di sebelah barat beserta masjid raya Cordova yang
didirikan oleh amir-amir Umayyah di Andalusia, perpustakaan yang didirikan oleh
Hakam II dengan buku-bukunya dari segala cabang ilmu. Kehilangan itu terus
berlanjut kota demi kota, menyusul Sevilla, Malaga, dan Granada. Akhirnya umat
Islam beserta raja Bani Ahmar terakhir, Abu Abdullah, harus terusir dari
Andalusia. Tanah airnya yang telah ditempati lebih dari 75 abad dengan meninggalkan
apa yang pernah diciptakan, baik kebudayaan secara fisik berupa peradaban dan
ilmu pengetahuan, maupun miliknya secara rohani berupa penganut Islam dari
penduduk asli Andalusia yang digelari Muzarabes (Mustaribun) yang dipaksa untuk
menjadi Kristen kembali. Golongan Muzarabes inilah yang mengalirkan ilmu
pengetahuan Islam ke Eropa.
Penyaluran ilmu
pengetahuan ke Eropa dimulai ketika Toledo jatuh ke tangan Kristen. Untuk
mempermudah penyerapan ilmu-ilmu Arab, di Toledo didirikan sekolah tinggi
terjemah. Pekerjaan ini dipimpin oleh Raymond. Buku-buku yang disalin adalah
buku-buku bahasa Arab yang masih tersisa dari pembakaran. Penerjemah Bahgdad
banyak yang pindah ke Toledo, terutama yang berasal dari bangsa Yahudi.
Sebagian besar dari mereka dapat menguasai bahasa Arab, Yahudi, Spanyol, dan
Latin. Di antara penerjemah yang terkenal adalah Avendeath (Ibny Daud, bangsa
Yahudi), yang menyalin buku astronomi dan astrologi dalam bahasa Latin. Satu
lagi Gerard Cremona, mencoba mengimbangi pekerjaan Hunain bin Ishak menyalin
buku-buku filsafat, amtematika, dan ilmu kedokteran.
Demikianlah,
kemudian Toledo menjadi pusat perkembangan ilmu-ilmu Islam ke dunia barat.
Peranan Toledo bertambah lengkap setelah umat Islam diusir dari Andalusia.
Buku-buku yang tersisa dari kota-kota lain di Andalusia seperti Cordova,
Sevilla, Malaga, dan Granada, dapat mereka manfaatkan. Bangsa Barat benci
terhadap Islam, akan tetapi haus kepada ketinggian ilmu dan peradabannya.
F. Peradaban islam di indonesia
A. Peradaban Islam Sebelum Kemerdekaan
Islam tersebar di
Indonesia melalui pedagang yang berdagang ke Indonesia, di mana masyarakat
Indonesia sebelum Islam mayoritas memeluk agama Hindu. Islam tersebar di
Indonesia pada abad pertama Hijriyah atau abad ketujuh sampai ke delapan Masehi.Daerah
yang pertama pertama di kunjungi oleh penyebar Islam adalahsebagaiberikut:
1.
Pesisir utara pulau Sumatera, yaitu di peureulak Aceh Timur,
kemudian meluas sampai bisa mendirikan kerajaan Islam pertama di Samudera
Pasai, Aceh Utara.
2.
Pesisir utara pulau Jawa kemudian meluas sampai ke Maluku yang
selama beberapa abad menjadi pusat kerajaan Hindu yaitu kerajaan Maja Pahit
Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia khususnya di jawa tak lepas dari
para wali-wali kita yang di sebut dengan wali sembilan (wali songo) , Islam
datang tidak dengan melakukan penjajahan dan peperangan, melainkan dengan
damai. Sebaliknya Barat datang ke Nusantara dengan melakukan penjajahan dan
politik pecah belah dengan tujuan menguasai perdagangan, ekonomi, dan kekayaan alam
yang terkandung di wilayah Nusantara ini.
Ada tahapan “masa” yang di lalui atau pergerakan islam sebelum
kemerdekaan, yaitu:
1. Pada Masa Kesultanan
Daerah
yang sedikit sekali disentuh oleh kebudayaan Hindu-Budha adalah daerah Aceh,
Minangkabau di Sumatera Barat dan Banten di Jawa. Agama islam secara mendalam
mempengaruhi kehidupan agama, social dan politik penganut-penganutnya sehingga
di daerah-daerah tersebut agama islam itu telah menunjukkan dalam bentuk yang
lebih murni. Dikerajaan tersebut agama islam tertanam kuat sampai Indonesia
merdeka. Salah satu buktinya yaiut banyaknya nama-nama islam dan
peninggalan-peninggalan yang bernilai keIslaman.
Pertumbuhan
komunitas Islam di Indonesia bermula di berbagai pelabuhan-pelabuhan penting di
Sumatra, Jawa, dan Pulau lainnya. Hal ini di karenakan penyebaran Islam di
Indonesia pertam-tama dilakukan oleh para pedagang. Kerajaan-kerajaan Islam
yang pertama berdiri juga di daerah pesisir seperti: Samudra Pasai, Aceh,
Demak, Banten dan Cirebon, Ternate dan Tidore. Dari sana kemudian Islam
menyebar kedaerah-daerah sekitar.
Di
samping merupakan pusat-pusat politik dan perdagangan, ibukota kerajaan juga
merupakan tempat berkumpul para ulama dam mubaligh Islam. Ibn Bathutah
menceritakan, sultan kerajaan samudra pasai, Sultan Malik al-Zahir, dikelilingi
oleh ulama dan mubaligh Islam, dan raja sendiri sangat menggemari diskusi
mengenai masalah-masalah keagamaan. Di Aceh, raja-raja mengangkat para ulama
sebagai penasehat dan pejabat di bidang keagamaan. Kedudukan ulama sebagai
penasehat raja tidak hanya di Aceh saja, tetapi juga terdapat di
kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Disamping sebagai penasehat raja, para ulama
juga duduk dalam jabatan-jabatan keagamaan yang tingkat dan namanya
berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, pada umumnya disebut
qadhi.
Ulama
sangat berperan di samping sebagai penyebar agama juga berpartisipasi dalam
bidang pendidikan. Ada dua cara yang dilakukan oleh para ulama terkait dengan
bidang pendidikan. Pertama, membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas
sebagai mubaligh ke daerah-daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan di dalam
lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan pesantren atau langgar di
Jawa, Dayah di Aceh dan Surau di Minangkabau. Waktu belajar diatur sesuai
dengan kondisi pesantren masing-masing. Mata pelajaran yang terpenting adalah
Ushuluddin, Ushul Fiqh, fiqh dan Arabiyah. Kondisi pendidikan semacam itu
berlangsung dan terus berkembang terus menerus dari tahun ke tahun sampai
sesudah tahun 1900. Para pemimpin pergerakan Nasional sadar bahwa
penyelenggaraan pendidikan yang seperti itu harus dirubah dan memasukkan
pendidikan yang bersifat Nasional ke dalam perjuangannya. Maka lahirlah
sekolah-sekolah partikular atas usaha perintis kemedekaan. Sekolah itu
mula-mula bercorak sesuai dengan polotik seperti Taman Siswa, Kesatrian,
Institut dan lain-lain yang bercorak Islam.
Islam
di Jawa, pada masa pertumbuhannya diwarnai kebudayaan jawa, ia banyak
memberikan kelonggaran pada sistem kepercayaan yang dianut agama Hindu-Budha.
Hal ini memberikan kemudahan dalam islamisasi atau paling tidak mengurangi
kesulitan-kesulitan. Para wali terutama Wali Songo sangatlah berjasa dalam
pengembangan agama islam di pulau Jawa.
Menurut
buku Babad Diponegoro yang dikutip Ruslan Abdulgani dikabarkan bahwa Prabu
Kertawijaya penguasa terakhir kerajaan Mojo Pahit, setelah mendengar penjelasan
Sunan Ampel dan sunan Giri,ia tidak melarang rakyatnya untuk memeluk agama baru
itu (agama islam), asalkan dilakukan dengan kesadaran, keyakinan, dan tanpa
paksaan atau pun kekerasan.
2. Pada Masa Penjajahan
Dengan
datangnya pedagang-pedagang barat ke Indonesia yang berbeda watak dengan
pedagang-pedagang Arab, Persia, dan India yang beragama islam, kaum pedagang
barat yang beragama Kristen melakukan misinya dengan kekerasan terutama dagang
teknologi persenjataan mereka yang lebih ungggul daripada persenjataan
Indonesia. Tujuan mereka adalah untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan islam di
sepanjang pesisir kepulauan nusantara. Pada mulanya mereka datang ke Indonesia
untuk menjalin hubungan dagang, karena Indonesia kaya dengan rempah-rempah,
kemudian mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut.
Waktu
itu kolonial belum berani mencampuri masalah islam, karena mereka belum
mengetahui ajaran islam dan bahasa Arab, juga belum mengetahui sistem social
islam. Pada tahun 1808 pemerintah Belanda mengeluarkan instruksi kepada para
bupati agar urusan agama tidak diganggu, dan pemuka-pemuka agama dibiarkan
untuk memutuskan perkara-perkara dibidang perkawinan dan kewarisan.
Tahun
1820 dibuatlah Statsblaad untuk mempertegaskan instruksi ini. Dan pada tahun
1867 campur tangan mereka lebih tampak lagi, dengan adanya instruksi kepada
bupati dan wedana, untuk mengawasi ulama-ulama agar tidak melakukan apapun yang
bertentangan dengan peraturan Gubernur Jendral. Lalu pada tahun 1882, mereka
mengatur lembaga peradilan agama yang dibatasi hanya menangani perkara-perkara
perkawinan, kewarisan, perwalian, dan perwakafan.
Apalagi
setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi menjadi penasehat urusan
Pribumi dan Arab, pemerintahan Belanda lebih berani membuat kebijaksanaan
mengenai masalah islam di Indonesia, karena Snouck mempunyai pengalaman dalam
penelitian lapangan di negeri Arab, Jawa, dan Aceh. Lalu ia mengemukakan
gagasannya yang dikenal dengan politik islamnya. Dengan politik itu, ia membagi
masalah islam dalam tiga kategori :
a. Bidang agama murni atau ibadah
Pemerintahan
kolonial memberikan kemerdekaan kepada umat islam untuk melaksanakan agamanya
sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda.
b. Bidang sosial kemasyarakatan
Hukum
islam baru bisa diberlakukan apabila tidak bertentangan dengan adat kebiasaan.
c. Bidang politik
Orang
islam dilarang membahas hukum islam, baik Al-Qur’an maupun Sunnah yang
menerangkan tentang politik kenegaraan dan ketata negaraan.
B. Peradaban islam Sesudah Kemerdekaan
1. Pendidikan
Setelah
Indonesia merdeka, terutama setelah berdirinya Departemen Agama, persoalan
pendidikan agama Islam mulai mendapat perhatian lebih serius. Badan Pekerja
Komite Nasional Pusat dalam bulan desember 1945 menganjurkan agar pendidikan
madrasah diteruskan. Badan ini juga mendesak pemerintah agar memberikan bantuan
pada madrasah. Departemen agama dengan segera membentuk seksi khusus yang
bertugas menyusun pelajaran dan pendidikan agama Islam, mengawasi pengangkatan
guru-guru agama, dan mengawasi pendidikan agama. Pada tahun 1948, didirikanlah
sekolah guru dan hakim Islam di Solo.
Perguruan
Tinggi Islam yang khusus terdiri dari fakultas-fakultas keagamaan mulai
mendapat perhatian kementrian Agama pada tahun 1950. Pada tanggal 12 Agustus
1950, Fakultas Agama di UII dipisahkan dan diambil alih oleh pemerintah dan
pada tangal 26 September 1951 secara resmi dbuka perguruan Tinggi baru dengan
nama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di bawah pengawasan Kementerian
Agama. Pada tahun 1957, di Jakarta didirikan Akademi Dinas Ilmu Agama ADIA).
Akademi ini dimaksudkan sebagai sekolah latihan bagi para pejabat yang berdinas
dalam pemerintahan dan untuk pengajaran agama di sekolah. Pada tahun 1960,
PTAIN dan ADIA disatukan menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), juga
dibawah Kementerian Agama.
2. Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Setelah
Indonesia merdeka Pertama kali Majelis Ulama Indonesia didirikan pada masa
Soekarno. Majelis ini pertama-tama berdiri di daerah-daerah, karena diperlukan
untuk menjamin keamanan. Di samping untuk tujuan pembinaan mental, rohani dan
agama masyarakat, oleh pemerintah waktu itu Majelis ini dimaksudkan untuk ikut
ambil bagian dalam “penyelenggaraan revolusi dan pembangunan semesta berencana”
dalam rangka Demokrasi Terpimpin”. Akan tetapi setelah Seokarno jatuh, baru
kegiatan-kegiatan Majelis ulama daerah meningkat. Meskipun majelis ini secara
nasional tidak mempunyai kendali dan cara kerja yang sama antara satu daerah
dengan daerah lain, karena majelis pusat praktis tidak berfungsi lagi.
3. Hukum Islam
Kemudian
setelah kemerdekaan didalamhukum islam diadakanusaha untuk mengundangkan
peraturan perkawinan secara Nasional yang sudah dimulai sejak tahun 1950 dengan
terbentuknya suatu panitia khusus yang diketuai oleh bekas Gubernur Sumatera,
Teuku Muhammad Hasan. Baru pada tahun 1958, hasil kerja panitia ini dibicarakan
dalam Dewan Perwakilan Rakyat, bersama-sama dengan suatu usul Rancangan
Undang-undang yang dimajukan oleh kalangan nasionalis.Kemudian mengusulkan RUU
yang baru pada tanggal 31 Juli 1973. Yang akhir inilah yang diundangkan pada
bulan Januari 1974. Kemantapan posisi hukum Islam dalam sistem hukum Nasional
semakin meningkat setelah Undang-undang Peradilan Agama diterapkan tahun 1989.
C. Peradaban Islam di Masa Reformasi Hingga Sekarang
Pasca
Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan
ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi
dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan
Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia,
misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi
sebelumnya.
Era
reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan
pikiran termasuk cara keberagaamaan.Kemudian lahirlah berbagai organisasi
islam.Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya
masing-masing.
Peradaban
islam Indonesia masa reformasi ini semakin maju. Reformasi dimulai dari kekuasaan
orde baru yang melakukan KKN korupsi kolusi dan Nepotisme. Sehingga para pemuda
khususnya mahasiswa yang dikomandani oleh cendikiawan muslim Prof. DR. H.M.
Amien Rais, MA berhasil menggulingkan pemerintahan orde baru dengan mundurnya
presiden Suharto pada 21 Mei 1998. Sejak itu mulailah komunitas Islam bangkit
dengan dibentuknya poros tengah dan berhasil mengangkat tokoh – tokoh Islam
panggung politik menguasai pemerintahan Indonesia. Amien rais menjadi ketua
MPR, Akbar Tanjung menjadi ketua DPR dan K.H. Abdur Rahman Wahid sebagai
presiden RI. Dengan hadirnya tokoh – tokoh Islam itu membuka kran politik
Indonesia semakin cair, keterbukaan, demokrasi langsung, penegakan ham dan lain
– lainnya. Peradaban Islam semakin maju dengan ditandainya ormas – ormas islam
semakin banyak dan berkualitas. Ormas – ormas Islam bisa mengembangkan dirinya,
kembali ke asas Islam dan tidak terkekang ke salah satu asas saja.
Pada
masa Orde Baru (Orba), perkembangan umat Islam di Indonesia kurang begitu
menggembirakan dikarenakan tekanan dari penguasa yang menghalangi laju
pergerakan dan kebangkitan umat Islam. Setelah rezim Orba jatuh (Reformasi
1998), umat Islam lebih bebas untuk bergerak dalam berbagai
hal,Golongan-golongan tersebut secara jelas tampak pada berbagai organisasi
sosial, politik dan kemasyarakatan.
Namun
sampai sekarang pemasalahan umat Islam tidak berhenti begitu saja. Berbagai isu
yang berkembang di kalangan umat Islam tidak jarang membawa perpecahan antar
saudara seakidah. Pemerintah memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur
pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada
gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf
lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian
untuk mengeksplorasi Islam.
Baru-baru
ini muncul istilah Islamfobia dalam kehidupan masyarakat, ketakutan terhadap
Islam. Yang mengherankan, di beberapa kalangan umat Islam sendiri terjadi
ketakutan akan adanya penerapan syariat Islam. Beberapa Peraturan Daerah
(Perda) yang belum lama ini ditetapkan, di antaranya mengenai Pencegahan dan
Pemberantasan Maksiat (Prov. Sumbar, Kab. Padang Pariaman), Pendidikan
Al-Qur’an bagi Pelajar dan Calon Pengantin (Kab. Solok, Kota Padang, Prov.
Sulsel, Kab. Maros,) Pemakaian Busana Muslimah (Kab. Solok, Kota Padang,
Pasaman Barat, Kab. Gowa, Kab. Sinjai), Larangan Pelacuran (Kab. Gresik,
Jember, Tangerang), Peredaran Minuman Keras (Gresik, Pamekasan); (Republika,
17/06/2006) membuat sebagian pihak menuding adanya upaya Islamisasi
undang-undang dan peraturan. Harian Republika (17/5/2006) memberitakan protes
yang dilakukan oleh salah satu anggota DPR dari Partai Damai Sejahtera (PDS),
Konstan Ponggawa, terhadap pemberlakuan sejumlah perda yang bernuansa Syariat Islam.
Ia menilai perda-perda seperti itu inkonstitusional dan bertentangan dengan
komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal perda-perda tersebut tidak
ada yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45 sebagai landasan Ideal dan
landasan Konstitusional negara.Semua Ini membutuhkan kesadaran semua masyarakat
Indonesia untuk mewujudkan Toleransi terhadap sesama,
G.
Peradaban
Islam Masa Modern(1800 M)
Periode ini
merupakan zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di mesir yang
berakhir pada tahun 1801 M, membuka mata dunia islam terutama Turki dan Mesir,
akan kemunduran dan kelemahan umat islam di samping kemajuan dan kekuatan barat
. Raja dan pemuka – pemuka islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk
menegembalikan balance of power , yang telah pincang dan membahayakan islam.
Kontak islam
dengan barat sekarang berlainan sekali dengan kontak islam barat periodde
klasik. Sekarang islam sedang dalam kegelapan dan barat sedang menaik.
Kini islam ingin belajar dari barat.
Dengan demikian
timbulah apa yang dimaksud pemikiran dan aliran pembaharuan atau
modernisasi dalam islam.Pemuka – pemuka islam mulai memikirkan bagaimana
caranya membuat islam lebih maju. Ide- ide baru yang diperkenalkan Naopleon
dimesir adalah : Pertama, sistem negara republik yang kepala negaranya di pilih
untuk jangka waktu tertentu, kedua persamaan dan terakhir kebangsaan.
Sejarah
Peradaban Islam yaitu kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang di hasilkan
dalam satu periode kekuasaan islam mulai dari periode nabi Muhammad Saw sampai
perkembangan kekuasaan islam sekarang. Penemuan Masaru Emoto dari Universitas
Yokohama, menemukan bukti bahwa air memiliki kehidupan dan bisa merespon atas
rangsangan yang diberikan padanya. Hal ini merupakan bukti dari ayat Al Qur’an,
Al Anbiya : 30
Artinya :Dan
Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka
tiada juga beriman?
“Dan ini
menunjukkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber sejarah perkembangan islam sebagai
ilmu pengetahuan.
Ilmu
pengetahuan adalah sumber kejayaan dan kemuliaan sebuah umat. Tanpa memiliki
ilmu pengetahuan, maka sebuah umat akan hidup dalam sebuah masa yang dipenuhi
kegelapan tanpa ada perkembangan dalam kehidupannya.Bahkan banyak sejarawan
barat yang mengakui tentang sejarah peradaban Islam sebagai ilmu pengetahuan.
Timbulah
gerakan pembaharuan yang dilakaukan diberbagai negara, terutama Turki Utsmani
dan Mesir. Para pembaharu di Turki melahirkan berbagai aliran pembaharuan
: Utsmani Muda yang dipelapori oleh Ziya Pasya ( 1825- 1880 M ) Dan Namik Kemal
( 1840 -1888 M ), Turki Muda yang dimotori oleh Ahmed Reza ( 1859
-1931 ), Mehmed ( 1853 -1912 M ), dan Sabahudin ( 1877-1948 M ).
Disamping itu
juga ada pembaharu lain, yaitu aliran barat yang dimotori oleh Twfik Fikret (
1867-1951 M ), Aliran islam yang dimotori oleh Mehmed Akif ( 1870-
1936 M ), Dan aliran – aliran nasionalis yang dimotori oleh Zia Gokalp (
1875-1924 M ). Di Mesir, pembaharuan digagas oleh para pembaharu, diantaranya
Rifa’ah Badawi Rafi’ Ath -Thahthawi ( 1801 -1873 ),Jamaludi Afgani ( 1839 -1897
), Mukhamad Abduh ( 1849 – 1905 )dan Rasyid Ridha ( 1865-1935 )
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sejarah berasal dari
bahasa arab “syajaratun” , artinya pohon. Secara sistematik, sejarah sama
seperti pohon yang mempunyai cabang dan ranting, bermula dari bibit, kemudian
tumbuh dan berkembang, lalu layu dan tumbang. Sejarah dalam dunia barat disebut
“histoire” (Perancis), historie ( Belanda ), dan history ( Inggris ), berasal
dari Yunani, istoria yang berarti ilmu.
Sedangkan Periodisasi
peradaban Islam merupakan ciri bagi ilmu sejarah yang mengkaji peristiwa dalam
konteks waktu dan tempat dengan tolak ukur yang bermacam-macam. Menurut Prof.
Dr. H.N. Shiddiqi, ada beberapa pendapat lain yaitu tolak ukurnya adalah sistem
politik, hal ini biasanya digunakan pada sejarah konvensional. Tolak ukurnya
pada persoalan ekonomi (maju mundurnya ekonomi) dalam sebuh negara. Peradaban
dan kebudayaan suatu bangsa adalah pada masuk dan berkembangnya suatu
agama.
Jadi, periodisasi
peradaban islam adalah ilmu sejarah atau pembabakan sejarah yang mengkaji perkembangan
peradaban Islam dalam konteks dan tempat dengan tolak ukur tertentu.
Fase kenabian Nabi
Muhammad dimulai ketika beliau bertahannus atau menyepi di Gua Hira, sebagai
imbas keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa Arab yang menyembah berhala.
Di tempat inilah beliau menerima wahyu yang pertama, yang berupa surat Al-‘Alaq
1-5. Dengan wahyu yang pertama ini, maka beliau telah diangkat menjadi Nabi,
utusan Allah.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah, A. (1996). Studi Agama
Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ampel, M. I. (2011). Pengantar Studi
Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.
Mudzar, A. (1998). Pendekatan Studi
Islam dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: pustaka Pelajar.
Nata, A. (2003). Metodologi Studi Islam.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
S.J, F. (2008). Pasang Surut Peradaban
Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: UIN-Malang Press.
Supriyadi, D. (2008,cet X). Sejarah
Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Yatim, B. (2008). Sejarah Peradaban
Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.